Hikmah Sakit, Belajar dari Nabi Ayub

Oleh: Ali Farkhan Tsani, Khatib Pesantren Al-Fatah Bogor, Redaktur Senior Mi’raj News Agency (MINA)

 

Allah menguji manusia dalam kehidupannya, baik dengan perkara yang tidak disukainya atau bisa pula pada perkara yang menyenangkannya.

Allah menyebutkan di dalam firman-Nya:

 كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

Artinya: “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan mengujimu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan.” (QS. al-Anbiyaa’: 35).

Sahabat Nabi, Abdullah bin ‘Abbas menjelaskan tentang ayat ini, bahwa Allah akan menguji manusia dengan kesulitan dan kesenangan, kesehatan dan penyakit, kekayaan dan kefakiran, halal dan haram, ketaatan dan kemaksiatan, petunjuk dan kesesatan.

Berbagai macam penyakit juga merupakan bagian dari cobaan Allah yang diberikan kepada hamba-Nya. Namun di balik cobaan ini, terdapat berbagai hikmah bagi manusia.

Namun, separah sakit apapun manusia, tidak ada yang melebihi sakitnya Nabi Ayyub ‘Alaihis Salam. Suatu penyakit yang belum pernah terjadi sebelumnya pada seseorang dan tidak akan menimpa sesudahnya. Bahkan ujian yang Allah berikan kepada Nabi Ayub sungguh luar biasa.

Allah menguji Nabi Ayub dengan musibah yang menimpa harta bendanya, anak-anaknya, dan  juga tubuhnya.

Sebelum sakit, Nabi Ayub adalah seorang kaya yang memiliki banyak ternak dan lahan pertanian. Ia pun memiliki banyak anak serta tempat-tempat tinggal yang menyenangkan. Anaknya ada 12, laki-laki semuanya.

Awalnya Allah menguji Ayub dengan menimpakan bencana kepada semua miliknya itu, semua perniagaannya, pertanian dan petenakannya, lenyap tiada tersisa, karena dilanda bencana. Syaitan membujuknya untuk menjauhi Allah, tapi Nabi Ayyub justru semakin ibadah kepada Allah.

Ujian berikutnya, rumahnya tiba-tiba runtuh hancur, dan menimpa anak-anaknya. Semua anak-anaknya yang 12 orang mati di hadapan Nabi Ayub. Syaitan pun kembali menggodanya agar tidak lagi mentaati Allah. Namun justru semakin taat beribadah.

Kemudian cobaan ditimpakan pula kepada tubuh Nabi Ayub sendiri. Menurut suatu pendapat, penyakit yang menimpanya adalah penyakit lepra yang mengenai sekujur tubuhnya. Sehingga tiada suatu bagian pun dari anggota tubuhnya yang selamat dari penyakit ini, kecuali hati dan lisannya yang selalu berdzikir mengingat Allah.

Cobaan ini membuat orang-orang tidak mau berdekatan dengan Nabi Ayub. Maka Nabi Ayub pun tinggal di tempat terpencil menyendiri di pinggir kota tempat tinggalnya. Tiada seorang manusia pun yang mau datang kepadanya, selain dari istrinya yang setia merawatnya dan mengurusi keperluannya.

Menurut suatu keterangan, istri Nabi Ayub smpai bekerja menjadi pelayan di tempat orang lain yang hasilnya ia gunakan untuk keperluan suaminya.

Dalam ujian bertubi-tubi seperti itu, Nabi Ayub tetap memuji Allah, “Aku memuji-Mu, wahai Tuhan semua makhluk. Engkau telah memberiku dengan pemberian yang baik, Engkau telah memberiku harta benda dan anak, sehingga tiada suatu ruang pun dalam kalbuku melainkan disibukkan olehnya. Lalu Engkau mengambil kesemuanya dariku dan Engkau kosongkan hatiku, sehingga tiada sesuatu pun yang menghalang-halangi antara aku dan Engkau (untuk berzikir mengingat-Mu). Seandainya musuhku si iblis itu mengetahui apa yang aku perbuat, tentulah dia akan dengki kepadaku.” Mendengar hal tersebut,maka iblis menjadi marah.

Menurut suatu riwayat, Nabi Ayub mengalami cobaan ini dalam masa yang sangat lama. Ada yang menyebutkan, tujuh tahun lebih beberapa bulan, dalam keadaan terbaring di tempat pembuangan sampah kaum Bani Israil.

Setelah sakit Nabi Ayub cukup lama, istrinya berkata kepadanya, “Wahai Nabi Ayub, sekiranya engkau berdoa kepada Tuhanmu untuk kesembuhanmu, tentu Dia akan melenyapkan penyakitmu ini.” Namun, Nabi Ayub menjawab, “Saya telah menjalani masa hidup selama tujuh puluh tahun dalam keadaan sehat. Masa sakit itu sebentar, maka sudah sepantasnya bagiku bersabar demi karena Allah selama tujuh puluh tahun.”

Istri Ayub bekerja pada orang-orang dengan memperoleh imbalan upah, kemudian ia datang kepada Ayub seraya membawa hasil dari kerjanya, lalu ia memberi makan Ayub.

Dalam keadaan seperti itu, kemudian Iblis datang kepada istri Nabi Ayub dalam rupa seorang tabib. Iblis berkata kepadanya, “Sesungguhnya suamimu menderita sakit yang cukup lama. Jika ia menginginkan sembuh dari sakitnya, hendaklah ia menangkap seekor lalat, lalu menyembelihnya dengan menyebut nama berhala Bani Fulan. Sesungguhnya ia akan sembuh dari penyakitnya, kemudian dapat melakukan tobat sesudahnya.”

Istri Nabi Ayub menyampaikan apa yang dipesankan oleh iblis itu kepada suaminya. Maka Ayub menjawab.”Sesungguhnya engkau telah kedatangan makhluk jahat. Demi Allah, seandainya aku telah sembuh dari sakitku ini, aku akan menderamu sebanyak seratus kali pukulan.”

Istri Ayub pergi untuk mencari nafkah buat suaminya, tetapi rezekinya terhalang, berkali-kali ia mendatangi rumah suatu keluarga untuk menawarkan jasa pelayanannya, melainkan mereka menolaknya. Setelah bersusah payah mencari rezeki, tetapi tidak berhasil juga, ia merasa khawatir suaminya Ayub akan kelaparan, maka ia terpaksa mencukur salah satu kepangan rambutnya, lalu menjualnya kepada seorang anak perempuan dari keluarga orang yang terhormat lagi kaya.

Maka mereka memberikan imbalan kepadanya berupa makanan yang baik-baik lagi berjumlah banyak. Istri Nabi Ayub membawa makanan itu kepada suaminya. Ketika Nabi Ayub melihat makanan itu, ia merasa curiga, lalu bertanya kepada istrinya, “Dari manakah kamu dapatkan makanan ini?” Istrinya menjawab, “Saya bekerja kepada orang lain dan mereka memberikan makanan ini sebagai imbalannya,” lalu Nabi Ayub mau memakannya.

Pada keesokan harinya istri Nabi Ayub keluar lagi untuk mencari pekerjaan, tetapi ia tidak mendapat pekerjaan, hingga terpaksa memotong lagi kepangan rambutnya yang masih tersisa, lalu menjualnya kepada anak perempuan yang sama. Keluarga anak itu memberinya makanan sebagai pembayarannya, sama dengan makanan yang kemarin.

Istri Nabi Ayub membawa makanan kepada suaminya, maka Nabi Ayub bertanya, “Demi Allah, aku tidak mau memakannya sebelum aku ketahui dari manakah makanan ini didapat.” Maka istri Ayub membuka kerudung yang menutupi kepala­nya. Ketika Nabi Ayub melihat rambut istrinya dicukur, ia sangat terpukul dan merasa sedih yang amat sangat.

Doa Nabi Ayub

Demi melihat pengorbanan istrinya, maka Nabi Ayub pun akhirnya berdoa kepada Allah, seperti disebutkan dalam firman-Nya:

وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُۥٓ أَنِّى مَسَّنِىَ ٱلضُّرُّ وَأَنتَ أَرْحَمُ ٱلرَّٰحِمِينَ

Artinya: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.” (QS Al-Anbiya/21: 83).

Lalu, Allah pun mengabulkannya, seperti disebutkan pada ayat selanjutya:

 فَٱسْتَجَبْنَا لَهُۥ فَكَشَفْنَا مَا بِهِۦ مِن ضُرٍّ ۖ وَءَاتَيْنَٰهُ أَهْلَهُۥ وَمِثْلَهُم مَّعَهُمْ رَحْمَةً مِّنْ عِندِنَا وَذِكْرَىٰ لِلْعَٰبِدِينَ

Artinya: “Maka Kamipun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipatgandakan bilangan mereka sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah.” (QS Al-Anbiya/21: 84).

Allah menyembuhkan Nabi Ayub melalui mata air yang sejuk untuk mandi dan untuk diminumnya. Seperti disebutkan di dalam ayat:

ارْكُضْ بِرِجْلِكَ ۖ هَٰذَا مُغْتَسَلٌ بَارِدٌ وَشَرَابٌ

Artinya: “Hentakkanlah kakimu, inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum”. (QS Shad: 42).

Dalam masa penyembuhannya, tiba-tiba datang seekor belalang dari emas jatuh di hadapan Nabi Ayub, lalu ia pun mengeruknya ke dalam bajunya.

Lalu Allah mengatakan kepada Nabi Ayub, “Wahai Ayyub, sesungguhnya keluargamu di surga. Jika engkau mau, Kami dapat mendatangkan mereka kepadamu, dan jika engkau mau, Kami biarkan mereka di surga dan Kami menggantikan untukmu yang serupa dengan mereka.” Nabi Ayyub menjawab, “Tidak perlu Engkau bawa kepadaku, aku biarkan mereka di surga.”

Maka betullah, setelah sehat pulih seperti sedia kala, bahkan lebih baik lagi. Ia pun kembali ke kaumnya. Warga pun senang, dan sebagai hadiah masing-masing memberikan apa yang mereka miliki untuk Nabi Ayub. Demikian pula, istrinya kemudian mengandung dan melahirkan hampir setiap tahun, kembar-kembar. Hingga jumlahnya menapai 24 anak, atau dua kali lipat dari sebelumnya, 12 anak.

Penutup

Tentu banyak hikmah yang bisa dipetik dari kisah Nabi Ayub tersebut. Di antaranya, tetap sabar dan istiamah dalam memperibadati Allah walau dalam keadaan sakit, berbaik sangka (husnudzan), tidak putus asa, dan selalu munajat kepada Allah.

Itu semua tentu “sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah.” (QS Al-Anbiya/21: 84).

Semoga kita dapat mengambil hikmahnya. Aamiin. (A/RS2/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)