Hubungan Antara Puasa Ramadhan dan Takwa

Oleh: Ali Farkhan Tsani, Redaktur Senior MINA, Pengasuh Ma’had Nurut Jannah Pandeglang (Manjada) Banten

Kewajiban puasa Ramadhan memiliki kaitan yang erat dengan takwa. Puasa Ramadhan yang dilaksanakan dengan baik dan benar, akan menghasilkan derajat takwa di sisi Allah Ta’ala.

Sebagaimana firman-Nya:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertaqwa”.

Sungguh, Allah telah memperhitungkan bahwa mereka yang bersedia memikul perintah-Nya untuk menjalankan puasa Ramadhan hanyalah orang-orang yang beriman kepada-Nya. Sebab, ibadah puasa Ramadhan memang adalah suatu perintah yang membutuhkan pengorbanan kesenangan diri dan kebiasaan setiap hari. Ibadah puasa ini juga adalah suatu perintah yang memerlukan keshabaran dari titik nol sahur dini hari hingga berbuka di senja hari.

Maka, harapan terbesarnya adalah teraihnya gelar takwa dengan ibadah puasa Ramadhan sebulan penuh.

Di dalam ayat yang mulia ini, Allah menjelaskan bahwa puasa Ramadhan disyariatkan kepada hamba-hamba-Nya adalah untuk meningkatkan dan menyempurnakan ketakwaan mereka. Takwa merupakan kedudukan yang mencakup seluruh kebaikan.

Karena itu, pada bulan puasa Ramadhan orang-orang beriman diberi kemudahan untuk berbuat ketaatan dan kebaikan. Hal ini tampak nyata di bulan Ramadhan. Orang-orang yang di luar bulan Ramadhan malas dan merasa berat beribadah, maka ketika bulan Ramadhan mereka berlomba-lomba untuk beribadah sebanyak mungkin. Masjid-masjid penuh pada ibadah shalat tarawih. Tadarusan, ngaji Quran, khatam minimal satu kali dalam sebulan. Zakat, infaq, sedekah semakin gemar, dst.

Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar dalam Kitab Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir (Universitas Islam Madinah), menjelaskan tentang ayat ini, bahwa Ramadhan merupakan madrasah taqwa. Hal itu karena puasa Ramadhan menjadi salah satu hal yang paling agung untuk mewujudkan ketaqwaan dalam diri seorang hamba.

Gelar takwa ini sangat bergengsi, berharga dan terbaik di sisi Allah. Sebagaimana firman-Nya :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Artinya: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS Al-Hujurat [49]: 13).

Takwa juga merupakan sebaik-baik bekal menghadap Allah, seperti disebutkan di dalam firman-Nya:

…..وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَاأُوْلِي اْلأَلْبَا

Artinya: “…..Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa, dan bertaqwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal”. (Q.S. Al-Baqarah [2]: 197).

Begitulah, dengan takwa pula harta menjadi barakah, ilmu menjadi manfaat, hidup menjadi bermakna, berbobot dan berkualitas. Dengan takwa niscaya Allah akan mengadakan baginya jalan ke luar, dan dengan takwa Allah akan memberikan rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya

Sebaliknya, tanpa takwa, isteri, suami dan anak yang kita cintai bisa berubah menjadi fitnah dan musuh, harta yang kita miliki dapat menjadi malapetaka. Sementara pekerjaan, pangkat, dan kedudukan yang kita punyai berubah menjadi beban dosa. Di hadapan Allah tidak ada gunanya, bahkan menjadi penyesalan yang berkepanjangan. Akibat menggadaikan takwa dengan dosa, melepas taqwa diganti dengan kemaksiatan. Na’udzubillahi min dzalik.

Semoga kita dapat meraih gelar takwa sebagai hasil puasa Ramadhan yang akan atau sedang kita jalani. Aamiin yaa Robbal ‘Aalamiin. (A/RS2/RS3)

Mi’raj News Agency (MINA)