DI puing-puing reruntuhan rumah yang dulu menjadi saksi tawa dan doa keluarga, Ahmad Abdul Jalil menatap ke langit sore dengan mata yang masih menyimpan harap. Hujan panjang dan longsor yang menghantam Desa Manggale pada akhir bulan November 2025 lalu telah merubah rumahnya menjadi puing. Semuanya hancur dan hilang, yang tersisa tinggallah cerita dan kenangan.
Ahmad bersama keluarganya kini tinggal bersama dengan warga lain yang terdampak longsor. Mereka hidup dari bantuan relawan, menunggu janji hunian sementara (huntara) dari pemerintah yang disebut-sebut akan bisa dihuni saat bulan Ramadhan. Meskipun hari sudah memasuki ke-10 Ramadhan, warga tetap bersabar, menunggu dengan penuh harapan.
Ketika longsor terjadi, kepanikan menyelimuti warga desa. Anak-anak menangis, orang tua berteriak memanggil keluarga, dan Ahmad harus menyelematkan anggota keluarganya yang terpisah.
Suasana berubah dalam sekejap ketika longsor dengan tiba-tiba menerjang kawasan permukiman warga. Tempat itu tak lagi aman bagi warga. Mereka berlarian, berjuang mempertahankan hidup untuk diri dan keluarganya. Tak ada barang berharga yang dibawa, hanya nyawa dan keberanian yang mereka bawa.
Baca Juga: Membangun Kembali Universitas Harus Jadi Prioritas di Gaza
Kini, di tanah lapang bekas rumah mereka, warga bergantian menata tenda, berbagi makanan, dan saling menguatkan. Ahmad sering terlihat menatap sisa fondasi rumahnya, mengenang masa-masa sebelum bencana datang. Di balik debu dan puing, tumbuh ketabahan yang tak mudah digambarkan.
Desa Manggale adalah salah satu desa dari 20 desa di Kecamatan Kebayakan, Aceh Tengah yang mengalami dampak longsor cukup signifikan. Daerah perbukitan itu memang rawan longsor pada musim hujan karena curah hujan tinggi dan kondisi tanah yang labil, sehingga setiap hujan deras membawa was-was bagi warga.
Meskipun rumah-rumah rusak parah, warga tetap memandang ke depan dengan optimisme. Setiap pagi, Ahmad dan tetangganya membersihkan sisa-sisa puing, menyiapkan tenda bagi keluarga lain, dan membangun kembali semangat satu sama lain. Harapan mereka sederhana: bisa memiliki hunian sementara yang layak, setidaknya untuk melanjutkan kehidupan sehari-hari hingga rumah baru siap dibangun.
Relawan lokal dan organisasi kemanusiaan sering hadir, membawa bantuan logistik, obat-obatan, dan makanan hangat. Kehadiran mereka menjadi penguat bagi warga yang tak hanya kehilangan rumah, tapi juga rasa aman.
Baca Juga: Di Atas Afrika, Palestina Berkibar: Kisah Delapan Pendaki yang Menjawab Dunia dari Puncak Uhuru
“Bantuan mereka mengingatkan kami, meski bencana datang, masih ada harapan yang nyata,” ujar Ahmad.
Anak-anak yang kehilangan ruang bermain kini memanfaatkan tanah lapang sebagai arena sementara. Tawa mereka, meski terbungkus debu, menjadi simbol kecil dari keteguhan warga. Mereka belajar bahwa rumah bukan sekadar dinding dan atap, tapi tempat di mana keluarga tetap bersama.
Warga lainnya, seperti ibu-ibu yang duduk menganyam tikar darurat, tetap memandang masa depan dengan sabar. Mereka menggali sisa-sisa harta, menyiapkan makanan, dan menguatkan satu sama lain. Setiap senyum yang muncul menjadi penanda bahwa harapan tetap hidup.
Ahmad sering berkeliling desa, mengecek tenda warga lain, memastikan semua mendapat tempat untuk tidur malam itu. “Kami tidak tahu kapan huntara itu datang, tapi kami percaya ada jalan dan waktu yang tepat,” katanya. Kata-kata itu menjadi doa kolektif warga, menegaskan bahwa kesabaran menjadi kekuatan mereka.
Baca Juga: Ini Canda Rasulullah SAW yang Bisa Kamu Tiru
Meskipun hujan dan malam yang dingin kerap datang, warga saling menjaga satu sama lain. Tenda-tenda darurat mungkin tak ideal, tapi setiap perlindungan kecil memberi rasa aman yang berharga. Bagi mereka, ini bukan sekadar bertahan; ini adalah bukti kekuatan manusia menghadapi ketidakpastian.
Di sisi lain, komunikasi dengan pemerintah terus dijaga. Warga menerima informasi terbaru melalui pejabat terkait, katanya masih menunggu petunjuk kapan huntara dapat segera dibangun.
Kehidupan di Desa Manggale saat ini menjadi perpaduan antara kesedihan, kerja keras, dan harapan. Puing rumah, tenda seadanya, dan anak-anak yang tetap bermain menjadi saksi bisu perjuangan warga untuk tetap tegar.
Senja di Manggale kini bukan lagi hanya soal malam yang datang, tapi juga harapan yang terus ditunggu. Ahmad dan warga lainnya menatap langit, berdoa, dan bersabar, menunggu huntara yang semoga menjadi tanda awal kehidupan baru.
Baca Juga: Negeri Ini Tidak Miskin, Tapi Dikhianati
Dan ketika malam tiba, di antara suara angin dan gemuruh hujan yang masih rintik, tersimpan keyakinan sederhana: bahwa di balik puing dan duka, harapan untuk kembali membangun rumah yang layak tinggal terus dipelihara. Mudah-mudahan suatu hari nanti, janji itu terealisasi. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Tragedi Pantai Bondi: dari Ceceran Darah hingga Bersinarnya Cahaya Kemanusiaan
















Mina Indonesia
Mina Arabic