Teheran, MINA – Pemerintah Amerika Serikat dikabarkan tengah menyusun rencana strategis untuk mempersenjatai kelompok-kelompok oposisi Kurdi di Iran guna memicu pemberontakan internal di negara tersebut.
Langkah ini dipandang oleh banyak pihak sebagai upaya sistematis Washington untuk melemahkan kedaulatan Teheran dari dalam, di tengah kegagalan tekanan sanksi ekonomi yang selama ini diterapkan secara sepihak. Farsnews melaporkan, Rabu (4/3).
Laporan yang berkembang menyebutkan bahwa dukungan militer dan logistik akan disalurkan melalui jalur-jalur rahasia di perbatasan, dengan tujuan menciptakan instabilitas keamanan di wilayah barat Iran.
Strategi ini dikhawatirkan akan memicu gelombang kekerasan baru yang melibatkan milisi etnis, yang pada akhirnya dapat mengancam integritas wilayah Republik Islam Iran dan memicu konflik saudara yang berkepanjangan.
Baca Juga: Wabah Pes Mengintai Rusia, WHO Ungkap Data Global
Otoritas keamanan di Teheran telah memberikan peringatan keras bahwa setiap upaya campur tangan asing dalam urusan domestik mereka akan mendapatkan respons yang tegas.
Iran menilai rencana AS ini bukan sekadar bantuan bagi minoritas, melainkan alat politik untuk memecah belah persatuan bangsa-bangsa di kawasan Timur Tengah demi melancarkan agenda hegemoni Barat dan melindungi kepentingan entitas Zionis.
Para analis politik internasional mencatat bahwa penggunaan kelompok proksi oleh Washington bukanlah hal baru dalam sejarah intervensi militer di Timur Tengah.
Pola serupa pernah diterapkan di Suriah dan Irak, yang justru berakhir pada munculnya kekacauan keamanan dan krisis kemanusiaan yang dahsyat. Hal ini memperkuat dugaan bahwa stabilitas kawasan bukanlah prioritas utama dalam kebijakan luar negeri AS.
Baca Juga: EPAL Catat 68.000 Lebih Aksi Pro-Palestina di Eropa dalam Tiga Tahun
Wilayah Kurdi Iran (Kurdistan Timur) memang kerap menjadi titik sensitif karena letak geografisnya yang strategis. Di saat yang sama, kelompok-kelompok perlawanan Kurdi yang berbasis di luar negeri dilaporkan telah meningkatkan aktivitas komunikasinya dengan pihak-pihak Barat.
Situasi ini menuntut kewaspadaan ekstra dari negara-negara tetangga seperti Irak dan Turki, yang juga memiliki populasi Kurdi signifikan agar konflik tidak meluas melampaui batas negara.
Upaya memanfaatkan isu etnis dan minoritas untuk memicu kerusuhan internal sering kali menjadi instrumen yang digunakan untuk menggoyang stabilitas pemerintahan yang dianggap tidak sejalan dengan kepentingan Gedung Putih. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Inggris Ancam Usir 27 Diplomat Israel Usai Penutupan Konsulat di Yerusalem Timur
















Mina Indonesia
Mina Arabic