Iman Khatib-Yasin, Anggota Knesset Israel Pertama yang Berjilbab

Iman Khatib-Yasin (kanan), wanita Arab berjilbab pertama yang menjadi anggota Knesset Israel. (Foto: Gili Yaari/Flash90/via Zman)

Dalam pemilihan umum di Israel, April 2020 lalu, terpilih seorang wanita Arab pertama yang mengenakan hijab, sebagai anggota Knesset (Parlemen) dari blok Joint List.

Namanya Iman Khatib-Yasin, 54 tahun, ibu empat anak, dari Gerakan Islam Selatan. Berasal dari Nazareth, Galiliea. Kini ia menjadi salah seorang dari 25 anggota wanita Knesset, dari keseluruhan anggota sebanyak 120 orang.

Setelah aktif dalam politik lokal untuk beberapa waktu sebagai manajer sebuah pusat komunitas, Iman Khatib-Yasin telah terang-terangan berbicara tentang perjuangan untuk kesetaraan agama dan gender dalam perjuangan untuk hak-hak orang Palestina di Israel.

“Secara pribadi, urusan wanita selalu menarik minat saya. Bahkan sebagai pekerja sosial, fokus saya adalah pada wanita,” katanya. “Melalui pekerjaan saya sebagai direktur pusat komunitas, saya bekerja dengan kelompok pemimpin perempuan yang mencoba melibatkan mereka dalam peran kepemimpinan. Pada satu titik waktu, saya berpikir untuk menjadi walikota, tetapi kami belum sampai ke sana.”

Khatib memperoleh gelar sarjana di Universitas Haifa dalam pekerjaan sosial dan gelar master di Universitas Tel Aviv dalam urusan wanita.

Di parlemen, ia berharap bisa menangani berbagai masalah mulai dari kekerasan di lingkungan orang Arab hingga kemiskinan dan perumahan di Israel, di mana keluhan tentang diskriminasi terhadap orang Arab sudah dianggap sebagai hal biasa.

“Ini adalah masalah yang dekat dengan hati saya dan apa yang mendorong saya ke bidang ini. Namun, saya juga berpikir bahwa sebagai minoritas di bidang ini, kita harus mengatasi masalah utama dan masalah sulit kita, seperti diskriminasi berdasarkan ras dan etnis, kesetaraan dalam anggaran, tanah dan perumahan, pembongkaran rumah, dan Hukum Negara Bangsa, hal-hal yang hari ini berlalu  menyedihkan bagi kami.”

Hukum Negara Bangsa Israel itu yang mulai berlaku pada 2018  menyatakan, “Israel sebagai negara Yahudi dan menurunkan status Arab menjadi status sekunder sebagai bahasa nasional.” Ini memicu kemarahan di antara orang Arab Palestina dan minoritas lainnya.

Dia mengatakan, tujuannya menjado anggota Knesset dari etnis Arab adalah untuk mencoba mengamankan hak kewarganegaraan yang lengkap dan setara untuk semua warga negara, yang sekarang masih “di luar jangkauan penuh”.

“Kami tahu bahwa kami tidak memiliki kemampuan besar untuk menghadapi ini, terutama karena mayoritas masyarakat Israel saat ini adalah rasis dan sayap kanan, tetapi kami tidak dapat meninggalkan masalah ini karena ini adalah masalah inti yang mempengaruhi kehidupan kita sehari-hari,” katanya.

Iman Khatib-Yasin (tengan) berkampanye untuk Joint List sebelum pemilu April 2020. (Foto: Ra’am/via Zman)

Islamofobia yang telah ada di Israel selama beberapa dekade, hanyalah bagian dari latar belakang kebencian terhadap orang Arab di masa kini, yang juga pada akhirnya memengaruhi persepsi terhadap wanita yang mengenakan jilbab.

Sejak Perdana Menteri Benjamin Netanyahu pertama kali berkuasa pada tahun 1996 ia telah merendahkan politisi Arab dengan menyebutnya sebagai “pendukung terorisme”, yang ia gunakan  sebagai alat politik untuk mendapatkan dukungan

Namun, iklim kebencian tidak pernah mengecilkan hati Khatib dalam mengejar ambisinya dan membuat perbedaan dalam lanskap politik Israel.

Khatib mencatat, perempuan yang berambisi dalam politik diperlakukan secara berbeda dan dapat dibatasi dalam partisipasi pemilihan, tetapi ini lebih disebabkan oleh praktik budaya identitas yang ketat daripada agama.

“Ada diskriminasi dari masyarakat,” jelas anggota parlemen itu.

Dia ingat ketika dia pertama kali masuk bersaing dalam pemilihan, orang mencoba mencegahnya masuk politik dengan komentar seperti “politik bukan tempat bagi wanita”.

“Wanita akan mendatangi saya untuk mengatakan politik adalah tempat yang tidak benar-benar cocok atau bersih, dan bahwa kekuasaan ini seharusnya hanya ada di tangan laki-laki. Namun, ini berlaku untuk sejumlah kecil orang. Saya benar-benar mengatakan bahwa ada banyak suara bagi Joint List karena orang-orang percaya bahwa seorang wanita jilbab harus ada dalam List,” katanya.

Melawan penilaian publik bukanlah hal baru bagi Khatib, seorang wanita pertama dan berjilbab dari Gerakan Islam Selatan yang terpilih menjadi anggota Knesset, dia tahu apa yang diharapkan dari kerasnya kampanye.

Dia yakin kehadirannya di panggung politik yang didominasi pria Israel menciptakan ruang yang sangat dibutuhkan wanita. Saat ini hanya 25 persen anggota parlemen di Israel yang perempuan.

Sebagai ibu 54 tahun dari empat anak berasal dari desa Yaffa di Nazareth, Galilea, dia menginginkan perubahan untuk generasi berikutnya.

“Saya ingin anak perempuan saya, dan anak perempuan orang lain, berada di tempat yang aman. Saya ingin tembok-tembok itu diruntuhkan dan pintu-pintunya terbuka untuk mereka, dan menghadapi lebih sedikit tantangan, dan itu bukan tidak mungkin,” katanya.

Khatib telah menggunakan Knesset untuk menunjukkan keahliannya dengan membantu komunitasnya menghadapi pandemi virus corona.

Setelah menghabiskan 14 tahun mengelola pusat komunitas pertama di wilayahnya, Khatib memiliki wawasan tentang urusan apa yang paling penting bagi penduduk setempat.

Di saat Netanyahu dan Kementerian Kesehatan memusatkan perhatian mereka pada komunitas yang didominasi Yahudi, anggota Joint List menekan dan memaksa pemerintah untuk mengambil tindakan di daerah lain.

Awal bulan ini, pengangguran di Israel mencapai lebih dari satu juta untuk pertama kalinya. Khatib mengatakan, orang-orang Arab adalah sebagian besar dari mereka yang terkena dampak. Untuk membantu mereka, ia meminta agar pemerintah memberikan tunjangan anak kepada keluarga dan untuk sementara waktu menangguhkan pajak kota serta secara langsung mendanai keluarga untuk belanja hal-hal penting seperti utilitas dan makanan.

Khatib mengungkapkan, cita-cita berpikiran maju orangtuanya tentang cara membesarkan anak perempuan yang membantunya dalam karier.

“Saya selalu mengatakan bahwa jika ibu saya lahir di lain waktu, dia bisa menjadi perdana menteri. Dia kuat, mampu, dan reflektif,” katanya.

“Terlepas dari masa-masa sulit yang kami alami, bahkan setelah ayah saya meninggal, dia terus menyampaikan pesannya dan membesarkan rumah yang saleh dan berpendidikan. Hal terpenting yang mereka tanamkan dalam diri kami adalah keberanian, rasa hormat terhadap manusia, dan cinta akan tanah kami dan komitmen kami terhadapnya. Bagi kami, tanah kami sangat luas dan bisa cocok untuk semua orang, kami tidak akan pernah mengalah.” (AT/RI-1/P1)

 

Sumber: MEMO

 

Mi’raj News Agency (MINA)