Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Inggris dan Spanyol Ogah Dukung AS Serang Iran, Trump Jengkel

Widi Kusnadi Editor : Ali Farkhan Tsani - Rabu, 4 Maret 2026 - 17:11 WIB

Rabu, 4 Maret 2026 - 17:11 WIB

33 Views

Kapal perang AS di Teluk Persia terekam oleh pesawat nirawak IRGC Iran. (Gambar: tangkapan layar video IRGC)

Washington D.C, MINA – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump dilaporkan meluapkan kemarahannya terhadap dua sekutu utama NATO, Inggris dan Spanyol. Kekesalan ini dipicu oleh penolakan kedua negara tersebut untuk memberikan dukungan militer penuh dalam rencana serangan Amerika Serikat yang menargetkan wilayah Iran.

Dalam pernyataan terbarunya, Rabu (4/3) Trump menyebut sikap London dan Madrid sebagai pengkhianatan terhadap aliansi keamanan trans-atlantik. Al-Jazeera melaporkan.

Ia menegaskan bahwa tanpa dukungan logistik dan izin penggunaan pangkalan udara dari sekutu Eropa, efektivitas operasi militer AS di kawasan Teluk akan sangat terhambat. Trump menilai keengganan ini justru memberikan angin segar bagi Teheran untuk terus memperkuat posisi tawar mereka di panggung internasional.

Sikap Inggris dan Spanyol ini mencerminkan kekhawatiran mendalam di daratan Eropa akan pecahnya perang terbuka yang dapat memicu krisis energi dan gelombang pengungsi baru.

Baca Juga: Iran Tantang Invasi Darat, Tegaskan Siap Permalukan Pasukan AS

Otoritas di London menyatakan bahwa solusi diplomatik tetap menjadi prioritas utama untuk meredam ketegangan, sementara Spanyol secara tegas menolak terlibat dalam aksi militer yang tidak memiliki mandat jelas dari Dewan Keamanan PBB.

Para analis politik internasional mencatat bahwa keretakan di internal NATO semakin nyata ketika berhadapan dengan isu Iran. Sebagian besar negara Eropa masih berpegang pada semangat perjanjian nuklir (JCPOA) dan memandang kebijakan “tekanan maksimum” yang diusung Trump selama ini justru kontraproduktif bagi perdamaian regional.

Hal ini memperlihatkan adanya pergeseran paradigma di mana sekutu AS tidak lagi mau tunduk sepenuhnya pada agenda perang Washington.

Selain itu, ketegangan di Selat Hormuz, jalur vital bagi pasokan minyak dunia, menjadi faktor krusial yang dipertimbangkan oleh negara-negara Eropa.

Baca Juga: Dapat Senjata dari AS, Milisi Kurdi Mulai Operasi di Perbatasan Iran-Irak

Gangguan sedikit saja di jalur tersebut akan berdampak sistemik pada ekonomi global yang belum sepenuhnya pulih. Oleh karena itu, langkah Inggris dan Spanyol yang menarik diri dari rencana agresi ini dipandang sebagai upaya rasional untuk menjaga stabilitas pasar global dan menghindari eskalasi yang tak terkendali.

Trump secara konsisten mendorong penggunaan kekuatan militer sebagai instrumen utama dalam menekan pengaruh Teheran di Timur Tengah. Namun, sejarah intervensi militer AS di kawasan tersebut yang sering berakhir pada kekacauan jangka panjang membuat banyak sekutu Eropa kini lebih memilih jalur negosiasi daripada konfrontasi bersenjata. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Iran Tolak Dialog dengan AS, Sebut Diplomasi Tak Lagi Bisa Dipercaya

Rekomendasi untuk Anda