BANYAK orang mengenal Rasulullah SAW sebagai sosok yang ramah, hangat, dan gemar bercanda dengan para sahabatnya. Canda Rasulullah SAW bukanlah senda gurau kosong, apalagi yang melukai hati, tetapi canda yang jujur, mendidik, dan menguatkan ikatan kasih sayang.
Dari sinilah kita belajar bahwa Islam bukan agama yang kaku, melainkan agama yang memuliakan kebahagiaan selama tetap berada dalam koridor akhlak.
Para ulama telah menegaskan bahwa Rasulullah SAW memang bercanda. Imam at-Tirmidzi meriwayatkan sebuah bab khusus dalam Asy-Syamā’il an-Nabawiyyah tentang canda Rasulullah. Anas bin Malik ra. berkata: “Rasulullah SAW adalah orang yang paling sering bercanda dengan anak-anak dan keluarganya.” (HR. at-Tirmidzi). Namun Anas juga menegaskan, “Beliau tidak pernah berkata kecuali yang benar.”
Ini menjadi kaidah utama dalam memahami humor Nabi: ringan, jujur, dan sarat hikmah.
Baca Juga: Membangun Kembali Universitas Harus Jadi Prioritas di Gaza
Salah satu kisah masyhur adalah candanya Rasulullah SAW dengan seorang sahabat bernama Zahir bin Haram ra. Zahir adalah sahabat dari pedalaman yang berpenampilan sederhana dan tidak terlalu tampan.
Suatu hari, Rasulullah SAW memeluknya dari belakang saat ia sedang berjualan di pasar, sambil bersabda, “Siapakah yang mau membeli budak ini?” Zahir terkejut dan berkata, “Wahai Rasulullah, demi Allah, engkau akan mendapatkanku sebagai barang yang tidak laku.”
Maka Rasulullah SAW menjawab, “Tetapi di sisi Allah engkau bukan barang murahan.” (HR. Ahmad). Di balik canda itu, Rasulullah SAW menanamkan rasa percaya diri, mengangkat martabat, dan menyembuhkan luka batin sahabatnya.
Kisah lain terjadi dengan seorang nenek tua yang datang meminta doa agar masuk surga. Rasulullah SAW bersabda dengan nada bercanda, “Wahai ibu, sesungguhnya tidak ada nenek-nenek di surga.” Mendengar itu, sang nenek pun menangis.
Baca Juga: Huntara untuk Warga Manggale yang Hingga Kini Belum Terealisasi
Lalu Rasulullah SAW menjelaskan bahwa semua penghuni surga akan masuk dalam keadaan muda, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Wāqi‘ah ayat 35–37.
Kisah ini diriwayatkan dalam Asy-Syamā’il dan dijelaskan oleh para ulama seperti Imam al-Qari. Canda ini bukan untuk menipu, tetapi untuk mengantar penjelasan akidah dengan cara yang lembut dan membekas.
Rasulullah SAW juga bercanda dengan Anas bin Malik ra., pembantu beliau selama sepuluh tahun. Suatu hari, beliau memanggil Anas dengan julukan, “Yā dzal-udzunain” (Wahai yang punya dua telinga). (HR. Abu Dawud).
Canda ringan ini menunjukkan kedekatan Rasulullah SAW dengan Anas. Ibn Hajar al-‘Asqalani dalam Fath al-Bāri menjelaskan bahwa panggilan semacam ini adalah bentuk kelembutan, bukan ejekan, karena maknanya benar dan tidak merendahkan.
Baca Juga: Di Atas Afrika, Palestina Berkibar: Kisah Delapan Pendaki yang Menjawab Dunia dari Puncak Uhuru
Dalam momen lain, seorang sahabat meminta Rasulullah SAW kendaraan untuk bepergian. Rasulullah SAW menjawab, “Aku akan memberimu anak unta.” Sahabat itu berkata, “Apa yang bisa aku lakukan dengan anak unta?”
Rasulullah SAW tersenyum dan berkata, “Bukankah unta dewasa juga anak dari unta?” (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi). Canda ini menunjukkan kecerdasan bahasa Rasulullah SAW sekaligus mengajarkan bahwa humor yang baik tidak harus dusta atau berlebihan.
Para ulama seperti Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa bercanda diperbolehkan selama tidak mengandung kebohongan, tidak menyakiti, dan tidak berlebihan hingga melalaikan.
Rasulullah SAW adalah teladan paling sempurna dalam hal ini. Beliau bercanda di waktu yang tepat, dengan orang yang tepat, dan untuk tujuan yang tepat.
Baca Juga: Negeri Ini Tidak Miskin, Tapi Dikhianati
Hikmah dari canda Rasulullah SAW sangatlah besar. Pertama, ia mengajarkan keseimbangan antara keseriusan dan keceriaan dalam beragama. Kedua, ia menjadi sarana pendidikan akhlak yang efektif, karena pesan yang disampaikan dengan senyum sering kali lebih mudah diterima. Ketiga, ia menegaskan bahwa dakwah tidak harus selalu keras; kelembutan dan humor yang santun justru mampu menembus hati.
Di zaman sekarang, ketika sebagian orang mengira kesalehan identik dengan wajah masam dan sikap kaku, kisah-kisah ini menjadi pengingat penting. Bahwa mengikuti sunnah Rasulullah SAW bukan hanya dalam ibadah, tetapi juga dalam cara berinteraksi, tersenyum, dan menghadirkan kegembiraan bagi orang lain.
Canda Rasulullah SAW bukan sekadar kisah indah dari masa lalu, tetapi teladan hidup bagi umatnya. Ia mengajarkan bahwa kebenaran bisa disampaikan dengan senyum, bahwa dakwah bisa berjalan seiring dengan kehangatan.
Hati manusia sering kali lebih mudah disentuh oleh akhlak mulia daripada kata-kata keras. Semoga kita termasuk orang-orang yang mampu meneladani Rasulullah SAW secara utuh dalam kesungguhan ibadah, keluhuran akhlak, dan keceriaan yang menenangkan jiwa. []
Baca Juga: Tragedi Pantai Bondi: dari Ceceran Darah hingga Bersinarnya Cahaya Kemanusiaan
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic