Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kemesrasaan Ali bin Abi Thalib bersama Bulan Ramadhan

Widi Kusnadi Editor : Widi Kusnadi - Senin, 2 Februari 2026 - 17:07 WIB

Senin, 2 Februari 2026 - 17:07 WIB

81 Views ㅤ

Ilustrasi sahabat Ali bin Abi Thalib yang intens berinteraksi dengan Al-Qur'an di bulan Ramadhan (foto: for MINA)

BULAN RAMADHAN bukan sekadar bulan ibadah, tetapi ruang pembentukan karakter dan kematangan jiwa. Bulan mulia tersebut juga menjadi saksi perjalanan spiritual tokoh-tokoh besar dalam sejarah Islam. Dalam sejarah Islam, bulan suci ini selalu berkelindan dengan kisah para tokoh agung yang menjadikannya momentum penyempurnaan iman dan amal.

Di antara mereka, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu menempati posisi istimewa. Ia bukan hanya sepupu dan menantu Rasulullah ﷺ, tetapi juga murid terdekat beliau dalam ilmu, akhlak, dan spiritualitas.

Hubungan Ali dengan Ramadhan adalah hubungan mesra—penuh kesungguhan ibadah, kesederhanaan hidup, dan kepedulian sosial yang mendalam.

Ali dan Intensitas Ibadah Ramadhan

Kitab-kitab tarikh dan manaqib mencatat bahwa Ali bin Abi Thalib dikenal sebagai ahli ibadah yang luar biasa, terlebih di bulan Ramadhan. Ibnu Sa‘d dalam Ṭabaqāt al-Kubrā menggambarkan Ali sebagai sosok yang “banyak shalat malam, panjang rukuk dan sujudnya, serta larut dalam munajat” (Ṭabaqāt al-Kubrā, jilid 3). Ramadhan bagi Ali adalah musim memperpanjang qiyamul lail dan memperbanyak tilawah Al-Qur’an.

Baca Juga: Hamzah bin Abdul Muthalib: Sayyidus Syuhada yang Gugur di Uhud

Dalam Ḥilyat al-Awliyā’, Abu Nu‘aim al-Ashbahani meriwayatkan bahwa Ali sering terlihat menangis ketika membaca Al-Qur’an, terutama ayat-ayat tentang akhirat. Hal ini menunjukkan bahwa Ramadhan tidak hanya diisi dengan ritual lahiriah, tetapi juga penghayatan batin yang mendalam. Ali memandang puasa sebagai sarana menundukkan jiwa agar tunduk sepenuhnya kepada Allah SWT.

Kesederhanaan dalam Berbuka dan Sahur 

Salah satu ciri menonjol dari Ramadhan Ali bin Abi Thalib adalah kesederhanaan dalam berbuka dan sahur. Dalam Siyar A‘lām an-Nubalā’, Imam adz-Dzahabi menukil riwayat bahwa Ali sering berbuka hanya dengan roti kering, garam, atau susu, bahkan ketika beliau menjabat sebagai khalifah.

Ketika ditanya mengapa tidak memperbaiki makanannya, Ali menjawab agar “hatinya tidak disibukkan oleh kenikmatan dunia” (Siyar A‘lām an-Nubalā’, jilid 2).

Kesederhanaan ini bukan sikap asketisme berlebihan, melainkan pendidikan ruhani. Ali ingin Ramadhan menjadi bulan pelepasan diri dari ketergantungan pada dunia, agar fokus pada keadilan, ibadah, dan tanggung jawab moral.

Baca Juga: Kisah Sa’id bin ‘Amir, Sahabat Nabi yang Zuhud

Sikap ini selaras dengan maqāṣid puasa sebagaimana dijelaskan para ulama fiqh: menundukkan hawa nafsu demi mencapai takwa.

Ramadhan dan Kepedulian Sosial

Ramadhan Ali juga dikenal sebagai Ramadhan kepedulian. Ibnu Katsir dalam al-Bidāyah wa an-Nihāyah meriwayatkan kisah Ali dan keluarganya yang memberikan makanan berbuka kepada fakir miskin, anak yatim, dan tawanan, meskipun mereka sendiri dalam keadaan lapar. Kisah ini berkelindan dengan turunnya Surah al-Insān ayat 8–9.

Ali memandang puasa tidak sempurna tanpa berbagi. Dalam perspektifnya, Ramadhan adalah madrasah empati—melatih rasa keadilan sosial dan kepekaan terhadap penderitaan orang lain.

Inilah yang membuat puasa Ali tidak berhenti pada dimensi individual, tetapi meluas menjadi energi sosial yang transformatif.

Baca Juga: Al-Miqdad bin Amr Kesatria Berkuda Pertama di Awal Islam

Pemimpin yang Tetap Zuhud

Ketika Ali menjabat sebagai khalifah, Bulan Ramadhan tidak mengurangi ketegasannya dalam menegakkan keadilan, namun juga tidak mengendurkan kezuhudannya.

Imam al-Ghazali dalam Iḥyā’ ‘Ulūm ad-Dīn menyinggung Ali sebagai teladan pemimpin yang tidak menjadikan kekuasaan sebagai penghalang antara dirinya dan ibadah. Ali tetap berpuasa, shalat malam, dan hidup sederhana di tengah tekanan politik dan konflik besar umat.

Puncak kemesraannya dengan Ramadhan justru tampak pada akhir hayatnya. Ali wafat pada 21 Ramadhan, setelah diserang ketika hendak menunaikan shalat Subuh di Masjid Kufah.

Kalimatnya yang masyhur, “Fuztu wa rabbil Ka‘bah” (Demi Tuhan Ka‘bah, aku telah menang), mencerminkan bagaimana Ramadhan menjadi penutup perjalanan hidup yang penuh makna dan keikhlasan.

Baca Juga: Mu’adz bin Jabal, Sahabat Nabi yang Paling Mengetahui Halal dan Haram

Inspirasi bagi Umat Islam Masa Kini

Dari teladan Ali bin Abi Thalib, umat Islam masa kini dapat belajar bahwa Ramadhan bukan sekadar peristiwa tahunan yang dijalani secara rutin, melainkan momentum pendalaman ibadah yang sungguh-sungguh.

Ramadhan adalah bulan untuk menyederhanakan hidup, menepi sejenak dari hiruk-pikuk dunia, dan membersihkan hati dari kecintaan berlebihan terhadap materi.

Pada saat yang sama, Ramadhan juga menjadi ruang penguatan solidaritas sosial, ketika ibadah pribadi bertemu dengan kepekaan terhadap penderitaan sesama dan perjuangan menegakkan keadilan.

Lebih dari itu, Ramadhan adalah madrasah pembentukan karakter—melatih kesabaran, kejujuran, dan keteguhan moral, bahkan di tengah tanggung jawab dan tekanan hidup yang besar.

Baca Juga: Shuhaib bin Sinan ar-Rumi: Sahabat Nabi yang Rela Kehilangan Harta demi Hijrah

Teladan dari sahabat Ali bin Abi Thalib mengajarkan bahwa kemuliaan Ramadhan tidak diukur dari kemeriahannya, tetapi dari seberapa dalam ia membentuk jiwa dan seberapa konsisten amal kebaikan dijaga setelahnya.

Kemesrasaan Ali bin Abi Thalib dengan Ramadhan adalah cermin spiritual yang jernih bagi umat Islam lintas zaman. Ia menjadikan Ramadhan sebagai ruang perjumpaan antara ibadah, akhlak, dan tanggung jawab sosial.

Di tengah dunia modern yang serba cepat dan materialistis, kisah Ali mengingatkan kita bahwa Ramadhan sejati adalah ketika hati ditundukkan, dunia diperkecil, dan Allah dibesarkan. Dari Ali, kita belajar bahwa Ramadhan bukan sekadar bulan, melainkan jalan menuju kematangan iman dan kemuliaan peradaban. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Sa’d bin Abi Waqqash, Panglima Perang Qadisiyah yang Mengguncang Kekaisaran Persia

Rekomendasi untuk Anda