Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ini Cuitan SBY Sehari Sebelum Amerika Serang Iran

Redaksi Editor : Arif R - Ahad, 1 Maret 2026 - 03:57 WIB

Ahad, 1 Maret 2026 - 03:57 WIB

53 Views

SBY PRESIDEN GGGI
Mantan Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) (Foto: Biro Pers Istana Presiden)

Jakarta, MINA – Dunia berada pada persimpangan krusial menjelang pecahnya konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran ketika negosiasi penting tak kunjung membuahkan hasil. Di tengah ketegangan geopolitik global itu, cuitan mantan Presiden RI SBY sehari sebelum serangan militer pecah kembali menarik perhatian publik internasional.

Dalam unggahan di akun sosial media X, @SBYudhoyono, pada 27 Februari 2026, satu hari sebelum meletusnya perang, SBY menulis bahwa perundingan tidak langsung yang tengah berlangsung di Jenewa dalam beberapa hari terakhir memiliki potensi besar untuk mengubah arah sejarah dunia.

Ia menyoroti bahwa perundingan tersebut menyangkut masa depan proyek nuklir Iran, sebuah isu yang sangat kompleks. SBY juga menekankan karakter dan kepentingan pribadi pemimpin kedua negara, Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, yang turut memengaruhi dinamika perundingan.

“Sukses atau gagal? Bawa kedamaian, atau sebaliknya menyulut terjadinya peperangan yang dahsyat?” tulis SBY dalam cuitannya.

Baca Juga: Harga Jual Emas Hari Ini, Jumat 6 Maret 2026

SBY menilai kedua pemimpin tersebut memiliki ego, ambisi, dan personal interest yang kuat, Trump khawatir tentang reputasi dan warisan kepemimpinannya jika negosiasi gagal, sementara Khamenei menghadapi tekanan internal yang bisa berimplikasi pada stabilitas rezimnya.

Jenewa: Kota Damai di Persimpangan Sejarah

Menurut SBY, Geneva, kota yang dikenal sebagai simbol diplomasi dan perdamaian dunia, pada akhir Februari 2026 berada dalam sorotan global karena perundingan itu berpotensi menjadi “game change” bagi hubungan antara kedua negara. Perundingan yang dilakukan melalui mediator bertujuan mencari solusi yang dapat diterima kedua pihak, namun jalan menuju kesepakatan sangatlah rumit.

Negosiasi ini berlangsung di tengah kondisi politik dan militer yang tegang di kawasan Timur Tengah. Banyak pihak mengawasi pertemuan diplomatik tersebut karena kegagalannya dinilai bisa berujung pada eskalasi konflik bersenjata.

Baca Juga: [Bedah Berita MINA] Serangan Gabungan AS–Israel ke Iran, Apa Dampaknya?

SBY menyatakan pengalaman panjangnya dalam resolusi konflik menunjukkan bahwa negosiasi tingkat tinggi membutuhkan kesabaran, kecerdasan, dan kesediaan untuk berkompromi. Ia menekankan pentingnya memahami keinginan dan kekhawatiran kedua pemimpin negara yang memberikan mandat kepada para juru rundingnya.

Ia juga membedakan antara war of necessity dan war of choice—dua konsep yang harus dipertimbangkan secara serius sebelum keputusan untuk berperang diambil. Menurut SBY, perang bukan hanya soal kekuatan militer, tetapi juga kalkulasi rasional tentang kemungkinan kemenangan serta risiko yang harus dihadapi.

Pelajaran dari Sejarah dan Realitas Militer

SBY mengingatkan pengalaman Amerika Serikat dalam konflik besar sebelumnya, seperti di Vietnam, Irak, dan Afghanistan, di mana hasilnya tidak selalu sesuai dengan harapan awal. Ia menggarisbawahi bahwa Iran berbeda secara geopolitik serta kultural, sehingga tantangan militer dan politiknya juga tak bisa disamakan secara langsung dengan konflik sebelumnya.

Baca Juga: BMKG: Seluruh Wilayah DKI Jakarta Berpotensi Diguyur Hujan Ringan hingga Sedang Hari Ini

Dalam catatannya, SBY juga menyampaikan pesan moral yang mendalam bagi para pemimpin dunia. Dia menekankan bahwa prajurit yang dikirim untuk berperang bukan sekadar alat kebijakan, tetapi manusia dengan keyakinan, harapan, dan tanggung jawab terhadap bangsa dan rakyatnya.

“Soldiers will not fight and die, unless they know what they fight and die for,” tulisnya, sebuah pengingat bahwa keberhasilan militer juga sangat ditentukan oleh keyakinan dan pemahaman moral dari para prajurit itu sendiri.

Sementara itu, dunia internasional menyaksikan dengan cemas peristiwa yang berlangsung di Timur Tengah. Urgensi negosiasi di Jenewa tidak hanya menyangkut hubungan antara dua negara besar, tetapi juga berdampak pada stabilitas global, ekonomi, serta masa depan geopolitik kawasan yang selama ini menjadi titik panas konflik.

Dalam suasana yang penuh ketidakpastian, cuitan SBY sehari sebelum pecahnya perang menjadi catatan penting sejarah, mengingatkan dunia akan dua kemungkinan besar yang bisa terjadi: perdamaian bersejarah atau konflik berdarah dengan dampak luas bagi generasi mendatang. []

Baca Juga: Ribuan Pekerja Terjebak Konflik AS-Israel vs Iran, Mayoritas Asal Jatim

Rekomendasi untuk Anda

Presiden RI Prabowo Subianto menggelar pertemuan dengan sejumlah mantan presiden, wakil presiden, menteri luar negeri, serta ketua umum partai politik di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (3/3/2026). (foto: Setneg RI)
Indonesia
SBY PRESIDEN GGGI
Indonesia
Indonesia
Amerika
test