Ini Rahasia Cara Melipatgandakan Uang

Oleh Bahron Ansori, jurnalis MINA

Kanjeng Dimas alias Taat Pribadi adalah sosok yang sudah membuat geger Indonesia. Konon kabarnya, ia disinyalir bisa melipatgandakan uang. Tak pelak, puluhan orang pun beminat untuk dilipatgandakan uangnya, tentu saja dengan tujuan agar menjadi lebih kaya bagi yang sudah kaya, dan menjadi kaya bagi yang miskin. Yang tak kalah hebat, kasus itu melibatkan salah satu mantan petinggi ICMI.

Kasus yang hingga kini masih dalam proses usut oleh aparat itu hingga menyita perhatian banyak kalangan seperti para normal, ulama, pesulap bahkan artis. Semua memberikan komentarnya atas apa yang dilakukan oleh Kanjeng Dimas. Seorang para normal seperti Ki Gendeng Pamungkas mengatakan apa yang dilakukan Kanjeng adalah penipuan spiritual. “Saya tahu persis. Tidak bisa para normal melipatgandakan uang. Tidak mungkin itu,” katanya saat tampil di TV One beberapa waktu lalu.

Dalam tulisan singkat ini, penulis akan membahas sebuah rahasia bagaimana cara melipatgandakan uang menurut kaca mata Islam. Berikut adalah bahasannya.

Yang jarang sekali kita sadari, atau bahkan kita tidak mau tahu, ternyata kita sebenarnya bisa menggandakan rezeki kita (uang) tanpa harus bersusah payah, dan ini sangat benar dan ampuh sekaligus mujarab. Sadarkah kita dengan ayat Al Quran surat Al Baqarah 261 berikut:

مثل الذين ينفقون أموالهم في سبيل الله كمثل حبة أنبتت سبع سنابل في كل سنبلة مائة حبة والله يضاعف لمن يشاء والله واسع عليم

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah* adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang dia kehendaki. dan Allah Maha luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.

Pengertian menafkahkan harta di jalan Allah meliputi belanja untuk kepentingan jihad, pembangunan perguruan, rumah sakit, usaha penyelidikan ilmiah dan lain-lain.

Allah akan melipat gandakan harta kita seperti yang telah Allah misalkan dalam ayat tersebut, bahwa dari sebutir benih akan menjadi tujuh bulir, dengan kata lain, (seandainya kita bersodaqoh dengan Rp 1.000 maka akan menumbuhkan Rp 7.000 bulir). Dan lebih dahsyatnya lagi dari setiap bulir akan dibuahkan atau dihasilkan sebanyak seratus biji. (jadi dari tujuh ribu tadi akan tumbuh tiap seribuannya dikali dengan seratuh biji= 7.000×100= Rp 700.000,.) Subhanallah…

Dalam sebuah hadis Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

حدثنا عمرو بن مجمع أبو المنذر الكندي ، أخبرنا إبراهيم الهجري ، عن أبي الأحوص ، عن عبد الله بن مسعود قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ” إن الله عز وجل ، جعل حسنة ابن آدم بعشر أمثالها ، إلى سبعمائة ضعف ، إلا الصوم ، والصوم لي وأنا أجزي به ، وللصائم فرحتان : فرحة عند إفطاره وفرحة يوم القيامة ، ولخلوف فم الصائم أطيب عند الله من ريح المسك

Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla menjadikan/melipatkan satu kebaikan dari ibn Adam menjadi sepuluh kali sampai tujuh ratus kali lipat. Kecuali puasa, dan puasa itu hanya untuk Allah, dan Allah sendirilah yang akan membalasnya. Dan bagi orang yang berpuasa akan mendapat dua kebahagiaan: yaitu kebahagiaan di saat berbuka dan kebahagiaan kelak di hari akhir. Dan bau mulutnya orang yang berpuasa itu lebih wangi di sisi Allah dibanding dengan bau harumnya misk.

Uang yang kita sedekahkan di jalan Allah dengan (ikhlas dan tidak riya) yang hanya kecil di mata manusia, namun itu sangat besar di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala, tapi kebanyakan dari kita kurang menyadari akan kedahsyatan sodaqoh tersebut.

Sangat jarang sekali kita melihat orang yang menyedekahkan hartanya untuk kebaikan umat ini, dan meskipun kita melihatnya tidak jarang pula mereka menginfakkan dan menyedekahkan harta tersebut lantaran hanya untuk dilihat oleh yang lain.

Allah berfirman dalam Al Quran surat Al Baqarah 264:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تُبْطِلُواْ صَدَقَاتِكُم بِالْمَنِّ وَالأذَى كَالَّذِي يُنفِقُ مَالَهُ رِئَاء النَّاسِ وَلاَ يُؤْمِنُ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْداً لاَّ يَقْدِرُونَ عَلَى شَيْءٍ مِّمَّا كَسَبُواْ وَاللّهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir*”

*Mereka ini tidak mendapat manfaat di dunia dari usaha-usaha mereka dan tidak pula mendapat pahala di akhirat.

Jadi apakah kita sudah yakin dengan janji Allah Ta’ala yang akan melipatgandakan uang (rezeki) kita? Allah Ta’ala tidak mungkin menyalahi janji-Nya untuk memberi rezeki kepada setiap orang yang sudah ditakdirkan menjadi pemiliknya. Hanya saja terkadang sebagai manusia yang penuh salah dan dosa, kita terlalu merana karena rezeki tak kunjung datang.

Atau bisa jadi sebaliknya, karena kita tak sabar dalam menjemput rezeki yang Allah Ta’ala bagikan, lalu sebagian kita sibuk mencari jalan pintas dengan mendatangi para normal yang dianggap mampu menggandakan uang (rezeki).

Kita seharusnya merasa malu jika Allah Ta’ala belum juga memudahkan jalan kita untuk menjemput rezeki dari-Nya. Seharusnyalah kita muhasabah, sebab jangan-jangan selama ini kita masih sering melalaikan perintah Allah dan melanggar larangan-Nya.

Jadi cukuplah Allah tempat kita mengadu, mengeluh dan meminta segala rezeki. Minta pula kepada-Nya agar Allah mudahkan kita untuk melipatkgandakan rezeki itu dengan cara banyak bersedekah kepada siapa pun yang membutuhkannya dari kalangan orang-orang Islam.

Tak perlu khawatir tentang rezeki kita, dan tak perlu juga mengambil jalan pintas untuk melipatgandakan rezeki itu dengan mendatangi orang-orang ‘aneh’ yang berkolaborasi dengan setan. Cukuplah Allah satu-satunya tempat meminta, sebab Allah itu Maha Kaya dan Maha menyayangi setiap makhluk hidup-Nya, terlebih jika ia adalah seorang yang beriman, wallahua’lam.(R02/P2)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)