Ini Sebab Kita Tak Pernah Bahagia

Oleh Bahron Ansori, jurnalis MINA

Manusia mana di dunia ini yang tak ingin hidup bahagia? Berikut adalah beberapa faktor penyebab mengapa manusia tidak bahagia. Bahagia, adalah cita-cita setiap orang. Sebab dengan bahagia hidup di dunia ini terasa damai, aman, tentram dan indah. Bahkan, demi meraih sebuah kebahagiaan banyak orang sudi meraihnya dengan menghalalkan apa yang telah jelas diharamkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Bisa jadi, orang yang meraih kebahagiaan hidup dengan cara melanggar syariat-syariat Allah dan menukar akidahnya dengan kebatilan, terlihat hidupnya benar-benar bahagia. Setiap orang yang memandangnya akan memuji, menebar senyum padanya. Tapi, tahukah kita, meraih kebahagiaan dengan jalan yang dilarang oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala justeru akan membuahkan penderitaan abadi di akhirat kelak.

Paling tidak ada enam (6) hal menjadi penyebab mengapa orang tidak bahagia. Antara lain pertama,
seseorang tidak akan pernah bahagia karena TERLALU BANYAK KEINGINAN, sehingga tidak fokus melakukan proses mencapai atas tujuan yang sudah ditetapkan. Dengan kata lain, TIDAK BENAR-BENAR MEMAHAMI apa sebenarnya yang lebih dibutuhkan. Kebanyakan orang, lebih mementingkan untuk mendahulukan gaya hidup daripada kebutuhan hidup.

Orang yang lebih mengutamakan memenuhi gaya hidupnya daripada kebutuhan hidupnya, maka akan mengalami kesulitan dalam membagi jumlah nominal yang diperolehnya, walaupun jumlahnya jutaan rupiah. Karena memenuhi gaya hidup itu tidak akan pernah bisa tercukupi. Tapi jika hidupnya untuk memenuhi apa yang menjadi kebutuhan hidup, maka meski ia hanya punya gaji 500 ribu per bulan tentu saja akan cukup. Terlalu mengikuti keinginan yang berlebihan adalah nafsu yang mencelakakan dan menimbulkan penyesalan.

Betapa banyak muatan al Quran yang melarang seseorang mengikuti hawa nafsunya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman yang artinya, “Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan (Al Qur’an) mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu. (Qs. Al-Mu’minun (23): 71).

Kedua, manusia tidak bahagia karena seringkali berperang dengan diri sendiri, MERASA TIDAK PUAS dengan keadaan dan TIDAK MAMPU MENERIMA KENYATAAN HIDUP, sehingga larut dalam kekecewaan, menyalahkan bahkan mengkambinghitamkan orang lain, dan lebih sadis lagi menyalahkan takdir.

Inilah masalah sakral yang seringkali dialami oleh kebanyakan manusia hidup, merasa tidak pernah puas dengan keadaan sehingga membuatnya mempunyai sifat rakus dan tamak. Merasa tidak puas, itu boleh saja tentu dalam hal-hal yang positif misalnya tidak pernah puas dalam menuntut ilmu dan beribadah. Selain tidak pernah merasa puas, kebanyakan manusia juga tak mampu menerima kenyataan hidup. Padahal, bagi seorang muslim, menerima kenyataan hidup adalah takdir dari Allah.

Tentang dua sifat manusia di atas telah disinggung oleh Allah dan Nabi-Nya dalam al Quran dan al Hadis. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, Seandainya anak keturunan Adam diberi satu lembah penuh dengan emas niscaya dia masih akan menginginkan yang kedua. Jika diberi lembah emas yang kedua maka dia menginginkan lembah emas ketiga. Tidak akan pernah menyumbat rongga anak Adam selain tanah, dan Allah menerima taubat bagi siapa pun yang mau bertaubat.” (HR. Al-Bukhari No. 6438). Inilah  salah satu hadis Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tentang keserakahan manusia karena merasa tidak pernah puas (rakus).

Ketiga, manusia tidak bahagia karena SELALU MELIHAT KE ATAS, terlalu sering MEMBANDINGKAN DIRI dengan orang yang lebih tinggi, sehingga selalu merasa kurang dan merasa Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak adil terhadapnya. Dalam sebuah hadis disebutkan. Dari Abu Hurairah radhiyallāhu Ta’ālā ‘anhu, ia berkata: Rasūlullāh Shallallāhu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Lihatlah kepada yang di bawah kalian, dan janganlah kalian melihat yang di atas kalian; sesungguhnya hal ini akan menjadikan kalian tidak merendahkan nikmat Allāh yang Allāh berikan kepada kalian.” (Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim).

selain itu, bersyukur adalah rahasia terbaik untuk hidup bahagia. Bersyukur berarti berterima kasih kepada siapa saja yang memberi sesuatu yang baik. Bersyukur kepada Allah Ta’ala berarti berterima kasih atas segala kesempatan hidup dan menikmati segala limpahan nikmat yang telah diberikan. Namun, sedikit sekali manusia yang mau bersyukur. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirma yang artinya, “Hanya sedikit dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.” (Qs. Saba’:13)

Keempat, manusia tidak bahagia karena ia MENCINTAI KESEMPURNAAN – bukan keutuhan, sehingga sulit menerima kekurangan diri dan orang lain, TIDAK SIAP MENERIMA PERUBAHAN sesuatu yang dianggap sempurna, dan ingin selalu mempertahankan kesempurnaan itu. Padahal, jika sesuatu itu sudah dilaksanakan, maka serahkan semua urusannya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala (tawakal).

Menyerahkan segala urusan kepada Allah Ta’ala setelah usaha maksimal sesuai kemampuan diri adalah perintah yang akan memberikan rasa tenang dan optimis kepada siapa saja yang bisa melakukannya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah berfirman yang artinya, Katakanlah, “Dia-lah Allah yang Maha Penyayang Kami beriman kepada-Nya dan kepada-Nya-lah Kami bertawakkal. kelak kamu akan mengetahui siapakah yang berada dalam kesesatan yang nyata.” (Qs. Al-Mulk (67): 29).

Orang yang dadanya penuh dengan rasa tawakal kepada Allah, tentu tidak akan pernah hinggap rasa khawatir atau sedih di hatinya. Dari Umar Bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, ‘Saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berkata, “Jikalau kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, niscaya Allah akan memberikan rezki kepada kalian seperti seekor burung, pagi-pagi ia keluar dari (sarangnya) dalam keadaan lapar dan pulang di sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. Imam Ahmad & At-Tirmidzi, dan teks hadis ini dari beliau, Abu ‘Isa berkata: hadis ini hasan shaheh).

Kelima, manusia tidak bahagia karena TERLALU MENCINTAI KESENANGAN HIDUP dan TIDAK SIAP MENGHADAPI KESUSAHAN, sehingga ia tidak memiliki keterampilan dan keahlian untuk menghadapi kekecewaan dan masalah. Padahal, masalah dan kepahitan hidup merupakan sarana atau bahkan guru kehidupan yang bisa melahirkan pencerahan.

Inilah fakta yang terjadi hari ini, betapa banyak orang yang mencintai kesenangan hidup sehingga lupa menyiapkan bekal sebaik dan sebanyak mungkin untuk menghadap Ilahi. Memang, mencintai apa yang menjadi kesengan dalam hidup seperti mencintai wanita, barang dan kendaraan, sawah ladang yang luas adalah fitrah. Hanya saja sebaiknya mencintai semua itu sesuai porsinya masing-masing.

Tentang sifat dasar manusia yang mencintai kesenangan hidup ini, Allah Subhanahu Wa Ta’ala sudah menyampaikan dalam Quran yang artinya, “Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami uji mereka dengannya. Dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal.” (Qs. Thaha : 131).

Sementara itu Imam Al-Bukhari no. 1465 dan Imam Muslim no. 1052 meriwayatkan dari shahabat Abu Sa’id Al-Khudri –radhiyallahu ‘anhu-, katanya, “Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam duduk di mimbar sedangkan kami duduk di sekelilin beliau. Beliau bersabda,“Sesungguhnya di antara yang aku khawatirkan pada diri kalian setelah peninggalanku ialah dibukakannya bunga dunia dan pernak-perniknya untuk kalian.”

Keenam, kebanyakan manusia tidak bahagia karena ia SERING BERBURUK SANGKA kepada Yang Maha Menentukan, SELALU MENERKA-NERKA YANG AKAN TERJADI, cemas, gelisah dan takut, sehingga kepercayaan dan keyakinannya kepada Allah Sang Pencipta goyah, bahkan hilang.

Berburuksangka adalah sifat buruk manusia yang  bisa menjadi racun dalam kehidupannya. Dari Abu Hurairah, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda bersabda, “Jauhilah oleh kalian berprasangka (kecurigaan), karena sesungguhnya prasangka itu adalah sedusta-dustanya pembicaraan.” (HR. Bukhari dan Muslim).”

Begitulah manusia, senantiasa mengeluh dalam hidupnya. Ia ingin, apa yang sudah menjadi cita-cita dan harapannya segera terwujud tanpa bersusah payah dan melakukan pengorbanan baik waktu, tenaga serta pemikiran. Inginnya serba instan, mudah didapatkan tanpa harus berkeringat. Tak ada yang instan di dunia ini kecuali hanya mi instan.

Sebagian muslim yang lurus akidahnya, tajam visi misi akhiratnya, bercahaya ruhiyahnya tentu sangat berhati-hati dalam meraih kebahagiaan hidup. Apalah artinya bahagia di dunia yang diraih dengan jalan selain jalan Allah, tapi menanggung derita berkepanjangan di akhirat. Apa artinya hidup bergelimang harta, berpangkat tinggi, ditokohkan masyarakat tapi hatinya lupa kemana dan apa sebenarnya tujuan hidup di dunia.

Maka sekali lagi, tak ada cara dan jalan lain untuk menggapai kebahagiaan dunia akhirat kecuali kembali sepenuhnya mengamalkan apa-apa yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya serta meninggalkan setiap apa yang dilarang-Nya. Sebab hidup ini pilihan, maka cerdaslah dalam memilih. Pilihlah kebahagiaan akhirat yang bermula dari kebahagiaan di dunia. Jangan sebaliknya memilih untuk meraih kebahagiaan di dunia namun melupakan kebahagiaan di akhirat.

Semoga Allah menuntun setiap bisikan hati, lintasan pikiran dan perbuatan kita agar tidak mudah berburuk sangka terhadap saudara sesama muslim terlebih lagi kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, wallahua’lam.(RS3/P1)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)