IOC Batalkan Keputusan Prancis Larang Jilbab di Olimpiade Paris 2024

Paris, MINA – Komite Olimpiade Internasional (IOC) telah membatalkan larangan pemerintah Prancis terhadap umat Islam mengenakan jilbab selama Olimpiade Paris 2024 nanti.

IOC menyatakan pada Jumat (29/9), para atlet tuan rumah yang berpartisipasi dalam Olimpiade Paris 2024 bebas mengenakan jilbab.

Pernyataan IOC muncul hanya beberapa hari setelah Menteri Olahraga Prancis melarang penggunaan jilbab bagi atlet negara tuan rumah.

Awal pekan ini, Menteri Olahraga Prancis, Amelie Oudea-Castera mengatakan, atlet Prancis diharuskan mematuhi prinsip sekularisme negaranya, sehingga melarang atlet putri mengenakan jilbab selama Olimpiade Paris.

Prancis, yang merupakan rumah bagi salah satu komunitas Muslim terbesar di Eropa, telah menerapkan undang-undang yang dirancang untuk mematuhi prinsip sekularisme negara tersebut, yang dikenal sebagai “laicite”.

Baca Juga:  Afrika Selatan Lanjutkan Kasus Genosida Israel di ICJ

Oudea-Castera menggemakan prinsip sekuler yang ditegaskan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, dengan mengatakan pemerintah menentang tampilan simbol agama apa pun selama pertandingan.

Dia juga menggemakan prinsip sekuler yang ditegaskan oleh Presiden Perancis Emmanuel Macron yang mengatakan, pemerintah menentang tampilan simbol-simbol keagamaan selama pertandingan.

“Untuk Olympic Village, aturan IOC berlaku,” kata juru bicara IOC. “Tidak ada batasan dalam mengenakan jilbab atau pakaian keagamaan atau budaya lainnya.”

Mayoritas dari sekitar 10.000 atlet di Olimpiade tinggal di apartemen di desa Olimpiade dan berbagi ruang bersama, termasuk ruang makan dan area rekreasi.

“Jika menyangkut kompetisi, peraturan yang ditetapkan oleh Federasi Internasional (IF) terkait berlaku,” kata juru bicara IOC.

Baca Juga:  Türkiye Umumkan Hari Berkabung Nasional Wafatnya Presiden Iran

Kompetisi olahraga di Olimpiade diselenggarakan dan diawasi oleh masing-masing federasi olahraga internasional. Ada 32 cabang olahraga dalam program Olimpiade Paris.

“Karena peraturan Prancis ini hanya berlaku untuk anggota tim Prancis, kami menghubungi CNOSF [Komite Olimpiade Prancis] untuk memahami lebih lanjut situasi mengenai atlet Prancis,” kata juru bicara tersebut. (T/R2/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)

Wartawan: Rendi Setiawan

Editor: Ismet Rauf