Teheran, MINA — Iran telah menerima tanggapan Amerika Serikat (AS) atas usulan mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz yang disampaikan melalui mediasi Qatar. Namun, Pemerintah Iran belum mengungkapkan isi tanggapan Washington tersebut maupun langkah yang akan diambil selanjutnya.
Juru Bicara Pemerintah Iran Fatemeh Mohajerani mengatakan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi telah menerima respons AS tersebut. Dokumen itu disampaikan melalui Qatar setelah mediator negara Teluk tersebut melakukan komunikasi antara Teheran dan Washington. Press TV melaporkan, Kamis (1/10).
Sebelumnya, Araghchi menyampaikan bahwa Iran telah membahas sejumlah gagasan dengan mediator Qatar mengenai mekanisme untuk memenuhi persyaratan pembukaan kembali Selat Hormuz. Salah satu poin yang menjadi perhatian adalah pemulihan jalur pelayaran secara aman dan normal.
Iran sebelumnya menyatakan pembukaan penuh Selat Hormuz berkaitan dengan sejumlah tuntutan, termasuk penghentian tekanan militer dan ekonomi AS, pembebasan aset Iran yang dibekukan, serta adanya jaminan keamanan bagi pelayaran. Teheran juga menyatakan akses melalui jalur strategis tersebut masih dibatasi sampai persyaratan yang diajukan terpenuhi.
Baca Juga: Wapres AS: Perundingan dengan Iran Ada Kemajuan, Tapi Belum Deal
Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan pemerintahnya akan terus berupaya memastikan kesepakatan yang telah dibahas dapat diwujudkan. Ia menegaskan pembicaraan mengenai manfaat perundingan tidak berarti Iran menyerah, tetapi merupakan bagian dari transparansi dan tetap berpegang pada prinsip negara.
Perkembangan tersebut berlangsung ketika Selat Hormuz masih menjadi perhatian utama pasar energi dan pelayaran internasional. Reuters melaporkan ekspor minyak melalui kawasan Teluk mulai mendekati tingkat sebelum konflik, meski ketidakpastian keamanan masih tinggi. Pada Selasa, tiga kapal tanker berbendera Liberia juga dilaporkan terkena proyektil saat melintasi Selat Hormuz, sementara sumber dan pelaku insiden masih belum diketahui. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: PBB: 300.000 Warga Yaman Mengungsi, Taiz Terisolasi
















Mina Indonesia
Mina Arabic