Irfan Syauqi: Potensi Ekonomi Halal Indonesia Belum Tereksplorasi

Foto: Pengamat Ekonomi Syariah IPB University Dr Irfan Syauqi Beik

Jakarta, MINA – Pengamat Ekonomi Syariah IPB University Dr Irfan Syauqi Beik mengatakan, meski posisi Indonesia terus membaik secara Internasional, namun potensi ekonomi halal yang belum tereksplorasi masih sangat besar.

Menurutnya, diperlukan adanya upaya yang lebih sistematis agar potensi ekonomi halal ini bisa dioptimalkan dengan baik. Upaya tersebut, harus mencakup penguatan baik dari sisi demand maupun dari sisi supply. Demikian keterangan tertulis diterima MINA, Selasa (19/1).

“Pada sisi permintaan, selain memanfaatkan pasar domestik, kita juga harus berusaha untuk membidik permintaan global yang terus meningkat. Indonesia harus menjadi produsen utama industri halal dunia,” harapnya.

Dr Irfan mengungkapkan, penguatan dari sisi supply menjadi kebutuhan yang sangat penting dan mendesak. Dalam konteks ini, memiliki bank syariah sendiri yang mempunyai daya saing global menjadi hal yang sangat penting.

“Keberadaan Bank Syariah Indonesia (BSI) diharapkan dapat menjadi daya ungkit terhadap penguatan daya saing global perbankan syariah nasional,” ujarnya.

Selanjutnya, untuk memperkuat sisi supply, menurutnya ada tiga hal yang perlu dilakukan.

Pertama, membangun ekosistem ekonomi halal yang terintegrasi, dimana integrasi ini bukan hanya antar industri di sektor riil, namun juga dengan industri keuangan syariah.

Hal ini ditunjukkan antara lain dengan pemanfaatan industri perbankan syariah dalam memfasilitasi transaksi keuangan dari industri halal.

“Apalagi dari sisi teknologi keuangan, industri perbankan syariah tidak kalah dibandingkan dengan industri perbankan konvensional,” katanya

Kedua, dengan memperbanyak pelaku usaha untuk menopang dan menambah kekuatan supply yang dimiliki Indonesia.

“Di sinilah pentingnya kita memperkuat sektor Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) sebagai pilar penting dari kekuatan penawaran yang kita miliki,” ujarnya.

“UMKM harus diberikan akses yang lebih luas, baik akses terhadap input produksi, sumberdaya keuangan, maupun akses pasar,” lanjutnya.

Ketiga, diperlukan adanya dukungan regulasi dan insentif yang mampu menstimulasi penguatan industri halal kita.

“Peran pemerintah dalam hal ini menjadi sangat penting dan signifikan,” tegasnya. (R/Hju/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)