Islam di Rusia Terus Tumbuh dan Kuat

Foto: Anadolu Agency

Moskow, MINA – Komunitas Muslim di Rusia terus bertambah dan tumbuh kuat setelah  mencapai 25 juta dari sekitar 142 juta jiwa penduduk negara itu, menurut mufti agung Rusia, Sheikh Rawil Gaynetdin.

Dalam sebuah wawancara baru-baru ini, Gaynetdin mengatakan, komunitas Muslim di Rusia adalah penduduk asli dan terus tumbuh serta kian diterima di tengah agama-agama lainnya di ‘Negeri Berjuang Merah’ itu.

Gaynetdin menghubungkan pertumbuhan populasi Muslim dua faktor utama: tingkat kelahiran yang tinggi di kalangan keluarga Muslim dan  kedatangan orang-orang dari Asia Tengah.

“Islam datang ke Rusia pada abad ketujuh. Pengikut Nabi Muhammad SAW datang ke Rusia 22 tahun setelah beliau wafat,” ia menjelaskan kepada Anadolu Agency, Rabu (7/3).

“Mereka datang ke sebuah kota yang saat ini dikenal sebagai Derbent, terletak di Dagestan Selatan. Dan Azan yang pertama di Rusia dikumandangkan di tanah Dagestan,” kata sang mufti.

Lebih dari 58 masyarakat, kebangsaan dan kelompok etnis secara historis mempraktikkan Islam, kata Gaynetdin.

Sheikh Gaynetdin menjelaskan mayoritas umat Islam di negara ini tinggal di Moskow dan daerah metropolitan utama lainnya seperti St Petersburg dan Yekaterinburg.

Ada juga konsentrasi pengikut Islam yang tinggi di wilayah tempat negara-negara Islam pernah hadir sebelum pembentukan sebuah negara Rusia tunggal, kata sang mufti. Saat ini, daerah-daerah yang ia maksud itu adalah Tatarstan, Bashkortostan, Republik Kaukasus Utara.

Dia juga mencatat Islam dinyatakan sebagai agama negara di salah satu negara bagian yang berada di wilayah Rusia sekarang – di Volga Bulgaria, pada tahun 922, atau 66 tahun lebih awal dari diterimanya Kekristenan Ortodoks sebagai agama federasi Kievan Rus.

Mayoritas Muslim Rusia adalah Sunni bermazhab Hanafi, tapi ada juga sejumlah Sunni dari mazhab Syafi’i dan komunitas Syiah, kata Gaynetdin.

Syiah Rusia terutama orang Azeris dan Tajik dari Pamir dan jumlahnya kecil. Kebanyakan Syiah tinggal di Derbent, Dagestan selatan.

“Di Moskow, hanya satu komunitas yang terdaftar sebagai Syiah,” kata dia.

“Kami tidak membagi Muslim menjadi Syiah dan Sunni, karena kami semua adalah anggota komunitas United Muslim Ummah,” kata Gaynetdin.

Ketika tamu dari Timur Tengah mengunjungi Rusia, mereka menyebut pertalian atau ikatan di dalam umat (Muslim) Rusia adalah teladan dan contoh, Mufti menjelaskan.

Dalam Islam, kata dia, tidak dikenal otoritas semacam paus.

“Islam adalah agama yang sangat demokratis, kita tidak memiliki satu hirarki seperti dalam agama Kristen. Tidak ada paus atau Patriark Ekumenis untuk Islam. Dalam Islam, setiap negara memiliki pelembagaan spiritualnya sendiri,” tambahnya.

Jika tren pertumbuhan pemeluk Islam berlanjut seperti saat ini, populasi Muslim diprediksi bisa melebihi jumlah etnis Rusia dalam 30 tahun. (T/R11/RI-1)

Miraj News Agency (MINA)

Wartawan: Syauqi S

Editor: Rudi Hendrik

Ikuti saluran WhatsApp Kantor Berita MINA untuk dapatkan berita terbaru seputar Palestina dan dunia Islam. Klik disini.