Damaskus, MINA – Militer penjajah Zionis Israel pada Rabu (26/2) kembali melancarkan serangan udara di wilayah selatan Suriah, menargetkan beberapa lokasi militer di pinggiran Damaskus dan provinsi Daraa.
Anadolu melaporkan, serangan ini terjadi hanya beberapa jam setelah pemerintah baru Suriah menuntut penarikan segera pasukan Israel dari wilayah selatan Suriah yang diduduki.
Juru bicara Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz menyatakan bahwa serangan tersebut merupakan bagian dari kebijakan baru Israel untuk menenangkan wilayah selatan Suriah dan mencegah pasukan rezim Suriah serta organisasi teroris menetap di zona keamanan yang telah ditetapkan.
Latar belakang ketegangan ini bermula pada Desember 2024, ketika rezim Bashar Al-Assad digulingkan oleh kelompok oposisi Hayat Tahrir al-Sham (HTS).
Baca Juga: Banyaknya Massa yang Hadir dalam Pemakaman Pemimpin Hezbollah Tunjukkan Kekuatan Perlawanan
Setelah penggulingan tersebut, Israel memperluas pendudukannya di Dataran Tinggi Golan dengan merebut zona penyangga demiliterisasi, sebuah tindakan yang melanggar perjanjian pelepasan tahun 1974 antara Israel dan Suriah.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menegaskan bahwa Israel tidak akan mengizinkan pasukan HTS atau tentara Suriah yang baru dibentuk untuk memasuki wilayah selatan Damaskus. Ia juga menuntut demiliterisasi total di provinsi Quneitra, Deraa, dan Suweida dari pasukan rezim baru.
Pemerintah baru Suriah, yang dipimpin oleh Presiden Ahmed al-Sharaa sejak 29 Januari 2025, mengecam keras keberadaan dan tindakan militer Israel di wilayah tersebut, menuntut penarikan segera pasukan Israel dari tanah Suriah. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Parlemen Arab Tegaskan Dukungan terhadap Yordania dan Mesir