Al-Quds, MINA – Kekhawatiran meningkat terkait situasi di Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur (Al-Quds) setelah otoritas pendudukan Israel terus menutup situs suci tersebut untuk hari kelima berturut-turut pada Rabu (4/3) berdasarkan peraturan darurat, sehingga mencegah jamaah Muslim memasuki kompleks selama bulan suci Ramadhan.
Para pejabat dan pengamat Palestina memperingatkan, penutupan berkelanjutan yang dibenarkan otoritas penjajah Israel sebagai bagian dari langkah darurat di tengah ketegangan regional ini dapat dimanfaatkan untuk memaksakan realitas baru di situs tersebut dan semakin membatasi akses Muslim ke Masjid Al-Aqsa.
Polisi Israel telah melarang jamaah mencapai kompleks Al-Aqsa dan mencegah mereka melaksanakan shalat magrib, isya, dan tarawih, sementara otoritas Israel mengklaim langkah tersebut dimaksudkan untuk melindungi kompleks.
Pengamat menilai Israel mungkin mencoba memanfaatkan krisis regional yang lebih luas, khususnya konfrontasi yang melibatkan Israel, Amerika Serikat, dan Iran untuk memajukan kebijakan yang bertujuan mengosongkan masjid dari jamaah Palestina dan membuka jalan bagi perluasan permukiman serta rencana Yudaisasi di Yerusalem.
Baca Juga: Israel Klaim Pembunuhan Khamenei Sesuai Hukum Internasional
Gerakan Hamas menggambarkan penutupan Al-Aqsa yang berkelanjutan sebagai serangan terang-terangan terhadap kebebasan beribadah, dengan menyatakan bahwa ini merupakan bagian dari rencana yang lebih luas untuk memaksakan kendali penuh Israel atas masjid dan membangun realitas baru dengan dalih langkah darurat.
Hamas memperingatkan para pemimpin Israel agar tidak meningkatkan kebijakan semacam itu, dengan menegaskan bahwa upaya mengosongkan masjid menjelang kemungkinan inkursi akan menghadapi perlawanan dari warga Palestina yang bertekad melindungi situs suci tersebut.[]
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Smotrich Ancam akan Hancurkan Beirut Seperti Khan Younis di Gaza
















Mina Indonesia
Mina Arabic