Jalan Mudah Masuk Surga

Oleh : Taufiqurrahman Lc, alumni STAI Al-Fatah, Cileungsi, Bogor.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa menempuh jalan menuntut ilmu Allah akan mudahkan jalan baginya ke surga..” (HR Muslim)

Saya dan –barangkali- Anda bertanya-tanya, “Bagaimana memahami kaitan antara makna kemudahan jalan ke surga yang Allah janjikan bagi para penuntut ilmu dengan realita sejarah betapa rekoso-nya para ulama mencari ilmu?”

Sejarah telah mencatat di berbagai lembaran zamannya kisah tentang kepayahan dan kesulitan yang dialami para ulama dalam mencari ilmu. Mari kita mulai dengan membuka lembaran kisah Baginda Nabi Musa ‘alaihis salam. Kisah pengembaraan seorang Nabi menuntut ilmu, berguru kepada sosok yang Allah anggap lebih ‘alim darinya dan disebut-Nya sebagai, “hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan rahmat kepadanya dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan ilmu kepadanya dari sisi Kami.” (Al Kahfi : 65). Sosok yang kemudian dikenal melalui hadits dan tafsir dengan sebutan Khidhr.

Bersama muridnya, Yusya ibn Nun, sang Nabi pun menempuh jalannya dan hanya berbekal seekor ikan. Perjalanan itu bisa jadi memakan waktu bertahun-tahun. Sebab mereka tidak tahu persis di mana letak pertemuan dua lautan yang Allah isyaratkan. Tapi Musa tak peduli berapa lama pengembaraan ilmu itu akan memakan usianya, menguras tenaganya, menghabiskan bekalnya. Maka ia berikrar di hadapan Yusya, “Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua laut; atau aku akan berjalan (terus sampai) bertahun-tahun.”(Al Kahfi : 60)

Letih, lapar dan dahaga tak kuasa mereka tahan setelah perjalanan yang cukup jauh, menghabiskan sisa malam hingga terbit surya menjelang. “Sungguh kita telah merasa letih karena perjalanan ini,” ujar Musa kepada Yusya sembari memintanya menghidangkan bekal ikan mereka.

Namun, “Tahukan engkau,” jawab muridnya itu, “ketika kita mecari tempat berlindung di batu tadi, maka aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak ada yang membuat aku lupa untuk mengingatnya kecuali setan, dan (ikan) itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali.”

“Itulah tempat yang kita cari,” demikian kata Musa yang kemudian membawa keduanya kembali, menyusuri jejak perjalanan mereka, menuju tempat ikan mengambil jalannya ke laut.

Di sanalah mereka bertemu sang Guru, Khidhr. Selanjutnya, kita tahu bagaimana Musa tak mampu menahan gusar dan keberatannya atas tiga perilaku aneh Khidhr. Merusak perahu, membunuh pemuda belia, dan menegakkan sebuah dinding yang hampir roboh. Namun darinya Musa peroleh banyak pelajaran yang begitu berharga, diantaranya sabar. Ya, utamanya kesabaran dalam menuntut ilmu. Musa memang tak sanggup bersabar. Tapi ia belajar, ilmu hanya akan diraih melalui kesabaran.

Bersama sang Guru Khidhr, Allah juga hendak memantapkan makna kerendahan diri sekaligus kerendahan hati dalam sanubari Musa. Bahwa ilmu yang diraihnya semata karena karunia-Nya. Maka berendah dirilah di hadapan Allah. Dan akan selalu ada orang alim yang mengungguli kealiman para pemilik ilmu. Maka berendah hatilah.

Melalui kisah itu kita belajar betapa payah dan lelah telah menjadi watak bagi jalan para penuntut ilmu. Sehingga dalam renungannya, Imam Ibnul Jauzi –rahimahullah- berkata, “Takjub kurenungi, bahwa segala sesuatu yang berharga itu panjang jalannya, dan banyak lelah untuk meraihnya. Maka ilmu, tatkala menjadi sesuatu yang paling mulia, sungguh tidak akan dicapai kecuali dengan payah, begadang, pengulangan, keterlepasan dari segala kelezatan dan rehat.”

Kisah Ahlus Shuffah

Renungan kecil yang mengajak kita untuk menelusuri lembaran berikutnya tentang kisah Ahlus Shuffah. Siapakah mereka ?

“Mereka,” terang Imam Ath Thayibi dalam Syarh Al Misykat, “adalah para fuqara dan tunawisma dari kalangan Muhajirin yang menempati teras Masjid Al Madinah (Masjid Nabawi) dan tinggal di sana. ”Tempat yang kemudian populer saat itu dengan sebutan “Shuffah”. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam memanggil mereka dengan sebutan al-Aufadh, para utusan. Sedang Abu Hurairah radliallahu’anhu, tokoh populer ahlu shuffah menyebut komunitasnya sebagai Adhyaful Islam, para tamu Islam.

“Suatu hari,” cerita Anas ibn Malik, “Abu Thalhah datang ketika Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam sedang berdiri mengajarkan Al Qur’an kepada penghuni ash-Shuffah dan pada perut beliau ada batu untuk mengganjal tulang belakangnya agar tetap tegak karena lapar.”

“Kesibukan penghuni ash-Shuffa,” lanjutnya, “adalah memahami dan mempelajari al-Qur’an, kegemaran mereka adalah mendendangkan dan mengulang-ulang materi yang sudah diajarkan.”

Jika dalam kemiskinan tidak ada kebaikan sama sekali, tentu kita tidak akan menjumpai petuah baginda Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam, “Aku diperlihatkan surga; kebanyakan penduduknya miskin adanya.”

Bahkan kemiskinan para ahlu shuffah, Rasul shallallahu’alaihi wa sallam sebut, jauh lebih baik bagi mereka dibanding kekayaan yang dengannya mereka berharap bisa bersedekah dan memerdekakan budak. “Tidak,” jelas beliau, “hari ini lebih baik bagi kalian dari hari itu. Nanti kalian (jika kaya) akan saling mendengki, saling menjauhi dan saling membenci.”

Berikutnya saya ingin membagikan kepada Anda satu potongan puzzle kecil yang menjadi bagian lukisan kegigihan salah satu tokoh fuqoha dari generasi tabi’in. Tokoh yang dalam struktur sosial menempati hierarki terendah karena statusnya sebagai budak habsyi. Namun karena keilmuan, zuhud & ibadahnya ia meraih puncak kemuliaan.

Namanya ‘Atha bin Abi Rabah. Tokoh tabi’in yang sejak kecil tumbuh sebagai budak bagi seorang perempuan Makkah. Namun Allah muliakan bocah kecil berkulit hitam itu dengan selalu sibuk mencari ilmu. Maka ia bagi hidupnya menjadi tiga bagian.

Sepertiga untuk Tuannya. Ia curahkan bagian ini dengan pelayanan terbaik untuknya.

Sepertiga lainnya untuk Tuhannya. Ia abdikan bagian ini sepenuhnya untuk Allah Ta’ala. Beribadah dengan penuh keikhlasan.

Sepertiga sisanya ia isi untuk mencari ilmu. Menjadi murid para sahabat Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam yang masih hidup. Maka belajarlah ia kepada Abu Hurairah, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Zubair dan para sahabat lainnya ridhwanullah ‘alaihim.

Dan tatkala Tuannya menyaksikan ‘Atha telah menjual hidupnya untuk Allah dan mewakafkan pikiran, tenaga & jiwanya untuk ilmu, ia merdekakan budak hitam berambut keriting miliknya itu.

Sejak itu ‘Atha mengisi seluruh waktunya di Masjidil Haram. Maka jadilah rumah Allah itu rumahnya bernaung, sekolah tempat ia belajar dan mushola tempat ia beribadah pada-Nya. Lalu Allah muliakan dia dengan mewarisi kedudukan sahabat mulia Abdullah bin Abbas sebagai mufti Makkah.

Hingga “Masjid menjadi tempat tidurnya sepanjang 20 tahun,” takjub Abdul Malik bin Juraih.

‘Atha sukses meraih derajat tinggi di dalam agama dan ilmu karena ia mampu menjadi penguasa bagi jiwa dan waktunya. Ia tidak membiarkan secuilpun jiwanya senang pada sesuatu yang tak bermanfaat. Dan tak sedikitpun waktunya tersibukkan pada obrolan dan amalan sia-sia.

Suatu hari ‘Atha menemui Khalifah Abdul Malik bin Marwan dan beberapa pejabat yang bersamanya. Sang Khalifah meminta sang Mufti menyampaikan segala hajatnya. Maka terucaplah nasihat-nasihat bijak dari lisannya yang lembut. Agar Khalifah menjaga taqwa dan memperhatikan urusan rakyatnya.

“Hai Abu Muhammad,” kata Khalifah padanya, “apa yang kau minta pada kami adalah kebutuhan orang-orang selainmu. Dan sudah kami penuhi itu semua. Lalu apa kebutuhanmu?”

“Aku tidak menghajatkan apapun dari seorang makhluk,” jawab ‘Atha lalu bergegas pergi.

“Inilah kemuliaan. Inilah kehormatan,” takjub Khalifah dibuatnya.

Saudaraku, itulah kemuliaan hakiki. Allah muliakan Musa, ahlus shuffah dan ‘Atha karena kegigihan mereka di jalan ilmu. Jalan yang panjang, terjal dan berliku. Lelah, payah, lapar dan miskin menghiasi setiap langkah kaki mereka.

Namun keikhlasan membuat semua itu terasa nikmat. Mereka menikmati kembara ilmu. Dengan nikmat ini Allah buat hati mereka mudah menghadapi kesulitan. Dia mudahkan hati mereka untuk istiqamah menapaki jalan ilmu. Mengantarnya bersua denganNya di surga.

Maka dari sini kita bisa memaknai dengan baik ungkapan ‘Dia mudahkan jalan baginya menuju surga’.

“Dan kemudahan jalan ke surga,” terang Dr Musa Syahin Lasyin dalam kitabnya Fathul Mun’im, “adalah Allah mudahkan di dunia dengan taufiqNya berupa amal shalih yang mengantarnya ke surga. Atau dimudahkan jalannya di akhirat (saat menyeberangi ash Shirath).” (A2/P2)

Mi’raj News Agency (MINA)