Jangan Cuek Melihat Kemaksiatan

Oleh Bahron Ansori, wartawan MINA

Di dunia ini, tidak semua orang menjalani kehidupan dengan mulus. Artinya, tidak semua orang berprilaku baik, sesuai aturan Allah dan Nabinya. Inilah dunia. Ada orang baik, ada juga orang yang tidak baik. Ada orang yang selalu berusaha istikomah menjalankan syariat Allah Ta’ala. Namun, ada juga orang yang sehari-harinya hidup bergelimang kemaksiatan.

Sebagai orang beriman, sejatinya ia harus bisa mewujudkan buah keimanannya dalam kehidupan nyata. Salah satu wujud dari keimanan seorang muslim adalah ia tidak cuek pada kemaksiatan yang dilakukan oleh orang lain. Apalagi jika kemaksiatan itu terlihat di pelupuk matanya.

Dalam sebuah hadits disebutkan bila ada suatu kemungkaran, maka seorang yang beriman wajib mencegak kemungkaran (kemaksiatan) itu dengan tangannya. Jika ia tak mampu, karena satu dan lain hal, maka ia bisa mencegak kemaksiatan itu dengan lisannya. Namun, jika lisannya pun tak mampu mencegak kemungkaran itu, maka cukup ia mengingkarinya dengan hatinya.

Dari Abu Sa’id Al Khudri Ra, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, bersabda,

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ

“Barangsiapa di antaramu melihat kemungkaran, hendaklah ia merubahnya (mencegahnya) dengan tangannya (kekuasaannya); jika ia tak sanggup, maka dengan lidahnya (menasihatinya); dan jika tak sanggup juga, maka dengan hatinya (merasa tidak senang dan tidak setuju) , dan demikian itu adalah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim)

Dalam kesempatan lain, dari Abu Bakr Ash-Shiddiq Ra, ia berkata :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّكُمْ لَتَقْرَؤُوْنَ هَذِهِ الآيَةَ :ياأيها الذين آمَنُوْا عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ لاَ يَضُرُكُمْ مَنْ ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ  وَإِنِّيْ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: “إِنَّ النَّاسَ إِذَا رَأَوْا الظَّالِمَ فَلَمْ يَأْخُذُوْا عَلَى يَدَيْهِ أَوْشَكَ أَنْ يَعُمَّهُمُ اللهُ بِعِقَابٍ مِنْهُ.

“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kalau kalian benar-benar membaca ayat ini : “Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk.”

Karena sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam  bersabda, “Sungguh manusia bila mereka menyaksikan orang zhalim namun tidak menghentikannya, dikhawatirkan Allah akan menjatuhkan hukumanNya pada mereka semua.”  (Abu Dawud No.4338, At-Tirmidzi  No.2169,  An-Nasai No.11157 dan Ibnu Majah No.4005)

Hadits di atas menegaskan bahwa bila suatu kaum yang ditengah-tengah mereka ada suatu kemaksiatan, sedang mereka mampu mencegahnya, tetapi tidak mau mencegahnya, maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan menimpakan hukuman secara merata kepada mereka.

Syaikh Al Utsaimin mengingatkan, “Kaum Mukminin dengan seluruh elemennya, dari penguasa hingga rakyat, diperintahkan untuk memperbaiki diri mereka dan mengerjakan amal kebaikan dengan sepenuh tenaga dan kemampuan mereka. Setelah itu, juga punya berkewajiban untuk bergerak memperbaiki sesama, dengan menjalankan praktek “amar ma’ruf nahi munkar,” sesuai dengan kemampuan masing-masing, yang merupakan safinatun najaati (sekoci penyelamat). Sebab, hal itu akan menyelamatkan umat dari siksa Allah yang bisa menimpa siapa saja.”

Bahkan, Imam Ibnul Qoyyim Al Jauziyah rahimahullah mengatakan, “Agama dan kebaikan apalagi yang ada pada seseorang yang melihat larangan-larangan Allah dilanggar, batas-batas-Nya diabaikan, agama-Nya ditinggalkan, dan sunnah Rasul-Nya dibenci. Orang yang hatinya dingin, lisannya diam, dia adalah Syaithon Akhros (setan bisu dari jenis manusia), sebagaimana orang yang berbicara dengan kebatilan dinamakan Syaithon Nathiq (setan yang berbicara dari jenis manusia).”

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ لا يَضُرُّكُمْ مَنْ ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman urusilah diri kalian sendiri. Tidak akan membahayakan kalian orang yang sesat itu apabila kalian sudah berada di atas petunjuk.” (Qs. al-Maidah: 105)

Makna dari ayat di atas adalah: Apabila kalian telah melaksanakan kewajiban beramar ma’ruf dan nahi mungkar yang dituntut (oleh agama) itu berarti kalian telah menunaikan kewajiban yang dibebankan kepada kalian. Setelah hal itu kalian kerjakan, maka tidak akan merugikan kalian orang yang sesat itu selama kalian tetap mengikuti petunjuk.

Syaikh Muhammad Al Amin Asy Syinqithi rahimahullah mempunyai beberapa kajian berharga dalam masalah amar ma’ruf nahi mungkar ini ketika beliau menafsirkan di atas dalam kitabnya Adhwa’ul Bayan.

Tiga Bekal Amar Ma’ruf Nahi Mungkar

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Hendaklah orang yang beramar ma’ruf nahi mungkar memiliki tiga bekal : [1] berilmu, [2] bersikap lemah lembut, dan [3] bersabar. Berilmu harus dimiliki sebelum seseorang itu beramar ma’ruf nahi mungkar. Sikap lemah lembut harus ada ketika (di tengah-tengah) melakukan hal ini.  Dan sikap sabar harus dimiliki setelah seseorang beramar ma’ruf nahi mungkar.” (Al Amru bil Ma’ruf wan Nahyu ‘anil Mungkar, hal. 18).

Penjelasan ketiga bekal di atas antara lain sebagai berikut.

Bekal pertama adalah berilmu. Mengenai bekal ilmu ini, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Jika ini merupakan definisi amal sholeh (yaitu harus ikhlas dan mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), maka seseorang yang hendak amar ma’ruf nahi mungkar harus memiliki dua sifat ini (ikhlas dan mengikuti ajaran Nabi). Dan tidak mungkin disebut sebagai amal sholeh jika tidak disertai dengan ilmu dan kepahaman.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Umar bin Abdul Aziz,

مَنْ عَبَدَ اللهَ بِغَيْرِ عِلْمٍ كَانَ مَا يُفْسِدُ أَكْثَرَ مِمَّا يُصْلِحُ

Barangsiapa yang beribadah kepada Allah tanpa ilmu, maka dia akan membuat banyak kerusakan daripada mendatangkan kebaikan.”

Sebagaimana pula ucapan Mu’adz bin Jabal,

العِلْمُ إِمَامُ العَمَلِ وَالعَمَلُ تَابِعُهُ

Ilmu adalah pemimpin amal dan amalan itu berada di belakang setelah adanya ilmu.

Perkara ini adalah suatu yang sudah sangat jelas. Setiap amalan jika tidak disertai dengan ilmu, tentu akan memunculkan kejahilan, kesesatan, dan mempertuhankan hawa nafsu, sebagaimana telah dijelaskan dahulu. Inilah perbedaan antara orang jahiliyah dan orang muslim.

Oleh karena itu, hendaklah seseorang memiliki ilmu terlebih dahulu sebelum beramar ma’ruf nahi mungkar. Hendaklah dia mengetahui keadaan orang yang akan diajak pada kebaikan dan dilarang dari suatu kemungkaran. Hendaklah dia memperhatikan pula maslahat yang akan muncul ketika melakukan hal ini. Jika dia memenuhi syarat ilmu ini, maka itu akan lebih cepat mengantarkan pada tujuan yang diinginkan.” (Al Amru bil Ma’ruf wan Nahyu ‘anil Mungkar, hal. 15).

Bekal kedua adalah lemah lembut dan santun (ar rifq wal hilm). Sikap inilah yang akan membuat orang lain lebih mudah menerima nasehat, berbeda jika kita bertindak kasar apalagi anarki dan membuat onar. Dari ‘Aisyah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ وَيُعْطِى عَلَى الرِّفْقِ مَا لاَ يُعْطِى عَلَى الْعُنْفِ وَمَا لاَ يُعْطِى عَلَى مَا سِوَاهُ

Sesungguhnya Allah Maha Penyantun, Dia menyukai sifat penyantun (lemah lembut). Allah akan memberikan sesuatu dalam sikap santun yang tidak diberikan pada sikap kasar dan sikap selain itu.” (HR. Muslim no. 2593).

Juga dari ‘Aisyah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الرِّفْقَ لاَ يَكُونُ فِى شَىْءٍ إِلاَّ زَانَهُ وَلاَ يُنْزَعُ مِنْ شَىْءٍ إِلاَّ شَانَهُ

Sesungguhnya sikap lemah lembut tidak akan berada pada sesuatu melainkan ia akan menghiasinya (dengan kebaikan). Sebaliknya, jika lemah lembut itu dicabut dari sesuatu, melainkan ia akan membuatnya menjadi buruk.” (HR. Muslim no. 2594).

Bekal Ketiga adalah bersabar. Hendaklah seseorang yang beramar ma’ruf nahi mungkar memiliki sikap sabar. Sebab sudah merupakan sunnatullah bahwa setiap orang yang mengajak kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran pasti akan menghadapi berbagai cobaan dan gangguan. Jika ia tidak bersikap sabar dalam menghadapinya, maka akan timbul banyak kerusakan daripada mendatangkan kebaikan. Mengenai sikap sabar ini, Allah ceritakan dalam wasiat Luqman pada anaknya,

وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

Dan suruhlah manusia mengerjakan yang baik dan cegahlah mereka dari perbuatan yang mungkar, lalu bersabarlah terhadap apa yang akan menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (Qs. Luqman: 17).

Jadi, jangan cuek melihat kemungkaran (kemaksiatan) yang terlihat di depan mata. Belajarlah untuk siap mengingkarinya, jika tidak berani dengan tangan, lisan, maka ingkarilah kemaksiatan itu dengan hati, wallahua’lam. (A/RS3/P1)

 

Mi’raj News Agency (MINA)