Jangan Gembira Atas Musibah Orang Lain

Oleh Bahron Ansori, wartawan MINA

Dalam hidup ini, kadang ujian datang silih berganti. Ujian itu bisa jadi kepahitan hidup karena musibah dan lainnya. Yang perlu disadari bagi setiap muslim saat saudaranya terkena musibah adalah berempati kepadanya, bukan sebaliknya malah bergembira atas musibah yang menimpa saudaranya.

Orang beriman dan orang-orang yang berakal sehat, akan merasa sedih bila melihat sahabat atau saudaranya tertimpa musibah. Ia seolah merasakan apa yang sedang dialami oleh saudaranya. Merasakan kepedihan hidup saudaranya akibat musibah yang menimpa itulah dalam Islam buah dari kaljasadil wahid (satu tubuh). Bila sakit bagian tubuh yang lain, maka sakit pula tubuh yang lain.

Lalu bagaimana jika ada orang yang masih bergembira ketika melihat saudaranya tertimpa musibah? Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melarang seorang muslim menampakkan kegembiraan karena saudaranya tertimpa musibah. Dalam sebuah riwayat disebutkan, dari Watsilah bin Al Asqa’, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لاَ تُظْهِرِ الشَّمَاتَةَ لأَخِيكَ فَيَرْحَمُهُ اللَّهُ وَيَبْتَلِيكَ

“Janganlah engkau menampakkan kegembiraan karena musibah yang menimpa saudaramu. Karena jika demikian, Allah akan merahmatinya dan malah memberimu musibah.”  (HR. Tirmidzi No. 2506)

Setidaknya, ada beberapa pelajaran penting dalam hadits di atas antara lain sebagai berikut:

Pertama, jika kita tidak suka diejek dan ditertawakan orang lain, maka jangan sekali-kali mengejek dan mentertawakan orang lain, karena itulah makna yang disampaikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa menjaga dan memahami atas musibah  yang menimpa orang lain dengan tidak merasa gembira atas musibah yang menimpa mereka.

Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilaliy pernah berkata, “Musibah yang menimpa hamba, boleh jadi sebagai hukuman dan ujian. Hal itu bisa jadi sebagai penebus dosa dan mengangkat derajat. Sehingga jika ada yang gembira atas musibah orang lain, maka tidaklah layak. Karena manusia bisa saja berbuat dosa dan salah. Lantas ia mendapatkan musibah lantaran kesalahannya tersebut. Siapa yang menjamin dirinya sendiri bisa selamat dari dosa?!”

Jadi saudaraku, musibah yang menimpa orang lain siapa pun ia, sejatinya membuat kita justeru ikut berempati dan merasakan kepedihan yang juga dirasakan oleh si penerima musibah. Bukan sebaliknya merasa bersyukur dan sama sekali tidak menampakkan rasa empati.

Kedua, Buya Hamka pernah berpesan, “Janganlah tertawa melihat orang jatuh, sebab tidak ada suatu yang jatuh disengaja, tetapi bersyukurlah kepada Tuhan karena kita sendiri tidak jatuh. Di dalam hal jatuh janganlah percaya kepada diri sendiri dan kepada datarnya jalan karena menurut laporan dinas lalu lintas lebih banyak mobil jatuh di tempat datar. Jika dibandingkan dengan yang jatuh di tempat pendakian atau penurunan yang berbelok-belok.”

Ketiga, mengapa Allah Subhanahu Wa Ta’ala melarang kita untuk tidak  mengejek orang lain? Betapa banyak orang yang pada saat ini mengejek orang lain, dalam lain kesempatan menjadi bahan ejekan. Betapa banyak orang yang saat ini pada posisi “berada”, esok hari berada pada posisi orang “papa?”. Dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah mengingatkan betapa orang yang mengolok-olok dan mentertawakan orang lain belum tentu lebih baik dari orang yang diolok-olok.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

 

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok), dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain, (karena) boleh jadi perempuan (yang diolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok)…” (Qs. Al-Hujurat : 11)

Mari kita memetik pelajaran dari apapun yang ada dalam hidup ini. Terkadang, kita menjadi penonton dalam sebuah peristiwa kehidupan. Bisa jadi, saat ini kita yang melihat orang lain terjatuh. Namun, jangan lupa bahwa tak ada yang bisa memastikan kalau kita akan aman dan tidak akan tergelincir, wallahua’lam.(A/RS3/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)