Jika Pemutus Segala Kenikmatan Itu Tiba, Siapkah Kita?

Oleh Bahron Ansori, wartawan MINA

Sahabat, jangan pernah merasa aman dengan dunia yang kita tempati selama ini. Jangan pernah merasa seolah kita akan hidup selamanya. Sadari dan ingatlah, ada kematian yang setiap waktu sedang menanti kita. Kematian yang pasti akan dialami setiap makhluk yang bernyawa (tadabbur: Qs. Ali Imran : 185)).

Sungguh mengerikan saat Allah mencabut nyawa orang-orang kafir. Allah Ta’ala berfirman, “Sekiranya kamu dapat melihat malaikat-malaikat mencabut nyawa orang-orang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka serta berkata, “Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar,” (niscaya kamu akan merasa sangat ngeri).” (Qs. Al-Anfal : 50).

Cara Malaikat Izrail mencabut nyawa tergantung dari amal perbuatan orang yang bersangkutan. Bila orang yang akan meninggal dunia itu durhaka kepada Allah, maka Malaikat Izrail mencabut nyawa secara kasar. Sebaliknya, bila terhadap orang yang soleh, cara mencabutnya dengan lemah lembut dan hati-hati. Namun demikian peristiwa terpisahnya nyawa dengan raga tetap teramat menyakitkan. Sebagaimana sabda Rasulullah saw, “Sakitnya sakaratul maut itu, seperti tiga ratus kali sakitnya tusukan pedang.” (HR. Ibnu Abu Dunya).

Di dalam kisah Nabi Idris a.s, beliau adalah seorang ahli ibadah, kuat mengerjakan shalat sampai puluhan rakaat dalam sehari semalam dan selalu berzikir di dalam kesibukannya sehari-hari. Catatan amal Nabi Idris a.s yang sedemikian banyak, setiap malam naik ke langit. Hal itulah yang sangat menarik perhatian Malaikat Maut, Izrail. Maka bermohonlah ia kepada Allah Swt agar di perkenankan mengunjungi Nabi Idris a.s. di dunia.

Allah Swt, mengabulkan permohonan Malaikat Izrail, maka turunlah ia ke dunia dengan menjelma sebagai seorang lelaki tampan, dan bertamu ke rumah Nabi Idris a.s. “Assalamualaikum, yaa Nabi Allah,” salam Malaikat Izrail. “Wa’alaikumus salam wa rahmatullah,” jawab Nabi Idris a.s. Nabi Idris a.s. sama sekali tidak mengetahui, bahwa lelaki yang bertamu ke rumahnya itu adalah Malaikat Izrail.

Seperti tamu yang lain, Nabi Idris a.s. melayani Malaikat Izrail, dan ketika tiba saat berbuka puasa, Nabi Idris a.s. mengajaknya makan bersama, namun ditolak oleh Malaikat Izrail. Selesai berbuka puasa, seperti biasanya, Nabi Idris a.s mengkhususkan waktunya “menghadap” Allah sampai keesokan harinya. Semua itu tidak lepas dari perhatian Malaikat Izrail. Juga ketika Nabi Idris terus-menerus berzikir dalam melakukan kesibukan sehari-harinya, dan hanya berbicara yang baik-baik saja.

Pada suatu hari yang cerah, Nabi Idris a.s mengajak jalan-jalan “tamunya” itu ke sebuah perkebunan di mana pohon-pohonnya sedang berbuah, ranum dan menggiurkan. “Izinkanlah saya memetik buah-buahan ini untuk kita,” pinta Malaikat Izrail (menguji Nabi Idris a.s). “Subhanallah, (Maha Suci Allah),” kata Nabi Idris a.s. “Kenapa ?” Malaikat Izrail pura-pura terkejut.

“Buah-buahan ini bukan milik kita,” ungkap Nabi Idris a.s. Kemudian ia berkata, “Semalam Anda menolak makanan yang halal, kini anda menginginkan makanan yang haram.” Malaikat Izrail tidak menjawab. Nabi Idris a.s memperhatikan wajah tamunya yang tidak merasa bersalah. Diam-diam Nabi Idris a.s penasaran tentang tamu yang belum dikenalnya itu. Siapakah gerangan ? pikir Nabi Idris a.s.

“Siapakah engkau sebenarnya ?” tanya Nabi Idris a.s. “Aku Malaikat Izrail,” jawab Malaikat Izrail. Nabi Idris a.s terkejut, hampir tak percaya, seketika tubuhnya bergetar tak berdaya. “Apakah kedatanganmu untuk mencabut nyawaku?” selidik Nabi Idris a.s serius.

“Tidak,” senyum Malaikat Izrail penuh hormat. “Atas izin Allah, aku sekedar berziarah kepadamu,” jawab Malaikat Izrail. Nabi Idris manggut-manggut, beberapa lama kemudian ia hanya terdiam. “Aku punya keinginan kepadamu,” tutur Nabi Idris a.s “Apa itu? katakanlah !” jawab Malaikat Izrail.

“Kumohon engkau bersedia mencabut nyawaku sekarang. Lalu mintalah kepada Allah Swt untuk menghidupkanku kembali, agar bertambah rasa takutku kepadaNya dan meningkatkan amal ibadahku,” pinta Nabi Idris a.s. “Tanpa seizin Allah, aku tak dapat melakukannya,” tolak Malaikat Izrail.

Pada saat itu pula Allah Swt memerintahkan Malaikat Izrail agar mengabulkan permintaan Nabi Idris a.s. Dengan izin Allah Malaikat Izrail segera mencabut nyawa Nabi Idris a.s., sesudah itu beliau wafat. Malaikat Izrail menangis, memohonlah ia kepada Allah Swt agar menghidupkan Nabi Idris a.s. kembali. Allah mengabulkan permohonannya. Setelah dikabulkan Allah, Nabi Idris a.s. hidup kembali.

“Bagaimanakah rasa mati itu, sahabatku?” tanya Malaikat Izrail. “Seribu kali lebih sakit dari binatang hidup dikuliti,” jawab Nabi Idris a.s. “Caraku yang lemah lembut itu, baru kulakukan terhadapmu,” kata Malaikat Izrail.

Saudaraku, itulah sepenggal kisah sakratul maut yang dialami oleh Nabi Idris a.s. Lalu bagaimana jika sakratul maut itu terjadi pada kita? Sudahkah kita mempersiapkan diri untuk menghadapi sakaratul maut?

Kematian merupakan persinggahan pertama manusia di alam akhirat. Al Qurthubiy berkata dalam At Tadzkirah, “Kematian ialah terputusnya hubungan antara ruh dengan badan, berpisahnya kaitan antara keduanya, bergantinya kondisi, dan berpindah dari satu negeri ke negeri lainnya.”

Yang dimaksud dengan kematian dalam pembahasan berikut ini adalah al maut al kubra, sedangkan al maut ash shughra sebagaimana dimaksud oleh para ulama, ialah tidur. (Qs. Az Zumar : 42). (Al Qiyamah As Sughra, Syaikh Dr. Sulaiman Al Asyqar, hal. 15-16 cet. Dar An Nafais).

Saudaraku, diakui atau tidak, suka atau tidak, sesungguhnya kematian itu milik kita, milik setiap manusia. Bila saatnya tiba, entah di belahan bumi mana kita berada, entah bagaimana keadaan kita, kaya miskin, pria wanita, tua muda, berpendidikan atau pun tidak, maka kematian pasti akan datang menjemput (Qs. Al A’raf: 34).

Bisa jadi, kita lolos dari kejaran binatang buas atau musuh, selamat dari ancaman bencana alam atau terhindar dari kecelakaan lalulintas. Tapi, mungkinkah kita bisa lolos dari kejaran maut? (Qs. An Nisa : 78). Wallahua’lam.(A/RS3/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)