Kenapa Rizki Sempit?

Oleh Bahron Ansori, wartawan MINA

Seringkali kita merasa kesempitan dalam hidup ini. Sempit karena rizki yang kita dapatkan seolah tidak pernah mencukupi apa yang kita butuhkan selama ini. Selalu saja hati kita menjadi galau, gundah gulana, karena berfikir kerasa bagaimana lagi mencari jalan untuk mencukupi kebutuhan hidup.

Kebanyakan kita, jika masalah kesempitan rizki menghampiri, sekali lagi kita berfikir keras untuk bekerja lebih giat dan keras lagi, berusaha lebih banyak, melangkah lebih jauh dan seterusnya. Apakah salah? Tentu saja tidak salah. Namun, jangan lupa, sejatinya rizki itu adalah milik Allah, dari Allah dan Allah titipkan kepada setiap hamba yang dikehendaki-Nya.

Maksiat dan dosa

Merenunglah, sebab bisa jadi sedikitnya rizki yang Allah berikan pada kita bukan karena Allah tak sayang kepada kita. Bukan pula karena Allah tak adil pada hamba-Nya. Namun, bisa jadi seretnya rizki yang kita terima akibat kemaksiatan dan dosa yang kita lakukan.

Ibnul Qayyim Al-Jauziyah mengatakan, “Ada empat hal penghambat rizki: (1) Tidur pagi, (2) Sedikit shalat, (3) Bermalas-malasan, (4) Sifat khianat. (Zad Al-Ma’ad, 4:378).

Pertama, tidur pagi. Kenapa tidur pagi bisa jadi penghambat datangnya rizki? Karena waktu pagi adalah waktu penuh berkah. Dari sahabat Shakhr Al-Ghamidiy radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

اللَّهُمَّ بَارِكْ لأُمَّتِى فِى بُكُورِهَا

“Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya.”

Bila Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengirim pasukan, beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam mengirimnya pada pagi hari. Sahabat Shakhr sendiri (yang meriwayatkan hadits ini) adalah seorang pedagang. Dia biasa membawa barang dagangannya ketika pagi hari. Karena hal itu, dia menjadi kaya dan banyak harta. Abu Daud mengatakan bahwa dia adalah Shakhr bin Wada’ah. (HR. Abu Daud, no. 2606. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani).

Sebaliknya, kadang kebanyakan dari kita memanfaatkan waktu Shubuh dan pagi untuk; malas dan enggan bangun shubuh. Kalau tidak bangun Shubuh, bangun paginya jam 6 saat matahari telah terbit.

Atau setelah Shubuh, tidak rutinkan dzikir pagi atau baca Al-Qur’an, malah kembali lagi ke tempat tidur. Kalau menunggu pun bada Shalat Shubuh di masjid sampai matahari meninggi (kira-kira 15 menit setelah matahari terbit) lalu mengerjakan Shalat Isyraq dua raka’at akan mendapatkan pahala haji dan umrah yang sempurna, sempurna dan sempurna.

Lebih bahaya lagi, jika meninggalkan shalat Shubuh, maka akan lepas dari jaminan Allah. Dari Jundab bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ صَلَّى الصُّبْحَ فَهُوَ فِى ذِمَّةِ اللَّهِ فَلاَ يَطْلُبَنَّكُمُ اللَّهُ مِنْ ذِمَّتِهِ بِشَىْءٍ فَيُدْرِكَهُ فَيَكُبَّهُ فِى نَارِ جَهَنَّمَ

Siapa yang shalat Subuh, maka ia berada dalam jaminan Allah. Oleh karena itu, janganlah menyakiti orang yang shalat Shubuh tanpa jalan yang benar.  Jika tidak, Allah akan menyiksanya dengan menelungkupkannya di atas wajahnya dalam neraka jahannam.” (HR. Muslim, no. 657).

Bahkan yang sering tidak shalat Shubuh termasuk orang munafik.

لَيْسَ صَلاَةٌ أثْقَلَ عَلَى المُنَافِقِينَ مِنْ صَلاَةِ الفَجْرِ وَالعِشَاءِ ، وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْواً

“Tidak ada shalat yang lebih berat bagi orang munafik selain dari shalat Shubuh dan shalat ‘Isya’. Seandainya mereka tahu keutamaan yang ada pada kedua shalat tersebut, tentu mereka akan mendatanginya walau sambil merangkak.” (HR. Bukhari, no. 657).

Kedua, sedikit shalat berarti kurang ketakwaan, padahal takwa itulah pembuka pintu rezeki. Allah Ta’ala berfirman dalam ayat,

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (2) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا (3)

Siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan Dia memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi segala sesuatu.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3).

Ketiga, bermalas-malasan juga jadi sebab rizki sulit datang. Karena seorang muslim dituntut kerja dan tawakkal pada Allah. Lihatlah bagaimana burung seperti yang disebutkan dalam hadits berikut.

لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا تُرْزَقُ الطَّيْرُ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا

“Seandainya kalian benar-benar bertawakal kepada Allah, tentu kalian akan diberi rizki sebagaimana burung diberi rezeki. Ia pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali pada sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. Tirmidzi, no. 2344; Ibnu Majah, no. 4164; Ahmad, 1:30. Abu ‘Isa Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).

Imam Ahmad pernah ditanya mengenai seseorang yang cuma mau duduk-duduk saja di rumahnya atau hanya berdiam di masjid, dan ia berkata, “Aku tidak mau bekerja sedikit pun dan hanya mau menunggu sampai rizkiku datang.”

Imam Ahmad pun berkata, “Orang ini benar-benar bodoh. Padahal Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda – sebagaimana hadits burung di atas – bahwa burung saja bekerja dengan berangkat pada pagi hari. Para sahabat Nabi yang mulia pun berdagang dan bekerja dengan hasil kurma mereka. Merekalah sebaik-baik teladan.” (Fath Al-Bari, 11:306)

Jadi tidaklah boleh beralasan karena sibuk ibadah dan berdakwah, sampai malas bekerja.

Ibnu ‘Allan mengatakan bahwa As-Suyuthi berkata, “Al-Baihaqi mengatakan dalam Syu’ab Al-Iman, “Hadits ini bukanlah dalil untuk duduk-duduk santai, enggan melakukan usaha untuk memperoleh rizki. Bahkan hadits ini merupakan dalil yang memerintahkan untuk mencari rizki karena burung tersebut pergi pada pagi hari untuk mencari rizki.” (Dalil Al-Falihin, 1:335)

Inilah keutamaan bagi seseorang yang rajin mencari nafkah untuk keluarganya.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلاَّ مَلَكَانِ يَنْزِلاَنِ فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا ، وَيَقُولُ الآخَرُ اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفً

“Tidaklah para hamba berpagi hari di dalamnya melainkan ada dua malaikat yang turun, salah satunya berkata, “Ya Allah, berilah ganti kepada orang yang senang berinfak.” Yang lain mengatakan, “Ya Allah, berilah kebangkrutan kepada orang yang pelit.” (HR. Bukhari, no. 1442 dan Muslim, no. 1010).

Keempat, tidak amanah, ini juga jadi sebab orang sulit percaya. Kalau yang lain sulit percaya, bagaimana ia mudah mendapatkan pekerjaan, mendapatkan tanggungjawab sehingga mendapatkan riziki dengan mudah?

Fahamilah, orang yang berkhianat terhadap amanat pun menyandang salah satu sifat munafik. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ

“Tiga tanda munafik adalah jika berkata, ia dusta; jika berjanji, ia mengingkari; dan ketika diberi amanat, maka ia ingkar.” (HR. Bukhari, no. 33 dan Muslim, no. 59).

Keempat penyebab sulitnya rizki seseorang di atas adalah perbuatan buruk (maksiat), karena itu segeralah mohon ampun kepada Allah Ta’ala agar Allah mudahkan, lancarkan rizki kita. Perbanyaklah mohon ampun (istighfar) kepada Allah sebagaimana firman-Nya,

Allah Ta’ala berfirman,

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا

Maka aku berkata (kepada mereka), “Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, Sungguh, Dia Maha Pengampun.” (Qs. Nuh: 10).

Dalam ayat lain, Allah Ta’ala juga memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk memohon ampunan,

وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَىٰ قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَ

 Dan (Hud berkata), “Wahai kaumku! Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras, Dia akan menambahkan kekuatan di atas kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling menjadi orang yang berdosa.” (Qs. Hud: 52).

Allah Ta’ala akan menjamin segala hal yang menyenangkan hati seorang hamba yang selalu memohon ampun kepada Allah. Inilah dalilnya, Allah Ta’ala berfirman,

وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا

“…dan Dia memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan kebun-kebun untukmu dan mengadakan sungai-sungai untukmu.” (Qs. Nuh: 12)

Dari ayat-ayat di atas, Allah mengatakan bahwa sumber dari kesempitan adalah disebabkan karena dosa dan kesalahan yang dilakukan seorang hamba. Maka istighfar dan taubat adalah jalan pembuka dari segala kesulitan termasuk rizki, wallahua’lam.(A/RS3/P1)

 

Mi’raj News Agency (MINA)