Jujur Kunci Ketenangan Hidup

Oleh : K.H. Bachtiar Nasir (Da’i dan Ulama yang mengkaji dan mendalami Ilmu-Ilmu Al-Qur’an)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قُلْ صَدَقَ ٱللَّهُ ۗ فَٱتَّبِعُوا۟ مِلَّةَ إِبْرَٰهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ

Katakanlah: “Benarlah (apa yang difirmankan) Allah”. Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang musyrik. (QS Ali Imran ayat 95).

Jujurlah dalam beriman, karena kejujuran naungan iman itulah terletak kebahagiaan dan kedamaian hidup yang kita cari. Jangan sampai kita berlaku seperti orang-orang munafik yang menggunakan keimanannya hanya sebagai tameng.

Imannya bukanlah hal jujur sehingga ia mudah sekali berubah warna dan bentuk sikap. Semata hanya sebagai permainan; yang kelak juga akan mempermainkan dan menyesatkan mereka. Karena itu, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya agar kita terhindar dari sikap dan akibat dari kemunafikan.

Langkanya Kejujuran

Kejujuran hari ini adalah barang yang mahal. Seringkali dengan mudahnya kita melakukan kebohongan hanya demi kepentingan dan menutupi ketidakmampuan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kejujuran berarti kesesuaian antara ucapan dan perbuatan. Ketegasan hati yang tidak mendua. Atau, kesesuaian antara informasi dan fakta yang terjadi.

Hari ini mencari orang pintar itu mudah. Namun, mencari orang yang pintar yang jujur adalah perkara yang sulit. Rupanya kepintaran tidaklah berbanding lurus dengan kejujuran. Belum tentu orang yang pintar juga adalah orang

Sesungguhnya ini adalah keadaan yang berbahaya. Kita bisa melihat hari ini, para koruptor kebanyakan adalah orang pintar. Entah itu ilmu agamanya atau ilmu science. Namun, merekalah yang menyebabkan kerusakan sedemikian parah di negeri ini.

Apalagi di masa pemilu seperti ini, kata jujur dan adil yang mesti ditegakkan; menjadi barang mahal. Banyak orang jujur yang hari ini terpaksa harus membayar konstituen karena para pembohong banyak yang melakukan kejahatan dengan membayar konstituen. Sehingga mau tidak mau, orang semula jujur dan baik kemudian terperangkap dalam sistem yang jahat.

Nantinya, dari rangkaian proses ini lahirlah pemimpin yang pembohong. Pemimpin yang dapat ditawar dengan ungkapan “wani piro” dan kita akan terus dibohongi dan membohongi diri sendiri karena ikut andil di dalamnya.

Dalam dunia kerja, orang kerap berbohong adalah orang yang tidak akan pernah mencapai karier yang baik. Apalagi dalam dunia bisnis. Seorang pembohong adalah orang yang paling dimusuhi.

Kita sama-sama tahu bahwa salah satu pondasi berbisnis adalah kepercayaan. Lingkaran bisnis pastilah akan mewaspadai orang ini dan tak akan pernah memberi tempat kepadanya.

Jika kita ingin menjadi pribadi yang jujur, maka langkah pertama adalah menaati Allah Azza wa Jalla. Ini karena Allah Azza wa Jalla adalah dzat yang memiliki tingkat kejujuran tertinggi dan kita wajib menaati perintah-Nya untuk berlaku jujur karena Dialah yang Maha Benar dan sampai kapan pun selalu benar.

Sebaliknya orang musyrik adalah mereka yang paling pembohong. Karena bagaimana mungkin mereka yang sudah dirawat dan dikasihi Allah kemudian menduakan Dia. Orang-orang yang pergi ke dukun agar keinginannya terkabul atau orang yang meminjam kepada pinjaman online (pinjol) bukan untuk kepentingan yang darurat dan benar-benar terdesak; merekalah orang-orang yang telah mengorbankan diri dan keluarganya sendiri. Padahal mereka tahu, pinjol adalah rentenir modern dan haram berhubungan masalah uang dengan mereka yang memakan riba.

Kalau kita tidak sungguh-sungguh menjalankan kejujuran, lama kelamaan akan rusak tatanan nilai dan kesehatan mental yang kita miliki. Masalah ini akan merambat pada sektor-sektor lain yang lebih besar dan lebih penting, hingga akhirnya bangsa ini akan menjadi bangsa yang rusak dan direndahkan oleh negara lain.

Kerusakan terbesar adalah kesyirikan yang menjangkit. Karena, tidak yakin kepada kekuasaan Allah Ta’ala dan menggantungkan harapan kepada selain Allah Ta’ala. Inilah kerusakan besar dalam beragama dan menjadi pangkal kerusakan terberat dalam hidup ini.

Dalam perkara kebenaran, siapakah yang paling benar semua sisinya kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala?

ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۚ لَيَجْمَعَنَّكُمْ إِلَىٰ يَوْمِ ٱلْقِيَٰمَةِ لَا رَيْبَ فِيهِ ۗ وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ ٱللَّهِ حَدِيثًا

“Allah, tidak ada tuhan selain Dia. Sungguh, Dia pasti mengumpulkan kamu pada hari Kiamat yang tidak ada keraguan di dalamnya. Siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Allah?” (QS. An-Nisa ayat 87)

Allah-lah Yang Maha Tahu dan Maha Benar dengan apa yang telah, tengah, dan akan terjadi. Allah Ta’ala pasti jujur dan selamanya benar. Oleh karena itu, orang yang senantiasa membenarkan firman Allah dan menaati perintah-Nya pasti akan mendapatkan kepastian dan kebenaran yang tidak akan pernah berubah. Inilah pegangan terkokoh dan sandaran terkuat dalam hidup.

Sehingga, seseorang yang senantiasa berpegang kepadanya akan merasakan hidup yang tenang dan bahagia. Karena tidak ada kebimbangan dan ketakutan. Semuanya pasti dan selamanya tidak akan berubah. Ibarat membenarkan firman-Nya bahwa tidak akan keretakan di langit, maka akan seperti itulah selamanya kebenaran yang Allah Ta’ala firmankan dan perintahkan di dalam kalam-Nya.

وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ سَنُدْخِلُهُمْ جَنَّٰتٍ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا ۖ وَعْدَ ٱللَّهِ حَقًّا ۚ وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ ٱللَّهِ قِيلًا

“Orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan saleh, kelak akan Kami masukkan ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah telah membuat suatu janji yang benar. Dan siapakah yang lebih benar perkataannya dari pada Allah?” (QS. Annisa ayat 122).

Sementara Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dijuluki Al-Amin adalah contoh nyata dari kejujuran yang ada di dalam kehidupan manusia. Sebelumnya ada Ibrahim as, sang Khalilullah yang sangat pemberani.

Mengapa Ibrahim bisa menjadi sangat pemberani? Tak lain, karena dia berada dalam sisi yang benar dan terang. Tiada keraguan sehingga tidak ada kegentaran dalam mengusung ketauhidan Allah Azza wa Jalla.

Al-Quran menegaskan bahwa para Nabi dan Rasul adalah orang-orang yang senantiasa jujur. Oleh karena itu, janganlah berbohong dalam aktivitas apa pun dalam hidup kita. Sesungguhnya mereka yang dihormati di dunia ini dan menjadi orang-orang yang diberi kedudukan mulia di surga nanti adalah mereka yang senantiasa menjunjung tinggi kejujuran.

Hiduplah dengan jujur dan hadapi segala halangan dan rintangan yang ada dalam kehidupan dengan kejujuran. Walaupun jujur sama dengan meminum sebutir pil yang pahit. Namun, anggaplah itu adalah obat yang akan membuat kita kuat menjalani kehidupan dengan tanpa tersesat, hingga sampai ke surga-Nya kelak. Insyaallah. (AK/R4/RS2)

Mi’raj News Agency (MINA)