Oleh Imaam Yakhsyallah Mansur
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُم مِّنۢ بَعْدِ ذَٰلِكَ فَهِيَ كَٱلْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً ۚ وَإِنَّ مِنَ ٱلْحِجَارَةِ لَمَا يَتَفَجَّرُ مِنْهُ ٱلْأَنْهَـٰرُ ۚ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَشَّقَّقُ فَيَخْرُجُ مِنْهُ ٱلْمَآءُ ۚ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ ٱللَّهِ ۗ وَمَا ٱللَّهُ بِغَـٰفِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ (البقرة [٢]: ٧٤)
Baca Juga: Boleh Bersedih, Tapi Jangan Larut dalam Kesedihan
“Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras, sehingga seperti batu, bahkan lebih keras. Padahal di antara batu-batu itu sungguh ada yang darinya memancar sungai-sungai, ada pula yang terbelah lalu keluar mata air darinya, dan ada pula yang meluncur jatuh karena takut kepada Allah. Dan Allah tidak lengah terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-Baqarah [2]: 74).
Imam Ath-Thabari dalam kitab Jami’ul Bayan fi Ta’wilil Qur’an menjelaskan, bahwa ayat ini menggambarkan hati orang Yahudi yang telah menjadi keras setelah seseorang melihat kebenaran, mengetahuinya, tetapi tidak mau tunduk dan mengikutinya.
Frasa أَشَدُّ قَسْوَةً ۚ menunjukkan keadaan hati yang sangat keras. Sebab, ada sebagian batu masih dapat memancarkan air, terbelah lalu mengeluarkan mata air, bahkan ada yang jatuh karena takut kepada Allah Ta’ala. Sedangkan hati yang keras tidak dapat menerima nasihat dan kebenaran sedikit pun.
Kata قَسْوَةً ۚ merupakan keadaan keras, kering dan jauh dari sikap tunduk kepada Allah Ta’ala. Dengan demikian, kerasnya hati bukan sekadar persoalan emosi, tetapi keadaan ketika ia menolak dan tidak dapat lagi menerima kebenaran dan nasihat.
Baca Juga: Komunitas Sebagai Fondasi Umat dan Benteng Generasi
Penyebab kekerasan hati orang Yahudi digambarkan dalam ayat lainnya, yakni dalam surah Al-Ma’idah [5]: 13. Kerasnya hati tidak lahir dalam sekejap. Salah satu akarnya adalah pelanggaran terhadap perjanjian dengan Allah Ta’ala.
Kekerasan hati itu berdampak pada perilaku sosial mereka. Bangsa yang hatinya telah membatu akan kehilangan rasa empati dan belas kasih terhadap sesama manusia. Mereka menjadi kaku, egois, dan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan duniawi.
Dalam perspektif psikologi sejarah, bangsa yang terkunci hatinya akan selalu merasa terancam dan berusaha menghancurkan pihak lain sebelum mereka dihancurkan. Mereka membangun penghalang untuk menolak kebenaran yang datang dari luar kelompoknya.
Sifat keras hati kaum Yahudi menjadi sebab utama, mengapa berbagai resolusi PBB, kesepakatan perdamaian dan segala bentuk perjanjian selalu menemui jalan buntu ketika berhadapan dengan mereka.
Baca Juga: Ustaz Amri Fatmi: Hidup Mewah Berdampak Luas pada Kerusakan Alam
Ketika sumber masalahnya ada pada hati yang telah membatu, maka pendekatan diplomatik dan kesepakatan perdamaian hanyalah hiasan belaka. Kekerasan hati ibarat penjara paling gelap yang dibangun oleh manusia untuk dirinya sendiri, yakni ketika nasihat kebenaran hanya dianggap sebagai gangguan bagi syahwat kekuasaan.
Kesombongan juga menjadi pintu yang mengeraskan hati. Kebenaran yang datang melalui para nabi tidak lagi diterima sebagai petunjuk, tetapi justru dilawan ketika bertentangan dengan kepentingan dan keinginan mereka.
Ketika kesombongan, pembangkangan, dan kecintaan berlebihan kepada kepentingan dunia menguasai hati, rasa empati dapat terkikis. Kebenaran dipandang sebagai ancaman, sementara kepentingan sendiri dibela mati-matian.
Meskipun ayat ini berbicara dalam konteks kaum Yahudi, hal ini juga menjadi pelajaran dan peringatan bagi manusia secara keseluruhan, terutama umat Islam. Allah Ta’ala memperingatkan agar manusia tidak menjadi pribadi yang acuh ketika melihat penderitaan orang lain.
Baca Juga: Kehidupan Berbangsa dalam Perspektif Al-Qur’an
Karena itu, ukuran kepekaan manusia bukan hanya seberapa banyak ia mengetahui sebuah peristiwa, tetapi bagaimana pengetahuan tersebut menggerakkan sikap dan tindakannya.
Imam Al-Ghazali rahimahullah mengingatkan tentang penyakit hati yang membuat manusia kehilangan kepekaan terhadap kebenaran. Hati yang sehat bukan sekadar hati yang mengetahui mana yang benar dan salah, tetapi hati yang mampu mendorong pemiliknya untuk bertindak sesuai dengan pengetahuan tersebut.
Dalam konteks krisis Palestina, pesan moral ayat ini menjadi relevan. Penderitaan manusia menjadi ujian bagi nurani: apakah berita tentang penderitaan hanya berhenti sebagai informasi, atau melahirkan kepedulian dan tindakan?
Pertanyaan itu semakin terasa ketika dunia menyaksikan genosida di Gaza, penderitaan dan kehancuran di berbagai wilayah Palestina. Ketika kritik internasional terus disampaikan, bagaimana para pemimpin Israel den Amerika Serikat (AS) meresponsnya.
Baca Juga: Perang Gaza dan Perubahan Persepsi Publik Amerika terhadap Palestina
Ketika puluhan ribu anak-anak, wanita, dan warga sipil menjadi korban kebiadaban Zionis Israel. Masihkah dunia bersimpati terhadap mereka. Di sidang umum PBB lah, hal itu menggema.
Walkout Sebagai Simbol Protes Dunia
Ketika Benjamin Netanyahu – yang menjadi representasi mayoritas kaum Yahudi saat ini -menyampaikan pidatonya dalam Sidang Umum PBB di New York, 24 September 2026 lalu. Hampir semua delegasi negara-negara meninggalkan ruang sidang (walkout), kecuali hanya beberapa delegasi saja yang tetap berada di sana.
Walkout tersebut bukan sekadar pernyataan tidak setuju pada pidato yang disampaikan. Lebih dari itu, aksi keluar ruangan dalam forum diplomatik merupakan sebuah tindakan yang sarat dengan pesan dan makna.
Baca Juga: Berubah ke Arah yang Lebih Baik
Netanyahu sendiri merespons walkout itu dengan menyebut para delegasi yang meninggalkan ruangan sebagai moral cowards (pengecut moral). Setelah itu ia tetap melanjutkan pidatonya dan membantah tuduhan bahwa Israel melakukan genosida di Gaza.
Aksi walkout dapat dipahami sebagai salah satu bentuk ekspresi ketidaksetujuan diplomatik yang muncul ketika sebuah delegasi tidak ingin memberikan persetujuan kepada narasi yang disampaikan. Sementara Netanyahu membawa narasi membenarkan tindakannya dan menolak berbagai kritik internasional. Ia menolak tuduhan genosida di Gaza dan menyerang sejumlah pihak yang menurutnya menyebarkan informasi yang keliru tentang Israel.
Inilah sebagian bukti tentang kaum Yahudi yang hatinya keras membatu, tidak lagi peka dan mampu merasakan penderitaan rakyat Palestina, tidak pula mendengar kritik dari masyarakat internasional.
Narasi pembelaan Netanyahu tidak mampu menghapus fakta bahwa tindakan Israel di Gaza telah menjadi persoalan serius dalam hukum internasional. Mahkamah Pidana Internasional (ICC) pada 21 November 2024 menerbitkan surat perintah penangkapan terhadap Netanyahu.
Baca Juga: Al-Aqsa Cahaya Keberkahan yang Menyinari Alam Semesta Sepanjang Masa
ICC menyebut Netanyahu sebagai pihak yang bertanggung jawab atas sejumlah kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan, termasuk penggunaan senjata kelaparan untuk membunuh penduduk sipil.
Dalam tradisi diplomasi internasional, walkout memang bukan mekanisme hukum yang dapat menghentikan sebuah pidato atau mengubah keputusan sidang. Namun itu menunjukkan bahwa mereka tidak ingin memberikan legitimasi simbolik melalui kehadiran mereka.
Pesan mereka tegas: dunia internasional tidak sudi mendengar narasi-narasi kebohongan dan negasi Israel atas kejahatan yang mereka lakukan.
Ketika Alibi Justru Memperkuat Kritik Dunia
Baca Juga: Keutamaan Al-Qur’an: Dari Musabaqah untuk Diamalkan dalam Kehidupan
Ada sebuah ironi dalam pidato Netanyahu. Ia tidak menunjukkan perubahan dalam narasi politiknya. Ia tetap menolak tuduhan genosida dan menyalahkan pihak-pihak yang dianggapnya sebagai pendukung Hamas dan Palestina.
Itulah kesalahan fatalnya. Pidatonya tidak menjadikan orang lain bersimpati, justru membuat masyarakat dunia semakin membencinya dan semakin membuka kedok kebohongannya.
Ia berbicara sebagai pemimpin yang kebijakannya telah menjadi objek kecaman dunia internasional. Pidatonya justru semakin memperlihatkan jurang antara negaranya dengan komunitas internasional semakin dalam.
Sebuah alibi tidak akan mampu menghapus fakta di lapangan, hanya karena disampaikan dari podium paling bergengsi. Ketika ia menyampaikan pembelaan, justru yang terbayang di benak para delegasi adalah kekejaman dan kebrutalannya.
Baca Juga: Hukuman Potong Tangan: Alternatif Mengatasi Kejahatan Korupsi
Saat ini, Zionis Israel yang didukung AS semakin kehilangan legitimasinya di mata masyarakat dunia. Kehadirannya di berbagai forum menjadi gunjingan dan cemoohan. Warganya yang berkunjung ke berbagai negara, dipersekusi layaknya penjahat yang membahayakan masyarakat.
Pertarungan antara Kekuatan Militer dan Hati Nurani
Apakah kekuatan militer dan dana akan mampu menundukkan nurani manusia? Ataukah keadilan pada akhirnya akan mencari ruangnya sendiri dalam forum-forum dunia?
Walkout di forum PBB mungkin hanya berlangsung beberapa menit. Tetapi pesan moralnya dapat bertahan jauh lebih lama, bahkan ketika pertemuan itu telah usai dan para delegasi meninggalkan arena.
Baca Juga: Doa Memohon Kekayaan yang Meningkatkan Takwa dan Memperluas Manfaat
Kekuatan militer mungkin dapat memenangkan sebuah pertempuran, tetapi ia tidak akan mampu mengalahkan hati nurani. Senjata dapat memaksa seseorang untuk diam, tetapi tidak akan mampu membuatnya patuh dan mengikuti setiap narasinya.
Begitu pula kekuatan ekonomi dan dukungan diplomatik mungkin dapat mempertahankan posisi suatu negara dalam jangka waktu tertentu, tetapi legitimasi, kepercayaan dan keadilan pasti akan menemukan jalan untuk melawannya.
Gagasan tentang keadilan sebagai kekuatan moral juga pernah disuarakan Martin Luther King Jr. Dalam perjuangannya melawan segregasi rasial di Amerika Serikat. Ia menggunakan ungkapan the arc of the moral universe is long, but it bends toward justice (busur moral panjang membentang, tetapi ia pasti membengkok menuju keadilan).
Ungkapan tersebut tidak berarti bahwa keadilan akan datang dengan sendirinya tanpa perjuangan. Justru sebaliknya, sejarah perjuangan King menunjukkan bahwa perubahan membutuhkan keberanian, ketekunan, dan kesediaan menghadapi tekanan. Keadilan tidak hadir dalam waktu singkat, tetapi memalui suara yang terus menggema hingga mengubah kesadaran masyarakat dunia.
Karena itu, walkout dari ruang sidang PBB ketika Netanyahu berpidato, bukan sekadar aksi meninggalkan sebuah ruangan, tetapi juga sebagai bagian dari bahasa simbolik dalam diplomasi untuk mementang kedzaliman dan penjajahan.
Pada akhirnya, pertarungan saat ini bukan soal perang fisik, tetapi lebih dari itu, antara kekuasaan dan legitimasi, antara propaganda dan fakta, antara kepentingan politik dan prinsip kemanusiaan, dan antara kekuatan fisik dan nurani.
Sejarah tidak hanya mencatat siapa yang berbicara di hadapan delegasi dunia, tetapi juga akan mencatat siapa yang memilih mengambil sikap tegas terhadap persoalan kemanusiaan ketika dunia sedang menyaksikan penderitaan dan kezaliman terhadap rakyat Palestina.
وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic