DULU… suara adzan itu seperti panggilan cinta. Baru terdengar “Allahu Akbar… Allahu Akbar…” hati langsung tersentuh. Orang-orang bergegas ambil wudhu. Pedagang menutup dagangan. Anak-anak lari ke masjid. Bahkan para ulama dulu mengatakan, “Kami merasa ada yang hilang kalau terlambat shalat berjamaah.” Tapi hari ini?
Adzan sering cuma jadi suara latar. Masuk telinga, mentok di kepala, gak sampai ke hati. Yang tetap main game lanjut game. Yang sedang scroll media sosial lanjut scroll. Yang lagi nongkrong lanjut ketawa-ketawa. Mirisnya, banyak muslim sekarang lebih cepat respon notifikasi HP daripada panggilan Allah.
Inilah salah satu fenomena akhir zaman yang sangat menyedihkan. Hati manusia makin sibuk oleh dunia sampai kehilangan rasa terhadap akhirat. Rasulullah ﷺ sudah mengingatkan bahwa akan datang masa ketika manusia melalaikan shalat. Allah juga berfirman, “Maka datanglah setelah mereka generasi yang menyia-nyiakan shalat dan mengikuti syahwat, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” (QS. Maryam: 59)
Ayat ini terasa hidup di zaman sekarang. Banyak orang masih mengaku muslim, masih percaya Allah, bahkan masih suka konten dakwah… tapi shalatnya berantakan. Ada yang shalat kalau sempat. Ada yang shalat kalau mood. Ada yang cuma Jumat. Ada yang terang-terangan bilang, “Nanti aja lah, masih sibuk.” Seakan urusan dunia lebih penting daripada panggilan Rabb semesta alam.
Baca Juga: Boleh Bersedih, Tapi Jangan Larut dalam Kesedihan
Padahal kalau dipikir logis, apa sebenarnya yang lebih penting daripada shalat? Kita rela bangun pagi demi kerja. Rela begadang demi hiburan. Rela berjam-jam pegang HP tanpa capek. Tapi lima menit untuk sujud kepada Allah terasa berat sekali. Itu menunjukkan masalahnya bukan di waktu, tapi di hati. Karena sesuatu yang dicintai akan selalu diprioritaskan. Orang yang jatuh cinta rela menunggu berjam-jam demi satu pesan singkat. Tapi kenapa manusia sulit memenuhi panggilan Allah yang sudah memberi hidup, udara, rezeki, keluarga, bahkan detak jantung gratis setiap detik?
Hari ini manusia hidup dalam distraksi tanpa henti. Penelitian dari berbagai lembaga psikologi modern menunjukkan bahwa media sosial dan banjir notifikasi membuat otak manusia kehilangan fokus dan ketenangan batin. Sistem dopamine dari konten cepat membuat manusia kecanduan hiburan instan. Akibatnya hati menjadi keras, sulit khusyuk, dan mudah lalai.
Bahkan penelitian dari Harvard Medical School pernah menjelaskan bahwa kecanduan digital bisa menurunkan kemampuan refleksi spiritual dan ketenangan mental. Tidak heran kalau banyak orang sekarang gelisah, gampang stres, cemas, kosong, tapi makin jauh dari shalat.
Ironisnya, ketika hati kosong, manusia malah mencari pelarian yang lebih jauh dari Allah. Ada yang tenggelam dalam hiburan. Ada yang lari ke game tanpa batas. Ada yang sibuk pencitraan di media sosial. Ada yang ketagihan tontonan haram. Padahal semua itu cuma menenangkan sesaat, bukan menyembuhkan hati. Sebab hati manusia tidak akan tenang kecuali dekat dengan Allah. Allah berfirman, “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Baca Juga: Komunitas Sebagai Fondasi Umat dan Benteng Generasi
Masalahnya, banyak orang sekarang ingin hati tenang tanpa mau shalat. Ingin hidup berkah tapi jauh dari sajadah. Ingin anak baik tapi orang tuanya sendiri shalat/">lalai shalat. Ingin rezeki lancar tapi adzan diabaikan. Ini seperti ingin tanaman tumbuh subur tapi akarnya diputus.
Adzan sejatinya bukan sekadar penanda waktu. Adzan adalah panggilan kemuliaan. Ketika muadzin mengucapkan “Hayya ‘alash shalah…” artinya: “Mari menuju shalat.” Dan ketika dikatakan “Hayya ‘alal falah…” itu artinya: “Mari menuju kemenangan.” Jadi sebenarnya setiap adzan adalah undangan sukses dari Allah. Tapi banyak manusia hari ini malah lebih percaya bahwa uang, jabatan, followers, dan popularitas adalah sumber kebahagiaan. Akhirnya mereka mengejar dunia mati-matian sambil meninggalkan shalat perlahan-lahan.
Rasulullah ﷺ bersabda, “Perjanjian antara kami dengan mereka adalah shalat. Barangsiapa meninggalkannya maka sungguh ia telah kafir.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)
Hadis ini bukan untuk membuat kita putus asa, tapi agar kita sadar betapa seriusnya perkara shalat. Karena shalat bukan beban. Shalat itu penyelamat. Shalat itu recharge ruh. Shalat itu tempat hati yang lelah kembali hidup. Orang yang menjaga shalat sebenarnya sedang menjaga dirinya sendiri.
Baca Juga: Kejahatan Yahudi Membuat Hatinya Keras Membatu
Coba renungkan. Berapa banyak orang yang hidup mewah tapi hatinya kosong? Berapa banyak yang terlihat bahagia di Instagram tapi diam-diam depresi? Berapa banyak yang tertawa di tongkrongan tapi menangis saat sendiri? Dunia modern berhasil membuat manusia terhubung dengan banyak orang, tapi jauh dari Allah. Akibatnya jiwa terasa sepi walau hidup ramai.
Fenomena meninggalkan shalat juga makin dianggap biasa. Dulu orang malu kalau gak shalat. Sekarang malah ada yang bangga bilang, “Gue belum dapat hidayah.” Ada yang santai meninggalkan shalat bertahun-tahun tanpa rasa takut. Padahal kematian tidak pernah menunggu taubat manusia. Kuburan tidak peduli usia. Rumah sakit penuh bukan hanya oleh orang tua. Hari ini banyak anak muda wafat mendadak. Tapi anehnya manusia tetap merasa punya waktu panjang.
Inilah bahayanya ketika hati sudah tidak bergetar mendengar adzan. Itu tanda ruh mulai sakit. Sebab orang beriman sejati, ketika dipanggil Allah, hatinya bergerak. Mungkin imannya naik turun, mungkin masih banyak dosa, tapi ia tetap punya rasa bersalah ketika shalat/">lalai shalat. Sedangkan hati yang mati tidak lagi merasa berdosa.
Namun pintu taubat belum tertutup. Selama nyawa belum sampai tenggorokan, Allah masih membuka jalan kembali. Jangan tunggu jadi ustadz untuk rajin shalat. Jangan tunggu hijrah sempurna baru ke masjid. Datang saja dulu kepada Allah apa adanya. Karena banyak orang berubah bukan karena sudah baik, tapi karena mulai mendekat kepada Allah.
Baca Juga: Ustaz Amri Fatmi: Hidup Mewah Berdampak Luas pada Kerusakan Alam
Mulailah dari langkah kecil. Begitu adzan terdengar, berhenti sebentar dari dunia. Letakkan HP. Tinggalkan game. Pause pekerjaan. Jawab panggilan Allah. Karena suatu hari akan tiba waktu ketika kita sangat ingin sujud… tapi sudah tidak diberi kesempatan lagi.
Dan percayalah, orang yang masih bergetar hatinya saat mendengar adzan adalah orang yang masih dijaga Allah. Sebab di akhir zaman yang penuh fitnah ini, menjaga shalat bukan perkara ringan. Tapi justru itulah tanda kemuliaan seorang mukmin. Ketika dunia membuat manusia sibuk melupakan Allah, ia tetap memilih bersujud. []
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic