MARILAH sejenak kita merenung tentang satu pertanyaan sederhana namun mendalam, “Sudahkah kita berubah ke arah yang lebih baik?”
Pertanyaan itu sederhana, namun ia bagai sungai yang mengalir tanpa muara. Ia tak pernah benar-benar selesai, karena setiap jiwa yang hidup adalah jiwa yang terus bergerak menuju kesempurnaan. Dan kesempurnaan itu hanya milik Allah, sedangkan kita hanyalah musafir yang berjalan di atas titian waktu, mencari ridha-Nya.
Allah berfirman, dengan firman yang menggetarkan jiwa:
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ
Baca Juga: Boleh Bersedih, Tapi Jangan Larut dalam Kesedihan
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11).
Ayat ini bukan sekadar rangkaian huruf yang dibaca, bukan pula sekadar untaian kata yang dihafal. Ayat ini adalah hukum kosmis, ketetapan Ilahi yang tertulis di Lauhul Mahfuzh. Ayat ini tidak akan berubah, tidak akan bergeser, tidak akan berpaling, sampai kapan pun.
Perhatikanlah dengan saksama, wahai jiwa yang merindukan perubahan. Allah tidak berfirman: “Aku akan mengubah kalian.” Allah berfirman: “Kalian dulu yang harus mengubah diri kalian.”
Di sini terletak rahasia yang paling dalam: Allah-lah yang mengubah, namun perubahan itu dimulai dari langkah kita sendiri. Allah Maha Kuasa, namun Ia menghormati kebebasan pilihan kita.
Baca Juga: Komunitas Sebagai Fondasi Umat dan Benteng Generasi
Allah menunggu langkah kita, bukan karena Allah lemah, tetapi karena Allah ingin kita menjadi hamba yang bergerak dengan kesadaran, bukan sekadar pasrah dalam kelumpuhan.
Sejangkal Langkah Sangat Bermakna
Betapa sering kita terperangkap dalam ilusi bahwa perubahan haruslah besar, dramatis, dan instan. Kita menunggu momen sempurna, menunggu hari baik, menunggu bulan suci, menunggu tahun baru, menunggu saat hati benar-benar siap.
Padahal, perubahan sejati hampir selalu lahir dari langkah kecil yang dilakukan dengan penuh kesungguhan.
Baca Juga: Kejahatan Yahudi Membuat Hatinya Keras Membatu
Dan inilah keajaiban yang melampaui logika manusia, ketika kita melangkah setitik, Allah-lah yang membentangkan samudra.
Ketika kita mengulurkan tangan sejengkal, Allah-lah yang memperpanjangnya sejauh cakrawala. Ketika kita meneteskan keringat sekecil embun, Allah-lah yang menumbuhkan kebun-kebun keberkahan di atasnya.
Mari kita renungkan kisah yang terukir indah dalam Al-Qur’an, kisah yang membuat hati bergetar.
Siti Maryam AS, wanita suci yang dijaga kehormatannya oleh Allah, ketika ia melahirkan Nabi Isa Alaihis Salam di bawah pohon kurma, dalam keadaan yang paling lemah, sendirian, di tengah padang tandus yang sunyi.
Baca Juga: Ustaz Amri Fatmi: Hidup Mewah Berdampak Luas pada Kerusakan Alam
Rasa sakit melahirkan membelenggu tubuhnya. Kesedihan menyelimuti hatinya. Ia berkata dalam kepedihannya, “Alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti.”
Namun, di tengah kegelapan itu, datanglah suara yang menyejukkan, bukan suara manusia, melainkan suara Ilahi yang membelai jiwanya:
وَهُزِّي إِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسَاقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا
“Dan goyangkanlah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu.” (QS. Maryam: 25).
Baca Juga: Kehidupan Berbangsa dalam Perspektif Al-Qur’an
Mari kita hentikan sejenak dan renungkan dengan kedalaman hati. Seorang wanita yang baru saja melahirkan, tubuhnya lemah tak berdaya, sendirian di tengah padang tandus yang tak berpenghuni, diminta menggoyang pangkal pohon kurma yang tinggi dan besar? Apakah ini masuk akal?
Secara manusiawi, tidak. Mana sanggup? Tubuh yang lemah, tangan yang gemetar, tenaga yang terkuras habis, bagaimana mungkin ia mampu menggoyang pohon yang kokoh itu?
Namun, begitulah, yang diminta Allah bukanlah “keberhasilan menggoyangnya.” Yang diminta Allah adalah “bergerak.” Sekadar mengulurkan tangan, sekadar menggerakkan badan, sekadar melakukan sesuatu, walau tampak sia-sia di mata manusia.
Dan apa yang terjadi? Setelah Maryam bergerak, melangkah, menempelkan tangannya di pangkal pohon kurma, Allah-lah yang kemudian menumbuhkan kurma matang, menjatuhkannya tepat di depan kaki Maryam. Bukan karena kekuatan goyangan Maryam, bukan karena kehebatan tangannya, tetapi karena Allah membesarkan usaha yang kecil itu. Allah melihat hati yang bergerak, bukan otot yang kuat.
Baca Juga: Perang Gaza dan Perubahan Persepsi Publik Amerika terhadap Palestina
Inilah yang para ulama sebut dengan untaian kata yang penuh hikmah:
الْحَرَكَةُ قِبَلَ الْبَرَكَةِ
“Bergerak dulu, baru berkah.”
Bukan “duduk menunggu berkah baru bergerak”, karena itu adalah kemalasan yang berkedok tawakal. Tetapi bergerak lebih dulu, maka Allah akan menurunkan berkah-Nya. Itulah tawakal yang sejati, yang menghubungkan usaha manusia dengan kekuasaan Allah.
Baca Juga: Al-Aqsa Cahaya Keberkahan yang Menyinari Alam Semesta Sepanjang Masa
Jangan Menunggu Sempurna untuk Memulai
Kisah Maryam mengajarkan kepada kita satu hal yang sangat penting: Jangan menunggu mampu, karena kemampuan itu datang dari Allah setelah kita bergerak.
Ingin berubah menjadi lebih baik? Mulailah dari satu kebiasaan kecil, misalnya shalat tepat waktu, membaca Al-Qur’an lima menit sehari, atau tersenyum kepada orang tua.
Ingin meninggalkan jejak kebaikan? Mulailah dari satu tindakan nyata, meskipun dipandang kecil.
Baca Juga: Keutamaan Al-Qur’an: Dari Musabaqah untuk Diamalkan dalam Kehidupan
Karena Allah tidak melihat besar kecilnya langkah, tetapi melihat kesungguhan hati yang bergerak. Allah tidak menilai hasil, tetapi menilai usaha. Allah tidak menuntut kesempurnaan, tetapi menuntut kesungguhan.
Begitulah, Allah menunggu kita bergerak. Ketika kita bergerak, walau hanya setitik, Allah akan membesarkan langkah kita, menumbuhkan hasilnya, dan menurunkan berkah-Nya.
Maka, jangan tunggu besok. Sebab besok belum tentu menjadi milik kita. Berubahlah hari ini. Bergeraklah sekarang. Mulailah dari hal yang kelihatannya kecil, sepele dan sederhana.
Karena “al-harakah qablal barakah”, bergerak dulu, baru berkah.
Baca Juga: Hukuman Potong Tangan: Alternatif Mengatasi Kejahatan Korupsi
Semoga Allah menerima setiap langkah kecil kita, membesarkannya, dan menjadikannya amal jariyah yang mengalir pahalanya hingga ke kampung akhirat. Aamiin. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Doa Memohon Kekayaan yang Meningkatkan Takwa dan Memperluas Manfaat
















Mina Indonesia
Mina Arabic