DI TENGAH wilayah yang masih berdebu oleh puing-puing kehancuran, di bawah langit yang menyimpan gema ledakan dan duka, Jalur Gaza menorehkan sebuah peristiwa yang melampaui batas tragedi.
Pada Sabtu (3/1/2026), di tengah reruntuhan dan luka yang belum mengering, 230 dokter pria dan wanita resmi diwisuda. Mereka adalah lulusan fakultas kedokteran Universitas Al-Azhar Gaza dan Universitas Islam Gaza, tergabung dalam sebuah angkatan yang dinamai penuh makna, “Angkatan Phoenix 2025.”
Wisuda ini bukan sekadar seremoni akademik. Ia adalah pernyataan hidup bahwa pendidikan, harapan, dan kemanusiaan tidak dapat dihancurkan oleh perang. Para lulusan ini menempuh perjalanan panjang yang dipenuhi pengeboman, pengungsian paksa, kehilangan orang-orang tercinta, serta penargetan sistematis terhadap sektor kesehatan dan pendidikan. Namun, dari setiap puing yang runtuh, tekad mereka justru tumbuh.
Upacara wisuda digelar di halaman Kompleks Medis Al-Shifa, tempat yang pernah menjadi simbol penyembuhan, lalu berubah menjadi saksi kehancuran setelah dua kali diduduki dan diluluhlantakkan selama agresi Zionis Israel. Di lokasi inilah, di jantung luka Gaza, para dokter muda itu berdiri mengenakan toga, menegaskan kesetiaan mereka pada sumpah kemanusiaan.
Baca Juga: Jangan Sampai Konflik AS-Israel dan Iran Alihkan Perhatian terhadap Palestina
Di antara bangunan Bedah Khusus yang hancur, terpajang foto-foto staf medis yang gugur. Di bawahnya tertulis kalimat yang mengguncang hati, “Kami mengikuti jejakmu dan melanjutkan perjalanan kedokteran dan kemanusiaan.”
Lapangan wisuda pun dipenuhi potret para syuhada dari fakultas kedokteran. Wajah-wajah yang tersenyum abadi itu seolah hadir di antara para lulusan, di bawah slogan, “Mereka bersama kami, meski tak berdiri secara fisik di podium wisuda.”
Dalam pidato yang membuat hadirin terdiam, Ezz El-Din Lulu, perwakilan lulusan, mengisahkan beratnya jalan menuju hari itu. Di tengah pendidikannya, ia menerima kabar gugurnya 20 anggota keluarganya, termasuk sang ayah, yang hingga kini jasadnya masih terkubur di bawah reruntuhan. Namun duka sedalam apa pun tak mampu menghentikannya. Ia memilih bertahan, belajar, dan lulus sebagai bentuk perlawanan paling sunyi sekaligus paling kuat.
Rekannya, Raghad Hassouna, menegaskan bahwa nama “Phoenix” bukan sekadar simbol kekuatan dan ketabahan. “Ini adalah nubuat yang menjadi nyata,” katanya.
Baca Juga: Siapa Berduka atas Wafatnya Khamenei? Apa Artinya bagi Dunia Islam
“Kami bangkit dari penderitaan dan kehancuran. Dari perang yang mencoba mematahkan kami, lahir tekad yang lebih kuat untuk hidup, mengabdi, dan berhasil,” ujarnya penuh haru.
Upacara tersebut juga diisi pidato para dekan fakultas kedokteran serta tokoh-tokoh yang setia mendampingi perjuangan mahasiswa. Mereka menyampaikan kebanggaan yang mendalam, doa untuk masa depan yang lebih aman dan stabil, serta harapan agar para lulusan ini menjadi cahaya penyembuh bagi Gaza dan dunia.
Di tengah kehancuran, Gaza tidak hanya berduka. Ia juga melahirkan kehidupan. Dan dari reruntuhan itulah, para dokter muda itu melangkah, membawa luka, harapan, dan sumpah untuk menyembuhkan.
Kesaksian Alumni
Baca Juga: Dampak Serangan ke Iran terhadap Gerakan Perlawanan Palestina
Dalam kesaksian yang sarat emosi, para alumni menceritakan perjalanan yang lebih mirip perjuangan hidup daripada sekadar pendidikan.
Dr. Alaa Zaqout, lulusan Universitas Islam Gaza, mengisahkan bahwa tahun-tahun studinya bertepatan dengan “perang tragis” yang menimpa keluarga, teman, dan bahkan tempat studinya sendiri. Ia menerima kabar tentang kerabat dan kolega yang gugur selama pelatihan di rumah sakit, berita yang menjadi beban psikologis yang berat.
Namun, daripada mematahkan semangatnya, kehilangan itu justru menyalakan tekadnya untuk menyelesaikan pendidikan kedokteran, meskipun kelulusannya tertunda sekitar enam bulan. Menurutnya, setiap tangisan dan kehilangan justru menjadi motivasi untuk terus berjuang demi menyelamatkan nyawa orang lain.
Dr. Reham Al-Souri, lulusan Universitas Al-Azhar Gaza, menggambarkan kondisi lapangan yang nyaris tak manusiawi. Ia berlatih di tengah kekurangan sumber daya akibat blokade, fasilitas kesehatan dan pendidikan yang hancur, pemadaman listrik dan internet, serta kesulitan transportasi yang membatasi pergerakan.
Baca Juga: Saatnya Tinggalkan Trump, Perancang Perdamaian, Tapi Jadi Penyulut Peperangan
Bahkan dalam situasi itu, ia tetap melanjutkan praktiknya di Rumah Sakit Syuhada Al-Aqsa, meskipun peralatan dan obat-obatan jauh lebih sedikit dibanding sebelum perang. Bagi Reham, setiap pasien yang berhasil diselamatkan adalah bukti bahwa kehidupan selalu menemukan jalannya, meskipun dunia di sekelilingnya runtuh.
Sementara itu, dr. Shams Abu Suweireh menyoroti penderitaan akibat pengungsian, kekurangan perlengkapan sekolah, dan ketergantungan pada perangkat elektronik di tengah pemadaman listrik dan internet serta krisis transportasi. Ia menekankan bahwa semua rintangan itu tak pernah memadamkan mimpinya. Dengan suara yang tegas, Shams berkata:
“Kami menentang segalanya karena keyakinan pada mimpi kami. Tidak ada perang, tidak ada reruntuhan, yang bisa menghentikan hati yang ingin menyembuhkan,” ujarnya.
Kesaksian mereka bukan sekadar cerita tentang pendidikan, melainkan kisah keberanian, ketahanan, dan cinta untuk kemanusiaan. Di tengah kehancuran, para dokter muda ini menunjukkan bahwa harapan tidak pernah padam. Bahkan dari abu perang, kehidupan selalu bangkit kembali, seperti phoenix yang memberi arti baru pada setiap langkah mereka, para dokter muda harapan warga. []
Baca Juga: Berikut 9 Kandidat Terkuat Pengganti Khamenei
Sumber: Al Jazeera & Al-Araby al-Jadid
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: AS Ketua Dewan Perdamaian yang Justru Memicu Perang
















Mina Indonesia
Mina Arabic