Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Nadera Mushtha Kembali ke Universitas Gaza yang Hancur

Rudi Hendrik Editor : Ali Farkhan Tsani - Jumat, 16 Januari 2026 - 07:17 WIB

Jumat, 16 Januari 2026 - 07:17 WIB

1 Views ㅤ

Universitas Islam Gaza dihancurkan oleh Israel pada 21 Maret 2025. (Foto: Omar Ashtawy/APA Images)

TANGGAL 13 November 2025, gadis Gaza, Nadera Mushtha dan keluarganya dengan cemas menunggu hasil ujian SMA adiknya yang bernama Aya.

Mereka memasang beberapa dekorasi di apartemen yang mereka sewa setelah pindah dari Kota Gaza ke Deir al-Balah, Gaza Tengah, pada September 2025.

Mereka membeli permen, sangat gembira untuk merayakan setelah mereka melalui kematian, pertumpahan darah, dan kenangan suram selama dua tahu genosida Israel.

Pukul 9 pagi, hasilnya diumumkan. Aya mendapat nilai 86 persen di jurusan sains.

Baca Juga: Kementerian Gaza Serukan Perlindungan Terhadap Perempuan, Korban Tewas Capai 11.900

Mereka menari, merayakan momen kegembiraan yang luar biasa, kebahagiaan pertama yang mereka rasakan setelah “gencatan senjata” Oktober 2025.

Aya termasuk di antara lebih dari 30.000 siswa Gaza lainnya yang lahir pada tahun 2007 yang menerima hasil ujian taujih mereka pada hari itu. Sementara siswa yang lahir pada tahun 2006 – yang seharusnya menerima hasilnya pada tahun 2024 – telah menerimanya pada tanggal 14 Oktober.

Universitas-universitas di Gaza, yang tidak menerima satu pun mahasiswa baru selama perang genosida tersebut, membuka pendaftaran untuk mahasiswa baru, terutama kelompok kelahiran 2006 dan 2007, yang belajar dan lulus bersama.

Terlepas dari kehancuran besar yang melanda kampus-kampus, universitas-universitas seperti Universitas Islam Gaza, Universitas Al-Azhar, dan Universitas Al-Aqsa, akan melanjutkan pendidikan di kampus untuk kelompok mahasiswa tertentu.

Baca Juga: Sekitar 145 Pemukim Ekstremis Israel Serbu Masjid Al-Aqsa

Universitas Islam mengumumkan bahwa pendidikan di kampus hanya untuk mahasiswa tahun pertama, yang mengambil spesialisasi kedokteran, teknik, ekonomi dan ilmu administrasi, ilmu kesehatan, dan bahasa Inggris, sementara mahasiswa lainnya akan melanjutkan pembelajaran secara daring.

Nostalgia ke universitas

Pada tanggal 20 November, Nadera Mushtha menemani Aya ke Universitas Islam untuk mendaftar.

Keduanya tiba sekitar siang hari di universitas, tempat yang belum Mushtha kunjungi selama dua tahun genosida.

Baca Juga: Serangan Terbaru Israel Tewaskan Seorang Warga Gaza, Sejumlah Lainnya Terluka

Mushtha berharap kunjungannya adalah untuk melanjutkan studinya di kampus, tetapi ia sedang menunggu hasil akhir untuk menerima gelarnya di bidang studi pendidikan.

Saat mereka berjalan, Mushtha melihat mural di dinding markas besar UNRWA di Gaza.

Mural-mural itu – di dekat universitas – adalah mural yang sama yang biasa Mushtha pandangi dari taksi dalam perjalanan ke kelas. Ribuan mahasiswa telah melihatnya seperti yang Mushtha lihat.

“Berapa banyak dari mereka yang pernah melihat lukisan-lukisan ini sudah tidak hidup lagi?” pikir Mushtha.

Baca Juga: Netanyahu Ancam akan Lakukan Lebih Banyak Pembunuhan di Gaza

Saat berjalan melewati gerbang utama, bulu kuduknya merinding dan rasa nostalgia melandanya.

Ia ingat bagaimana, setelah kelas berakhir, para mahasiswa akan berkerumun di satu tempat, membawa buku, laptop, dan peralatan teknik mereka, menunggu transportasi di saat sebagian yang lain berjalan pulang bersama teman-teman.

Namun, yang Mushtha lihat bukanlah tempat yang dulu ia kenal, melainkan tempat yang kini dipenuhi tenda-tenda di sana-sini, jemuran pakaian pengungsi terbentang di antara dinding-dinding, dan para pedagang memajang produknya di kios-kios penjualan di kampus.

Ratusan keluarga yang kehilangan rumah mereka menemukan tempat berlindung di sana, tersebar di sekitar kampus, di dalam gedung-gedung, bahkan di aula-aula yang hancur, dan di sepanjang koridor yang dipenuhi puing-puing.

Baca Juga: Oposisi Israel Sebut Butuh Waktu Bertahun-tahun untuk Tarik Pasukan dari Gaza

Gedung-gedung itu rusak akibat berbagai macam kehancuran. Sebagian besar hancur total sementara yang lain hancur sebagian, tetapi tidak ada yang benar-benar dapat digunakan.

Salah satu pemandangan yang paling menyedihkan dan absurd adalah papan pengumuman salon rambut di dalam gedung yang disebut gedung konferensi, auditorium universitas tempat upacara wisuda dulu diadakan.

Saat Mushtha dan Aya terus berjalan, di setiap langkahnya sang kakak bertanya-tanya: di mana aku berada? Mushtha sudah tidak dapat mengenali kampusnya yang dulu.

Meskipun itu universitas tempat Mushtha menghabiskan dua tahun, tetap saja mereka membutuhkan bantuan dari keluarga pengungsi untuk memandu mereka menuju gedung tempat pendaftaran mahasiswa baru berlangsung, yaitu gedung yang kerusakannya paling sedikit.

Baca Juga: Survei Jelang Pemilu Israel, Netanyahu Kalah dari Oposisi

Saat Mushtha masuk, kenangan kembali menyerbu. Ia ingat bagaimana universitas dulu selalu ramai setiap tahunnya, dengan banyak mahasiswa baru berkumpul dan bertanya tentang jurusan dan program studi.

Impian masa kecil Aya adalah belajar teknik, jadi mereka mencari program arsitektur untuk menanyakan rencananya.

“Gaza membutuhkan insinyur,” kata Aya kepada Mushtha.

Karena Israel telah mendatangkan kehancuran yang belum pernah terjadi sebelumnya di kota mereka, mahasiswa teknik akan memiliki peran penting dalam membangun kembali kota ini. []

Baca Juga: Gencatan Senjata Terus Dilanggar, Empat Warga Gaza Gugur Akibat Israel

Sumber: The Electronic Intifada

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Insiden FlyDubai Picu Kritik, Oposisi Israel Soroti Kegagalan Netanyahu

Rekomendasi untuk Anda