Ketua KNIU: Pembangunan dengan Pelestarian Lingkungan Harus Seimbang

Jakarta, MINA – Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU) Prof. Arief Rachman mengatakan, pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) dengan pelestarian lingkungan dan alam harus seimbang.

“Fenomena yang timbul adalah aspek pelestarian lingkungan dan alam seakan disisihkan demi tercapainya sebuah pembangunan serta pemanfaatan ekonomi. Padahal dalam menjalankan proses pembangunan semestinya tidak mengabaikan keberlangsungan lingkungan dan alam,” ujarnya.

Hal itu disampaikan dalam Rapat Pleno Tengan Tahunan KNIU 2019 yang dilanjutkan dengan seminar ‘Koeksistensi antara Pembangunan Nasional dan Konservasi serta Implementasu Pariwisata Berkelanjutan di Kawasan Tetapan UNESCO (Warisan Dunia, Cagar Biosfer, dan Global Geopark)” yang dibuka oleh Sekretaris Jenderal Kemendikbud, Didik Suhardi di Senayan, Jakarta, Kamis (22/8).

Menurut Arief, saat ini tingkat kehilangan ragam hayati mencapai angka hingga 1.000 kali lipat dari laju alaminya. Adapun meningkatnya angka konflik, bencana dan krisis yang terjadi mengakibatkan semakin berkurangnya keragaman budaya dunia.

Untuk itu, semangat UNESCO dalam mencapai sasaran pembangunan berkelanjutan, di antaranya melalui Program Penetapan Kawah oleh UNESCO berlandaskan pada kesadaran hubungan antara alam dengan manusia yang tidak bisa dipisahkan.

“Antara manusia dan alam seharusnya terjalin koeksistensi yang baik dan seimbang agar tercipta sebuah keberlanjutan. Potensi alam dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk kehidupan manusia dan sebagai timbal balik, manusia melestarikan alam agar potensi yang dimiliki tidak terkuras tanpa pembaharuan,” tambahnya.

Ia juga menjelaskan, rapat dan seminar KNIU adalah kegiatan rutin yang menggabungkan empat program yang sebelumnya jalan masing-masing yaitu program Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, program Media dan Informasi dan program kebudayaan.

“Tapi dengan pengabungan ini, semua program yang terlibat itu mengusung satu kekuatan yang diinginkan UNESCO. Dengan ini dapat memberikan informasi yang bisa menjadi pengetahuan.”

“Pengetahuan itu akan didongkrak sampai ke masyarakat yang berbudaya,” tambahnya. (L/R10/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)