Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ketum Muhammadiyah Ajak Umat Islam Sikapi Perbedaan Awal Puasa Ramadhan dengan Kedewasaan

Widi Kusnadi Editor : Ali Farkhan Tsani - Selasa, 17 Februari 2026 - 20:23 WIB

Selasa, 17 Februari 2026 - 20:23 WIB

60 Views

Prof. Haidar Nasir (Foto: Sidik/MINA)

Yogyakarta, MINA – Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir mengajak umat Islam di Indonesia menyikapi potensi perbedaan penetapan awal puasa Ramadhan 1447 Hijriyah dengan penuh kedewasaan, cerdas, dan tasamuh tanpa saling menyalahkan satu sama lain.

Pernyataan itu disampaikan baru-baru ini menyusul dinamika perbedaan waktu awal puasa antara keputusan internal organisasi dengan mekanisme penentuan pemerintah.

Haedar menyampaikan, perbedaan penetapan awal Ramadhan antara Muhammadiyah dengan pemerintah merupakan hal yang “biasa” dan tumbuh dari karakter pluralitas ijtihad dalam menentukan awal bulan hijriah yang hingga kini belum memiliki satu kalender global yang disepakati bersama.

Menurutnya, perbedaan tersebut tidak seharusnya mengurangi persatuan umat Islam di tengah momentum bersatunya seluruh umat menyambut bulan suci Ramadhan.

Baca Juga: Anies Baswedan Desak Indonesia Keluar dari BoP Bentukan Trump

Ia menegaskan bahwa umat Islam tidak perlu saling merasa paling benar sendiri, apalagi sampai menciptakan perselisihan yang meruncing.

Sikap toleran dan arif merupakan modal penting dalam merangkul perbedaan, terutama dalam konteks perbedaan hasil hisab atau cara pandang terhadap kriteria hilal.

Haedar juga menekankan bahwa tujuan puasa Ramadan yang utama adalah untuk meningkatkan takwa baik secara personal maupun kolektif.

Selain itu, Haedar Nashir berharap Ramadhan 1447 H dapat dijalankan umat Islam dengan suasana yang tenang, damai, dan penuh kematangan, tanpa terganggu oleh hiruk pikuk kehidupan sosial, termasuk perbedaan awal Ramadhan yang mungkin muncul di berbagai daerah.

Baca Juga: Harga Jual Emas Hari Ini, Jumat 6 Maret 2026

Ia juga menyampaikan pesan agar puasa menjadi momentum untuk mempererat hubungan sosial dan memupuk semangat kebersamaan serta kemajuan umat.

Pernyataan ini muncul di tengah potensi perbedaan awal puasa antara sejumlah organisasi Islam dan pemerintah RI. Muhammadiyah melalui Majelis Tarjih dan Tajdid telah menetapkan awal Ramadan 1447 H jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026, berdasarkan metode Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang menjadi pedoman perhitungan organisasinya.

Sementara itu, pemerintah melalui sidang isbat penentuan awal Ramadhan yang digelar oleh Kementerian Agama akan menentukan tanggal awal puasa secara resmi berdasarkan sidang isbat pada Selasa (17/2) yang menetapkan awal Ramadhan 1447 H jatuh pada Kamis 19 Februari 2026.

Perbedaan awal puasa antara Muhammadiyah dan pemerintah bukanlah fenomena baru di Indonesia. Hal ini disebabkan oleh perbedaan pendekatan metodologis dalam menentukan awal bulan hijriah, seperti perbedaan antara hisab global, hisab lokal, dan rukyatul hilal.

Baca Juga: [Bedah Berita MINA] Serangan Gabungan AS–Israel ke Iran, Apa Dampaknya?

Para ulama dan tokoh Islam telah menyatakan bahwa perbedaan semacam ini merupakan bagian dari ijtihad Islam, yang harus disikapi dengan saling menghormati dan menjaga ukhuwah Islamiyah demi persatuan umat. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: BMKG: Seluruh Wilayah DKI Jakarta Berpotensi Diguyur Hujan Ringan hingga Sedang Hari Ini

Rekomendasi untuk Anda