Khutbah Idul Fitri 1440: Islam Menata Peradaban Dunia

Oleh: Ali Farkhan Tsani, Da’i Pesantren Al-Fatah Bogor, Redaktur Senior MINA (Mi’raj News Agency)

 

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ ِللهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَأَعَزَّ جُنْدَهُ، وَهَزَمَ اْلأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ

اَلْحَمْدُ ِللهِ هَدَانَا لِهٰذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِىَ لَوْلاَ اَنْ هَدَانَا الله ُ أَشْهَدُأَنْ لاَّ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَّسُوْلُ اللهِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَعَلٰى أٰلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ. فَيَا أَيـُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

وَقَالَ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

Hadirin kaum muslimin wal muslimat yang berbahagia

Hari ini, gema takbir, tahlil, dan tahmid berkumandang di seluruh penjuru dunia, sahut-menyahut membahana di angkasa, mengiringi hamba-hamba Allah yang baru saja usai berpuasa, menahan nafsu, lapar dan dahaga, untuk meraih keridhaan-Nya.

Kini, menyambut dan mengiringi hari nan suci, harinya umat Islam Hari Raya Idul Fitri, kembali kita pada kesucian diri, setelah sempat tercemari kotoran dosa dan maksiat selama ini, kembali fitrah di hadapan sang ilahi robbi.

Ini semua adalah wujud dari rasa syukur, bergembira atas segala karunia yang bertabur, menghilangkan segala sifat sombong lagi takabur, menepikan segala perilaku kufur, hingga mendapat ampunan Sang Ghafuur.

….. وَلِتُكْمِلُوْا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُ اللهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

Artinya : “…..Dan hendaknya kalian mencukupkan bilangannya dan hendaknya kalian mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepada kalian, niscaya kalian bersyukur”. (QS Al-Baqarah [2]: 185).

Maka, makna Hari Raya Idul Fitri, adalah bukan semata mengenakan pakaian baru, atau mudik ke kampung halaman ibu. Namun lebih dari itu, hakikat ied adalah kembali pada semangat aqidah dan motivasi baru, adanya rasa takut dan harap pada Allah Yang Maha Tahu.

Seperti dikatakan ‘Umar bin ‘Abdul ‘Azis:

لَيْسَ الْعَيْدُ لِمَنْ لَبِسَ الْجَدِيْدَ إِنَّمَا الْعَيْدُ لِمَنْ خَافَ يَوْمَ الْوَعِيْدِ 

Artinya : “Bukanlah Hari Raya ‘Id itu bagi orang yang baru dalam berpakaian. Akan tetapi Hari Raya ‘Id adalah bagi orang yang  takut dengan hari pembalasan”.

Sementara betapa banyak saudara-saudara kita yang tidak bisa menikmati Hari Raya ini dengan selayaknya, seperti mereka yang berada di pengungsian Lebanon, Irak, dan Bangladesh, di tempat-tempat terusir dari Suriah dan Rohingya, di negeri minoritas Cina, dan di negeri terjajah Palestina.

Di berbagai tempat, juga selalu ada kelompok orang yang memusuhi dan hendak memadamkan kebangkitan Islam. Padahal Islam membawa ajaran yang penuh kasih sayang, cinta damai, memberikan jalan keselamatan dan penuh kebaikan.

Namun, seberapapun dan dengan upaya apapun mereka hendak memadamkan cahaya Allah, justru cahaya Allah itu semakin bersinar:

Allah menegaskan di dalam ayat-Nya:

يُرِيدُونَ لِيُطۡفِـُٔواْ نُورَ ٱللَّهِ بِأَفۡوَٲهِهِمۡ وَٱللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِۦ وَلَوۡ ڪَرِهَ ٱلۡكَـٰفِرُونَ (٨) هُوَ ٱلَّذِىٓ أَرۡسَلَ رَسُولَهُ ۥ بِٱلۡهُدَىٰ وَدِينِ ٱلۡحَقِّ لِيُظۡهِرَهُ ۥ عَلَى ٱلدِّينِ كُلِّهِۦ وَلَوۡ كَرِهَ ٱلۡمُشۡرِكُونَ (٩)

Artinya: “Mereka ingin hendak memadamkan cahaya [agama] Allah dengan mulut [ucapan-ucapan] mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci. Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang-orang musyrik benci.” (QS Ash-Shaff : [61]: 8-9).

Namun itu jangan membuat kita bersedih atau takut. Sebab sejarah telah membuktikan betapa kuatnya Raja Namrud berbuat sewenang-wenang, tapi bisa tumbang hanya oleh seekor nyamuk. Demikian juga sombongnya Fir’aun yang mengaku tuhan, tumbang tersedak oleh air laut.

Makna lainnya tentu berarti, masih banyak tugas dan tanggung jawab kita untuk melepaskan manusia dari belenggu kezaliman, penindasan dan penjajahan suatu bangsa atas bangsa lainnya, dan membela kehormatan Islam dan Muslimin di berbagai beahan dunia ini.

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّهِ الْحَمْد

Mukminin Mukminat yang sama-sama mengharap ridha Allah.

Sementara itu, nasib dunia ini kini dikuasai dan diatur oleh ideologi dan orang-orang jauh dari Al-Quran, jauh dari kebenaran, jauh dari keadilan dan jauh dari kejujuran. Mereka berusaha mengatur bangsa, negeri atau dunia dengan nafsu keserakahan, kapitalisme, liberalisme, dan sejenisnya, bukan dengan wahyu ilahi.

Maka, apakah yang dihasilkan Ya, tidak lain adalah kerusakan demi kerusakan di mana-mana. Kerusakan moral atau akhlak menjadi liberal, kerusakan ekonomi kapitalisme yang penuh dengan ribawi, kerusakan pendidikan yang berorientasi duniawi semata.

Juga adanya kerusakan media yang berisi kebanyakan acara-acara yang cenderung membuka aurat, hiburan yang melalaikan, hingga berbagai tindak kriminalitas, perbuatan korup, narkoba, pergaulan bebas, LGBT, dan kerusakan alam akibat penggunaan zat-zat berbahaya.

Ini merupakan bukti nyata, bahwa sistem dan aturan yang diciptakan manusia, apalagi yang jauh dari syariat Islam, tidaklah akan dapat membuat kesejahteraan dan kedamaian nyata. Apalagi mampu menciptakan peradaban manusia yang sesungguhnya.

Di sinilah sesungguhnya peradaban Islam yang berlandaskan semangat Al Quran dan As-Sunnah, nila-nilai kebenaran, keadilan, kejujuran, persaudaraan dan kemanusiaan dapat tampil sebagai solusi terbaik dan sempurna.

Adapun keunggulan dan keistimewaan peradaban Islam antara lain ditandai dengan beberapa sifat utama, seperti disebutkan Prof. Raghib As-Sirjani dalam buku Sumbangan Peradaban Islam pada Dunia, yaitu:

Pertama, landasan ketauhidan kepada Allah

Keunggulan yang membedakan peradaban Islam dengan lainnya adalah dasar tauhid secara mutlak kepada Allah.

Dari peradaban yang berlandaskan pada ketauhidan ini mempunyai pengaruh yang jelas dalam mengubah semua bentuk keagungan pada peradaban dan memberikan sumbangsih dalam perjalanan kemanusiaan yang penuh kemaslahatan.

Landasan ini sangat kuat, sehingga peradaban yang ditegakkan tidaklah menyandarkan pada penguasa, petugas, hakim, atau apapun jabatannya. Namun berjalan mengikuti perintah-perintah yang Mahasuci dan melaksanakan syariat yang diturunkan Allah ke muka bumi. Dengan inilah manusia merasa mulia dengan sisi kemanusiaannya.

Karena itu, standar dan kriteria peradaban yang dibangun adalah ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Ketataan pada manusia adalah selama manusia itu mengikuti Allah dan Rasul-Nya.

Tidak ada yang paling mulia dan paling rendah antar sesama manusia kecuali yang menjadi pembeda adalah ketakwaan yang mengangkat ketinggian kedudukan manusia di sisi Tuhannya.

Di sinilah Islam hadir untuk membersihkan dari setiap bentuk kesyirikan, penyembahan kepada berhala, baik dalam bentuk berhala batu, pohon, benda, maupun berhala selain itu yang berkembang pada zaman modern, misalnya harta, kedudukan, jabatan, isme-isme, dan lain sebagainya.

Bukan hanya itu, peradaban manusia yang hendak ditegakkan, selalulah berorientasi memakmurkan alam semesta ini sebagai amanah dari Sang Pencipta, dan meyakini adanya kampung akhirat,  tempat hisab dan balasannya.

Demikianlah ketauhidan merupakan ciri khas peradaban Islam, yang turut memberikan sumbangsihnya dalam kesamaan derajat manusia dan memerdekaannya dari para tirani yang kejam, penguasa yang zalim, dan menghadapkan pandangannya hanya kepada Allah yang menciptakan alam semesta.

Begitulah tugas risalah kenabian dengan tauhidullah sebagai garus kurusnya, tak bisa dibengkokkan dengan tujuan lainnya.

Allah menyebutkan di dalam Al-Quran:

وَمَآ أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِىٓ إِلَيۡهِ أَنَّهُ ۥ لَآ إِلَـٰهَ إِلَّآ أَنَا۟ فَٱعۡبُدُونِ

Artinya: “Dan Kami tidak mengutus seorang rasul-pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan [yang hak] melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”. (QS Al-Anbiya [21]: 25).

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّهِ الْحَمْد

Hadirin jamaah shalat Ied yang mulia

Selanjutnya, yang Kedua, ciri peradaban Islam adalah adanya sifat universalitas

Peradaban Islam dikenal dengan ciri toleransi ajaran dan risalahnya yang universal. Universal dalam cakrawala yang tinggi dan luas, tidak dengan iklim, geografi, dan tidak terikat dengan jenis manusia. Ini karena peradaban Islam menaungi seluruh umat manusia.

Allah menyebutkan di dalam firman-Nya:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Artinya:Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kalian. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. (QS Al-Hujurat [49]: 13).

Pada ayat lain Allah menegaskan:

وَمَآ أَرۡسَلۡنَٰكَ إِلَّا رَحۡمَةٗ لِّلۡعَٰلَمِينَ

Artinya: “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS Al-Anbiya [21]: 107).

Juga firman-Nya:

وَمَآ أَرۡسَلۡنَٰكَ إِلَّا كَآفَّةٗ لِّلنَّاسِ بَشِيرٗا وَنَذِيرٗا وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ

Artinya: ‘Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.” (QS Saba: 28).

Karena itulah, ajaran Islam sangat menjunjung tinggi hak-hak asasi manusia, seperti hak berkeyakinan tanpa paksaan dalam agama Islam, hak berpikir sebagai manusia yang punya akal sehat dan dalam menjelajahi alam semesta.

Ajaran Islam juga sangat menghormati hak berpendapat di muka umum, selama tidak menimbulkan permusuhan dan kerusakan umum. Di sinilah penghargaan utama Islam terhadap kemajuan berpikir manusia, sehingga timbullah kemajuan dari kejumudan, kebekuan dan ketertindasan.

Bahkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menyebutkan di dalam sabdanya:

أَفْضَلُ الْجِهَادِ كَلِمَةُ عَدْلٍ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ

Jihad yang paling utama ialah mengatakan kalimat yang adil (benar) di hadapan penguasa yang sewenang-wenang.(HR Abu Daud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah).

Pada zaman khalifah Umar bin Khattab, ada seorang wanita yang menyampaikan pendapat pada khalifah dengan menolak pendapat khalifah. Saat itu Khalifah Umar  pun mempersilakan wanita tersebut berpendapat.

Demikian pula, ajaran Islam menghormati hak kebebasan jiwa dan hak kepemilikan individu.

Dalam pandangan Islam pada dasarnya seluruh manusia bebas untuk merdeka, tanpa terjajah, terzalimi atau terdiskriminasi.

Sungguh sangat fenomenal bagaimana Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menyatakan, “Kalian semua anak keturunan Adam, sedangkan Adam dari tanah. Tidak ada keistimewaan bangsa Arab atas bangsa non-Arab, yang berkulit putih atas kulit hitam, juga tidak kulit merah atas kulit hitam. Kecuali dengan dasar takwa”.

اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّهِ الْحَمْد

Hadirin, adapun prinsip Ketiga, yakni perdaban yang menjunjung tinggi keadilan

Keadilan merupakan karakteristik yang unggul dalam peradaban Islam, yakni adanya keseimbangan antara dua sudut yang saling berhadapan atau saling bertentangan.

Peradaban Islam terhimpun antara ruh dan jasad, yang mengumpulkan antara ilmu syariat dan ilmu hayat. Mementingkan akhirat sebagaimana mementingkan dunia, mengumpulkan antara perumpamaan dan kenyataan, kemudian menyeimbangkan antara hak dan kewajiban.

Sebagaimana diisyaratkan di dalam Kitabullah:

وَالسَّمَاءَ رَفَعَهَا وَوَضَعَ الْمِيزَانَ (7) أَلا تَطْغَوْا فِي الْمِيزَانِ (8) وَأَقِيمُوا الْوَزْنَ بِالْقِسْطِ وَلا تُخْسِرُوا الْمِيزَانَ (9)

Artinya: “Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan), Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu, Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu.” (QS Ar-Rahman: 7-9).

Menegakkan neraca keadilan, berarti menghindari berbuat curang, karena hal ini bertentangan dengan keadilan dan menjadi kecelakaan bagi pelakunya. Seperti Allah nyatakan di dalam ayat-Nya:

وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ (1) الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ (2) وَإِذَا كَالُوهُمْ أَوْ وَزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ (3)

Artinya: “Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.” (QS Al-Muthaffifin: 1-3).

Begitulah, maka jika kedua sisi ruh dan jasad bersih, maka manusia bisa memperoleh kebahagiaan, kebebasan berpikir dan membuahkan kesungguhan kerja keras dalam ruang lingkup keimanan, akhlak yang berdiri lurus dengan keadilan, keamanan, kesejahteraan, rahmat dan kasih sayang.

Maka, menggabungkan antara ilmu syariat dan ilmu umum secara luas, menjadikan peradaban Islam menjadi peradaban yang tinggi, peradaban yang berlandaskan pada metode keilmuan, pengetahuan dan akal yang kokoh. Di sinilah ditunjukkan dalam peradaban bahwa Islam adalah agama teori, tapi sekaligus pada saat bersamaan juga agama yang realistis. Dengan demikian menjadikan peradaban Islam tampil gemilang dengan karakter seimbang.

Keempat, adanya sentuhan akhlak

Akhlak dalam peradaban Islam merupakan pagar yang membatasi, serta dasar yang tegak di atas kejayaan Islam, dan membedakannya dengan peradaban dunia manapun.

Sumber akhlak dalam peradaban Islam adalah wahyu Allah, dan telah dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Di dalam hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu,  Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاقِ

Artinya: “Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan keshalihan akhlak.” (HR. Al-Baihaqi).

Ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yaitu agama Islam, merupakan agama yang sempurna untuk seluruh umat manusia sepanjang masa.

Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam merupakan Rasul akhir zaman, Rasul terakhir dan penutup para nabi, yang diutus oleh Allah untuk seluruh umat manusia tanpa melihat asal suku dan bangsanya. Misi Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam antara lain adalah menyempurnakan akhlak manusia.

Hadirin rahimakumullah

Inilah yang membedakan risalah Islam dengan konsep manusia pada umumnya. Selalu menyertakan sisi akhlak dalam segala dimensi kehidupan. Sehingga siapapun orangnya, apapun jabatannya, seberapapun harta kekayaannya, dan keunggulan materi lainnya, tetap akhlaklah penilaian utamanya.

Begitulah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam hadir ke permukaan bumi adalah untuk memperbaki aklak manusia, dari jahiliyah menuju penuh hidayah, dari pemujaan pada manusia menjadi penyembahan kepada Allah, dan dari pertikaian perpecahbelahan menjadi penuh persaudaraan dan persatuan dalam tali agama Allah.

Karena itu Allah merangkaikan takwa dengan persatuan, takwa kepada Allah dengan ikatan persaudaraan dengan sesama orang beriman.

Seperti disebutkan di dalam ayat:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ . وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعاً وَلا تَفَرَّقُوا …..

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kalian mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. Dan berpeganglah kalian kepada tali (agama) Allah seraya berjamaah, dan janganlah kalian bercerai-berai……” (QS Ali Imran: 103).

Di dalam tafsir Ibnu Katsir disebutkan hadits Sahih Muslim dari Abu Hurairah:

إِنَّ اللَّهَ يَرْضَى لَكُمْ ثَلَاثًا، وَيَسْخَطُ لَكُمْ ثَلَاثًا، يَرْضَى لَكُمْ أَنْ تَعْبُدُوهُ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا، وَأَنْ تَعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا، وَأَنْ تُنَاصِحُوا مَنْ وَلَّاهُ اللَّهُ أَمْرَكُمْ، وَيَسْخَطُ لَكُمْ ثَلَاثًا: قِيلَ وَقَالَ، وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ، وَإِضَاعَةَ الْمَالِ

Artinya: “Sesungguhnya Allah ridha kepada kalian dalam tiga perkara dan murka kepada kalian dalam tiga perkara. Allah ridha kepada kalian bila kalian menyembah-Nya dan kalian tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, bila kamu sekalian berpegang teguh kepada tali Allah dan tidak bercerai-berai, dan bila kalian saling menasihati dengan orang yang dikuasakan oleh Allah untuk mengurus perkara kalian. Dan Allah murka kepada kalian dalam tiga perkara, yaitu banyak berdebat, banyak bertanya dan menyia-nyiakan harta.”

Dengan kesatuan dan kekompakan dunia Islam inilah, maka peradaban dunia akan tumbuh berkembang, terpimpin dan terarah dalam ridha Allah.

Terlebih potensi kaum Muslimin yang saat ini berkembang signifikan pesat di negara-negara Barat. Sebut saja umat Muslim di Rusia, yang dulu negeri komunis Soviet, saat ini mencapai sekitar 21 juta Muslim. Di Prancis, umat Muslim saat ini telah mencapai hampir 10% dari populasi penduduknya, atau sekitar 7 juta Muslim.

Di Negeri Tiongkok, Cina, umat Muslim ternyata telah membludak hingga angka 50 juta lebih dari 1,4 miliar penduduknya.

Di negara Paman Sam, Amerika Serikat, perkembangannya sangat luar biasa, rata-rata orang masuk Islam, menjadi mualaf sejumlah 100 ribu orang per tahunnya.

Untuk itu hadirin yang dimuliakan Allah,

Marilah kita canangkan, kita dukung dan terus kita upayakan terciptanya persatuan dan kesatuan dunia Islam, terus kita suarakan lintas batas melalui dunia maya dan media sosial dengan bahasa internasional. Sehingga tergabunglah dalam kesatuan Jama’ah Muslimin beserta Imaamnya.

Untuk itu perlu terus-menerus secara intensif kita samakan visi dan misi Islam yang rahmatan lil ‘alamin, yang bersaudara, tidak mudah dipecah-belah dan dadu domba, serta berkomitmen terhadap Al-Quran dan As-Sunnah dengan landasan Tauhidullah. Dengan intensif menjalin koneksi dan network antarsesama pergerakan Islam di manapun berada tanpa batas waktu dan teritorial.

Kita pun, terutama wahai generasi muda Muslim, masih terus harus meningkatkan kualitas dan kuantitas ilmu pengetahuan dan wawasan global, sesuai dengan kajian masing-masing. Kita bukan sedang mengambil ilmu dari luar soal kedokteran, antariksa, teknologi, dan lainnya. Tapi sedang mengembalikan ke arah yang sebenarnya, bahwa yang berhak menguasai iptek dan penguasaan bumi dan alam seisinya adalah orang-orang beriman. Sehingga bumi digunakan untuk kemaslahatan dan kesejahteraan manusia.

Ha lainnya adadah peningkatan minat dan daya baca, sesuai perintah ayat yang pertama kali turun “Iqra!”. Menjadi Muslim yang gemar membaca dan menelaah informasi-informasi yang terus bergerak dan berkembang. Juga secara individu maupun kelembagaan, kita kembangkan perpustakaan-perpustaakan, sumber-sumber bacaan untuk generasi mendatang.

Dengan demikian maka Islam sebagai agama yang Ya’lu walaa yu’la ‘alaihi, tinggi dan tidak ada yang melebihi tingginya, gagah dan berwibawa, namun santun dan penuh kasih sayang, akan sangat dinanti dan ditunggu oleh manusia di dunia yang sedang kehausan dan meronta dalam spiritual saat ini.

Dengan demikian peradaban Islam akan kembali ke permukaan dalam mengatasi segala problematika dunia dalam tuntunan dan ridha Allah Subnahahu Wa ta’ala. Aamiin yaa robbal ‘aalamiin.

Terakhir, terkhusus kepada kaum Muslimat atau Akhwat,

Tetap teguh hatilah menjaga kehormatan diri, karena Allah Maha Mengetahui. Jagalah perintah Allah, niscaya Allah akan menjaga kalian. Dan teruslah menuntut ilmu dan dan beramal sepanjang hayat, serta gemar berderma untuk kemaslahatan umat.

Semoga Allah menguatkan langkah kesatuan umat Islam dan Allah berkenan menerima amal shalih kita semua. Aamiin Yaa Robbal ‘Aalamiin.

Akhirnya, marilah kita akhiri dengan munajat doa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala

الحَمْدُ لله رَبِّ العَلَمِيْنَ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى اَشْرَفِ الأَنْبِيَاءِ وَالمرْسَلِيْن َوَعَلَى الِهِ وَأَصْحَابِهِ اَجْمَعِيْنَ .

أَللَّهُمَّ  مُنْزِلَ الْكِتَابِ وَمُجْرِيَ السَّحَابِ وَهَازِمَ  اْلأَحْزَابِ  اَللَّهُمَّ هْزِمْهُمْ  وَانْصُرْنَا عَلَيْهِمْ. أَللَّهُمَّ  مُنْزِلَ الْكِتَابِ سَرِيْعَ  اْلحِسَابِ اِهْزِمِ  اْلأَحْزَابِ أَللَّهُمَّ  اهْزِمْهُمْ  وَزَلْزِلْهُمْ.

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ .

رَبَّنَا ءَامَنَّا بِمَا أَنْزَلْتَ وَاتَّبَعْنَا الرَّسُولَ فَاكْتُبْنَا مَعَ الشَّاهِدِينَ.

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ.

اللَّهُمَّ انْجِ الْمُسْلِمِيْنَ اللَّهُمَّ انْجِ الْمُؤْمِنِيْنَ فىِ بِلاَدِ الْعِرَاقِ وَأَفْغَانِسْتَانِ وَسُورِيَة وَرَاهِنْياَ وَفَلَسْطِيْنَ خَاصَّةً, وَفىِ بُلْدَانِ اْلمُؤْمِنِيْنَ عَامَّةً.

اللَّهُمَّ اشْدُدْ وَطْأَتَكَ عَلَى الكُفَّارِ وَشُرَكَائِهِمْ. اللَّهُمَّ وَشَطَّطْ شَمْلَهُمْ وَفَرِّقْ جَمْعَهُمْ اللَّهُمَّ اهْزِمْهُمْ وَزَلْزِلْهُمْ.

أَللَّهُمَّ احْيِ اْلمُسْلِمِيْنَ  وَاِمَامَهُمْ  بِجَمَاعَةِ  اْلمُسْلِمِيْنَ حَيَاةً  كَامِلَةً طَيِّبَةً وَارْزُقْهُمْ  قُوَّةً  غَالِبَةً عَلَى كُلِّ  بَاطِلٍ وَظَالِمٍ وَسُوْءٍ  وَفَاحِشٍ  وَمُنْكَرٍ.

رَبَّنَا اَتِنَا فِىْ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى ْالأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ مَعَ اْلأَبْرَارِ يَا عَزِيْزٌ يَا غَفَّارٌ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَ الْحَمْدُ للهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ. تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّاوَمِنْكُمْ, تَقَبَّلْ يَاكَرِيْم.

(A/RS2/RI-1)

Mi’raj News Agency (MINA)