Kiat Hidup Bahagia (bag. 2)

Oleh Bahron Ansori, wartawan MINA

Tidak ada manusia yang tidak ingin hidup bahagia. Karena itu, dalam Islam sumber kebahagiaan itu tidak ada lain kecuali jika seorang muslim itu kembali kepada al Qur’an dan as Sunnah. Dengan kata lain, seorang muslim yang ingin hidup bahagia, dan merasakan kebahagiaan itu, maka ia harus menjalani kehidupan ini sesuai aturan Allah dan Nabi-Nya.

Ada beberapa langkah untuk menggapai hidup bahagia antara lain sebagai berikut.

Pertama, berprilaku baik melalui ucapan, perbuatan, dan segala bentuk al-makruf. Di antara sarana untuk menghilangkan kegundahan, kesedihan dan kegelisahan adalah : Berprilaku baik kepada orang lain melalui ucapan, perbuatan dan segala bentuk al-ma’ruf (kebajikan). Semua itu adalah kebaikan untuk diri dan tindak kebajikan untuk orang lain.

Lantaran kebajikan itu dan sesuai dengan kadar kebajikan itu jua, Allah menangkis segala kegundahan dan kesedihan, baik untuk orang yang berprilaku baik atau untuk orang yang jahat. Hanya saja, yang diperoleh orang mukmin lebih sempurna. Ia unggul karena kebaikannya timbul dari keikhlasan dan keberharapan hanya pada pahala Allah. Karena ia mengharapkan yang baik, maka Allah memudahkan baginya berprilaku baik. Dan, karena ikhlas dan hanya mengaharap pahala dari Allah, maka Allah menangkis untuknya segala cobaan berat.

Allah berfirman,

 لَا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا

“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan pembicaraan-pembicaraan antara mereka, kecuali pembicaraan orang yang menyuruh (manusia) bersedekah, atau melakukan kebajikan, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami mengaruniakan kepadanya pahala yang besar.” [Qs. An-Nisaa : 114]

Allah Subhanahu wa Ta’ala menerangkan, bahwa semua itu adalah suatu kebaikan yang timbul dari pelakunya. Sedangkan suatu kebaikan akan menghasilkan kebaikan dan menangkis keburukan. Dan bahwasanya orang mu’min yang hanya berharap pahala Allah akan dianugrahi olehNya pahala yang agung. Termasuk pahala agung itu adalah hilangnya kegundahan, kesedihan, keruwetan hati dan semacamnya.

Kedua, bersikap adil dan bijaksana dalam bergaul. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah seorang mukmin lelaki membenci seorang wanita mukminah. Karena, kalaupun ia tidak menyenangi suatu karakter yang ada padanya, tentu ia menyenangi karakter lain yang ada padanya.” (HR. Muslim, Muslim bin Al-Hajjaj An-Naisaburi, Shahih Muslim, Kitab Ar-Radha bab Al-Washiyyah bin Nisa’)

Hadis di atas mengandung dua hikmah yang agung. Pertama. Arahan untuk bergaul dengan isteri, kerabat dekat, teman, orang yang bekerja sama dengan kita, dan semua yang ada keterkaitan dan hubungan antara kita dan orang lain. Yaitu, seharusnya kita bisa menata batin dalam bergaul dengannya. Bahwa pasti ia mempunyai cela atau kekurangan atau hal lain yang tidak disukai, itu pasti. Namun jika kita dapati hal yang demikian, bandingkanlah itu dengan kuatnya pertalian dan kesinambungan cinta antara kita dan dia yang wajib dan seharusnya kita bina.

Dengan mengingat-ingat sisi-sisi kebaikan sang istri, maksud-maksud baik yang bersifat umum atau khusus yang ada pada dirinya. Dengan menutup mata dari sisi-sisi keburukkan dan memandang sisi kebaikan istri atau yang lainnya, maka  persahabatan dan tali hubungan akan langgeng dan ketenteraman batin akan terwujud insya Allah.

Ketiga. Yaitu hilangnya kegelisahan maupun keguncangan, langgengnya ketulusan cinta, keberlanjutan menunaikan tuntunan bergaul yang bersifat wajib maupun sunnah, dan terwujudnya ketentraman batin antara kedua belah pihak.

Siapa yang tidak bisa mengambil pelajaran dari hadis Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini, dan bahkan ia melakukan sebaliknya, yaitu dengan memperhatikan sisi-sisi keburukan dan membutakan mata dari melihat sisi-sisi kebaikan, maka pasti ia akan guncang dan gelisah, dan pasti tidaklah mulus cinta yang ada antara dia dan orang yang sudah terjalin hubungan dengannya.

Di samping itu, sejumlah hak maupun kewajiban yang harus dipelihara oleh masing-masing dari keduanyapun akan putus.

Banyak tokoh atau pahlawan yang mampu menguatkan hatinya untuk sabar dan tenang saat terjadinya bencana atau malapetaka besar. Namun, di saat menghadapi perkara-perkara remeh dan sederhana, maka justeru guncang, dan kepolosan hatinya tidak jernih lagi. Sebabnya adalah karena mereka dapat menguatkan hati dalam menghadapi perkara-perkara besar, tapi saat menghadapi perkara-perkara kecil, justeru mereka biarkan diri mereka tanpa kontrol, sehingga membahayakan mereka dan berefek buruk pada ketenangan mereka.

Orang yang berkepribadian kokoh mampu menguatkan hatinya untuk menghadapi perkara kecil maupun besar. Ia memohon pertolongan Allah untuk menghadapinya dan memohon agar Allah tidak menitipkan dirinya kepada dirinya walau sekejap mata. Maka, di saat itulah perkara kecil menjadi mudah baginya, sebagaimana perkara besar pun menjadi mudah. Dan, ia tetap berjiwa tenteram, berhati tenang serta nyaman, wallahua’lam.(A/RS3/P1)

(Sumber: Al-Wasailu Al-Mufidah Lil Hayatis Sa’idah / Dua Puluh Tiga Kiat Hidup Bahagia)

Mi’raj News Agency (MINA)