Kisah Setahun Aksi Damai Gaza, Menantang Peluru Israel (Bag. 1)

Atia Younis, pria 67 tahun yang hanya absen sekali dalam protes Great March of Return selama satu tahun. (Foto: Abed Zagout/The Electronic Intifada)

Setiap Jumat sejak 30 Maret 2018, ribuan hingga puluhan ribu warga Palestina yang tinggal di Jalur Gaza melakukan aksi Great March of Return, aksi damai di sepanjang dekat pagar perbatasan dengan Israel. Mereka menuntut hak untuk kembali ke tanah air mereka yang dirampas dan diduduki Israel. Hak kembali itu dijamin oleh hukum internasional dalam resolusi PBB.

Inilah kisah beberapa warga Palestina dari ribuan peserta yang selalu pergi ke dekat perbatasan, dengan aksi damai mereka menantang peluru-peluru tentara Israel yang bersiap di seberang pagar perbatasan.

Pria 67 tahun yang hanya sekali absen

Atia Younis telah menjadi peserta reguler di Great March of Return di Gaza sejak dimulai setahun lalu.

Dia telah menghadiri semua aksi, kecuali satu dari protes yang diadakan setiap hari Jumat. Satu-satunya waktu demonstrasi yang Younis lewatkan adalah pada bulan Juli, setelah ia menghirup gas air mata yang ditembakkan oleh pasukan Israel. Terkena senjata kimia itu membuat pria berusia 67 tahun tersebut tidak sehat selama sepekan. Selama itu ia mengalami kejang otot.

Insiden itu menakutkan.

Younis membawa 14 cucunya ke sebuah tenda yang didirikan sekitar 500 meter dari pagar yang memisahkan Gaza dan Israel. Ketika militer Israel menembak ke arah mereka, para kerabat itu sedang menyanyikan lagu-lagu patriotik dan memainkan permainan untuk melihat siapa yang tahu nama tempat-tempat di Palestina.

“Cucu saya mulai berteriak dan lari,” kata Younis yang tinggal di Rafah, kota paling selatan di Gaza.

Di tengah kepanikan, Younis meninggalkan tenda dan mencoba menemukan cucu-cucunya. Awalnya, dia hanya dapat menemukan empat dari mereka.

“Saya merasa tidak berdaya, semua orang lari dari asap dan itu adalah kekacauan besar,” kata Younis. “Saya terus memanggil nama cucuku. Saya berdoa kepada Tuhan agar tidak kehilangan mereka.”

Butuh waktu sekitar 30 menit sebelum Younis bisa melihat mereka melalui kabut putih gas air mata yang tebal. Untungnya, semua cucu Younis aman.

“Untuk sesaat, saya merasa salah membawa anak-anak (ke protes),” kata Younis. Pada refleksi lebih lanjut, Younis sampai pada kesimpulan bahwa dia tidak ingin menempatkan mereka dalam bahaya.

Seperti kebanyakan orang di Gaza, Younis adalah seorang pengungsi. Keluarganya berasal dari Barbara, sebuah desa bersejarah di Palestina yang secara etnis dibersihkan oleh militer Israel dalam beberapa bulan terakhir tahun 1948.

Protes pekanan menegaskan bahwa pengungsi Palestina memiliki hak untuk kembali ke kota dan desanya, tempat mereka dan keluarganya diusir. Hak mereka telah diakui oleh PBB.

Younis menunjukkan bagaimana pawai itu terus berlanjut meskipun ada kekerasan ekstrem Israel sebagai bukti efektivitasnya.

“Tapi Gaza masih membutuhkan dukungan dari Tepi Barat dan negara-negara Arab,” katanya.

Membaca untuk mendapatkan hak

Mustafa Al-Zatma, 28 tahun, warga Rafah lainnya, adalah seorang insinyur di sektor swasta.

“Saya memiliki pekerjaan yang baik di sini dan memiliki ambisi untuk bekerja di perusahaan teknik internasional,” katanya. “Saya mencintai hidup saya, tetapi ini tidak mencegah saya untuk berpartisipasi dalam pawai. Seperti semua orang, saya menuntut hak untuk kembali.”

Keluarganya berasal dari Al-Majdal, sebuah desa yang direbut oleh pasukan Israel pada November 1948. Ashkelon adalah sebuah kota di Israel yang dibangun di atas sisa-sisa desanya.

Pada salah satu protes pekanan, Al-Zatma bergabung dengan sejumlah temannya untuk mengatur rantai bacaan. Mereka duduk melingkar dan membuka buku di sekitar 700 meter dari pagar batas.

“Acara ini adalah pesan kepada dunia bahwa orang-orang yang berpartisipasi dalam Great March of Return adalah orang-orang yang berpendidikan, yang sadar akan hak-hak Palestina,” katanya.

Jarak dari pagar dan fakta bahwa kegiatan itu jelas damai ternyata tidak menghentikan Israel penembakan gas air mata kepada para pembaca.

Al-Zatma berpikir bahwa penyelenggara protes harus mencegah anak-anak ikut mengambil bagian. “Anak-anak menjadi sasaran banyak penembak jitu Israel,” katanya.

Sekitar 270 warga Palestina telah gugur selama protes pekanan sejak peluncurannya pada akhir Maret 2018. Lebih dari 40 di antaranya adalah anak-anak. (AT/RI-1/P2)

 

Mi’raj News Agency (MINA)