Ledakan Beirut Dan Bom Nuklir Pemusnah Massal

Oleh: Rifa Berliana Arifin, Kared Arab MINA

Ledakan Beirut mengguncang Libanon dan seantero negara-negara Timur Tengah, membuat banyak dugaan adanya konspirasi-konspirasi dalang di balik panggung, mulai dari AS, Israel, Hizbullah, Suriah hingga Rusia. Aakan tetapi entah siapa yang mengendalikan, masih dalam penyelidikan. Yang jelas peristiwa itu menunjukkan betapa parahnya sistem politik Libanon mengarah kepada “failed state”.

Terlebih sebelumnya rakyat Libanon sudah berdemo karena pemerintahnya dinilai begitu sangat korup.

Video ledakan berdurasi dua menit viral menjadi tontonan jagat maya dunia, peristiwa ledakan dahsyat yang mengapi di udara menimbulkan awan hitam kemerahan dan membumihanguskan segala jenis benda di atas permukaan tanah sejauh 10 Kilometer. Sungguh mengerikan.

Maka tak heran jika paska insiden ledakan tersebut, masyarakat dunia membandingkannya dengan ledakan Bom Atom AS terhadap Jepang. Kebetulan dua hari 6 dan 9 Agustus kemarin adalah Hari ke-75 peringatan ledakan dahsyat tersebut setelah tahun 1945.

Akan tetapi faktanya, jika kita melihat dokumentasi BBC tahun 2017 tentang ledakan Hirosima maka kesimpulannya efek ledakan Beirut terlalu kecil jika dibandingkan dengan bom nuklir AS.

Bom nuklir yang dijatuhkan di Hiroshima dianggap sebagai bom atom paling berbahaya. Bom nuklir saat ini kebanyakan adalah bom hidrogen atau disebut “bom termonuklir” yang artinya 1.000 kali lebih kuat dari bom Atom.

Sebagai perbandingan, kekuatan ledakan Beirut adalah 2 kiloton. Hiroshima dibom dengan kekuatan 15 kiloton.  Sementara Bom Hidrogen terkuat yang dimiliki AS saat ini jenis B53 bisa menghasilkan kekuatan 9.000 kiloton.

Apa pentingnya membuat Bom Nuklir atau Bom Hidrogen jika hanya membuat kekacauan dan kebinasaan ?

Tempo dulu, senjata nuklir diciptakan bertujuan untuk mengakhiri Perang Dunia Kedua (Wordl War 2).  Yang mana saat itu aliansi AS Uni Soviet dan Inggris sedang melawan Jerman-Jepang-Italia.  Jerman dan Italia sudah menyerah, tapi Jepang tidak menyerah dan memilih bertahan.

Akibatnya, AS membuat Jepang menyerah dengan paksa dengan membom  Hiroshima pada 6 Agustus 1945 dan di Nagasaki pada 9 Agustus. Hasilnya 140.000 dari 350.000 jiwa penduduk Hiroshima tewas. Sedangkan di Nagasaki, 74.000 jiwa tewas dari 270.000 penduduk. Setelah enam hari berlangsung, Jepang angkat tangan menyerah.

Banyak orang megatakan bahwa AS begitu kejam.  Tapi faktanya jika itu tidak dilakukan, Jepang tidak akan pernah menyerah. Dalilnya, Pertempuran Okinawa pada April 1945 mencatat hampir 13.000 tentara AS dan 150.000 warga Jepang di Okinawa tewas, itu karena tentara Jepang lebih rela mati daripada menyerah.

Jepang melatih warga sipil termasuk wanita dan anak-anak untuk melawan tentara AS jika mendarat di Jepang.  Bisa dibayangkan berapa banyak tentara AS yang akan dibunuh. AS sudah memperkirakan satu juta tentara AS akan mati, sementara Jepang mengatakan siap melawan meski mengorbankan 100 juta orang.

Maka AS memilih opsi untuk mengirim bom atom dibanding harus mengirim nyawa tentara AS ke Jepang. Kaidahnya memilih opsi yang paling sedikit jumlah korbannya, maka AS berhasil “menang cepat” dari Jepang.

Pengeboman Hiroshima dan Nagasaki juga menjadi sinyal peringatan bagi Uni Soviet yang juga berusaha menaklukkan Jepang saat itu.  Meskipun AS dan Uni Soviet pada awalnya adalah sekutu, setelah mengalahkan Jerman keduanya mulai bersaing.  Itulah politik, Sebelum musuh bersama dijatuhkan, teman tapi setelah musuh terjatuh, langsung tusuk.

Bisa jadi jika bukan karena bom atom yang dijatuhkan AS, mungkin Jepang akan terpecah menjadi Jepang Utara dan Jepang Selatan seperti Korea. Itulah mengapa kebanyakan orang Jepang punya balas dendam kepada AS atas pemboman Hiroshima dan Nagasaki dan bahkan menyadari peristiwa itu adalah pengorbanan rakyat Jepang di Perang Dunia Kedua.

Uni Soviet melihat AS memiliki bom nuklir. Dan pada tahun 1949 Uni Soviet berhasil menguji bom nuklir pertama.  Sebaliknya, AS ingin memastikan bahwa ia selalu mendahului Uni Soviet, sehingga AS juga menciptakan “spesies” baru bom nuklir, yakni Bom Hidrogen.

Tentu saja, Uni Soviet mampu mengejar dan menghasilkan bom Hidrogen sendiri, bahkan bom Hidrogen milik Uni Soviet yang disebut senjata terkuat yang pernah dibuat oleh manusia yang bisa menghasilkan ledakan berkekuatan 50.000 kiloton.

Setelah melihat AS dan Uni Soviet, mulai negara lain juga membuat nuklir.  Inggris bergabung dengan “klub nuklir” pada tahun 1952, diikuti oleh Perancis (1960), Cina (1964), Israel (1967), India (1974) dan Pakistan (1998).  Yang terakhir adalah Korea Utara (2006).

Para Pakar Hubungan Internasional menyebut istilah “perdamaian nuklir” untuk kondisi saat ini, Artinya keberadaan senjata nuklir justru mencegah terjadinya perang karena negara-negara pemilik nuklir akan takut berperang satu sama lain karena akan membawa kehancuran yang mengerikan.

Negara akan berperang jika margin lebih besar daripada costnya.  Jika bom nuklir menelan korban puluhan ribu nyawa, tidak ada yang mau berperang.  Maka sejak 1945, dunia tidak lagi melihat kekuatan-kekuatan besar bertempur secara langsung, padahal hal itu normal dan biasa sebelum tahun 1945.

Konstelasi pertarungan pasca Perang Dunia II adalah, dengan menggunakan proxy.  Seperti di Korea, AS mendukung Korea Selatan, Uni Soviet mendukung Korea Utara.  Di Vietnam, AS mendukung Vietnam Selatan, Uni Soviet mendukung Vietnam Utara.

Jatuhnya rezim komunis Uni Soviet tahun 1991 mengakhiri Perang Dingin, membuat perlombaan senjata nuklir tidak diperlukan. Terakhir kali AS melakukan uji coba senjata nuklir adalah pada tahun 1992. Setelah itu AS dan negara lain yang memiliki nuklir mulai mengurangi jumlah senjata nuklirnya. Data menunjukan, Pada tahun 1986, jumlah total senjata nuklir dunia adalah 64.449.  Sekarang jumlahnya kurang dari 14.000.

Pada tahun 1996, negara-negara tersebut menandatangani Perjanjian Larangan Uji Coba Nuklir, isinya adalah larangan uji coba bom nuklir.  Hanya Korea Utara yang masih keras kepala melakukannya.

Meski saat ini negara adidaya tidak melakukan uji nuklir pun mereka tidak berniat melenyapkan nuklir.  Pada tahun 2017, Majelis Umum PBB mengusulkan Perjanjian tentang Pelarangan Senjata Nuklir yang bertujuan untuk melarang senjata nuklir, tetapi tidak berhasil.

Adanya senjata nuklir membuat negara adidaya hanya bisa berperang dingin, tidak peduli ketegangan apapun saat ini antara AS-Rusia atau Cina-AS, India-Pakistan, Korsel-Korut, mereka hanya bisa berperang dalam dingin dan senyap.

Sungguh ironis, saat ini senjata nuklir tetap ada sebagai suatu “bahaya yang diperlukan” demi keamanan dan stabilitas politik internasional yang baik. Meski di balik keberadaannya ada segudang masalah dan potensi kehancuran yang membinasakan, namun di saat yang sama ia juga menjaga dari kehancuran. (A/RA-1/P1)

Miraj News Agency (MINA)