DARI masa kejayaan Kerajaan Mughal hingga tekanan politik pada era Bharatiya Janata Party (BJP), madrasah di India telah bertransformasi dari sekadar pusat hafalan Al-Quran menjadi institusi komunitas yang kompleks.
Dengan lebih dari 24.000 madrasah yang masih beroperasi di negeri Hindustan itu, lembaga Pendidikan madrasah saat ini harus terus mempertahankan identitas keislaman sekaligus beradaptasi dengan tuntutan modernitas, sambil menghadapi gelombang kebijakan pemerintahan yang mengancam eksistensi mereka.
Fakta mengejutkan bahwa jumlah madrasah di India jauh lebih tinggi daripada yang terdapat di negara-negara Arab. Data lama tahun 2018-2019 mencatatkan terdapat 24.010 madrasah yang beroperasi di seluruh India. Dari jumlah itu, 19.132 di antaranya terdaftar secara resmi dan 4.878 lainnya berstatus tidak terdaftar.
Konsentrasi terbesar berada di negara bagian Uttar Pradesh, yang menyumbang sekitar 60% dari total madrasah di India, dengan 11.621 madrasah terdaftar dan 2.907 tidak terdaftar.
Baca Juga: Tantangan Pendidikan di Era Media dan Teknologi
Angka-angka ini menunjukkan bahwa madrasah bukanlah institusi pinggiran, melainkan tulang punggung pendidikan bagi jutaan anak Muslim India.
Jika ditinjau dari sisi historis, pendidikan Islam di India telah terpola secara sistematis sejak kedatangan Islam sekitar abad ke-8 Masehi. Pada masa dinasti-dinasti Islam, madrasah tidak hanya mengajarkan ilmu agama tetapi juga mengintegrasikan berbagai bidang pengetahuan, mulai dari Al-Quran, Hadits, Fiqih, Ilmu Kalam, Logika, Astronomi, Matematika, serta bahasa Arab dan Persia.
Tradisi keilmuan yang kuat ini terus berlanjut hingga hari ini, namun dengan tantangan yang berbeda. Madrasah modern di India saat ini menghadapi tekanan ganda, di satu sisi harus mempertahankan warisan keilmuan Islam, di sisi lain harus merespon tuntutan dunia modern .
Transformasi Kurikulum Madrasah
Baca Juga: Kemendikdasmen Buka Pendaftaran Bug Bounty 2026 untuk Ketahanan Siber Pendidikan
Salah satu perkembangan paling signifikan dalam dunia madrasah India adalah upaya sistematis untuk mengintegrasikan kurikulum keagamaan dengan mata pelajaran modern.
Beberapa madrasah di Kozhikode, Surat, Mumbai, Hyderabad, hingga Delhi dan Ladakh telah memelopori model-model baru yang menggabungkan pendidikan agama dengan pelajaran teknologi informasi dan computer, keterampilan vokasional, literasi dan numerasi dasar, serta bahasa Inggris dan mata pelajaran umum lainnya
Tujuan dari integrasi ini jelas, yaitu mempersiapkan lulusan madrasah agar dapat bersaing di pasar kerja modern, sambil tetap mempertahankan identitas agama dan budaya mereka. Kesadaran orang tua Muslim yang meningkat bahwa mengandalkan pendidikan agama saja tidak cukup untuk mempersiapkan anak menghadapi kehidupan modern menjadi pendorong utama reformasi ini.
Menariknya, langkah ini juga membuka pintu bagi siswa non-Muslim yang tertarik belajar di madrasah, membantu mereka memahami Islam dengan lebih akurat dan mendekatkan diri dengan komunitas Muslim. Program serupa telah diperluas ke Maharashtra, Bihar, dan Kerala.
Baca Juga: PJJ Mahasiswa Mulai Pekan Ini, Mendiktisaintek Minta Diterapkan Secara Proporsional
Peran Strategis Madrasah
Madrasah di India bukan sekadar lembaga pendidikan agama. Mereka berfungsi sebagai jaring pengaman sosial bagi komunitas Muslim yang secara struktural terpinggirkan.
Data resmi melukiskan gambaran yang memprihatinkan tentang status pendidikan Muslim India, yaitu tingkat melek huruf Muslim hanya 59,1%, di bawah rata-rata nasional, 15% anak Muslim tidak pernah mengenyam sekolah sama sekali, rata-rata masa sekolah komunitas Muslim hanya sekitar 3 tahun 4 bulan, serta angka putus sekolah naik drastis mulai usia 10 tahun.
Dalam konteks inilah madrasah di India mengambil peran vital, di antaranya:
Baca Juga: Indonesia Tetapkan Pedoman Pemanfaatan AI di Dunia Pendidikan
- Akses Pendidikan Murah atau Gratis
Di daerah-daerah dengan konsentrasi Muslim tinggi, seringkali tidak ada sekolah negeri yang memadai. Di Uttar Pradesh saja, terdapat 1.943 desa dengan populasi Muslim besar yang tidak memiliki sekolah sama sekali. Madrasah mengisi kekosongan ini dengan menyediakan pendidikan dengan biaya sangat rendah atau bahkan gratis .
- Lingkungan yang Aman
Dalam narasi para orang tua Muslim, madrasah menawarkan sesuatu yang tak ternilai, yaitu lingkungan yang baik.
Di tengah meningkatnya diskriminasi dan bullying terhadap anak Muslim di sekolah arus utama, madrasah menjadi ruang yang bebas dari ejekan agama, intimidasi, dan stereotip identitas.
Bagi orang tua, ini juga mencakup penekanan pada etika (adab) dan pendidikan karakter (tarbiyah).
Baca Juga: Peta Jalan STISA ABM Menuju Institut Ilmu Al-Qur’an
- Perlindungan bagi Perempuan Muslim
Bagi anak perempuan Muslim, madrasah (terutama madrasah khusus putri) menawarkan solusi atas kekhawatiran gender tentang keamanan, pernikahan, dan mobilitas.
Larangan hijab di Karnataka tahun 2022 menyebabkan ribuan siswi Muslim putus sekolah, yang kemudian mendorong keluarga untuk semakin bergantung pada institusi komunitas seperti madrasah .
- Kebutuhan Dasar
Banyak madrasah di India yang menyediakan asrama dan makanan bagi siswa, terutama anak yatim. Mereka juga mengajarkan keterampilan hidup seperti memasak dan menjahit.
Realitas di Lapangan
Baca Juga: Jelang Lebaran, Dana BOS Madrasah dan BOP RA Cair untuk Bayar Guru Honorer
Salah satu tantangan terbesar madrasah India adalah stigma negatif yang melekat. Dalam wacana publik global dan domestik, madrasah sering dikaitkan dengan radikalisasi.
Namun, penelitian akademik menunjukkan gambaran yang sangat berbeda. Sebuah studi komparatif tentang program modernisasi madrasah di India, Pakistan, dan Bangladesh berargumen bahwa fokus berlebihan pada modernisasi madrasah sebagai antitesis radikalisasi seringkali mengaburkan realitas di lapangan.
Para peneliti menemukan bahwa madrasah sebenarnya menghasilkan berbagai sumber daya berbasis keimanan yang memperkuat ketahanan komunitas. Madrasah juga membekali komunitas dengan kapasitas navigasi untuk bertahan hidup di tengah kondisi kerja informal yang precariat dan bencana. Di samping itu, madarsah juga memiliki sejarah panjang reformasi yang diprakarsai sendiri di luar intervensi negara
Dengan kata lain, madrasah bukanlah institusi statis yang resisten terhadap perubahan, melainkan institusi komunitas yang terus berkembang.
Baca Juga: Menjaga Pandangan, Kunci Menyempurnakan Puasa Ramadhan
Sementara sikap pemerintah India terhadap madrasah bersifat ambivalen dan di bawah pemerintahan BJP yang berkuasa, cenderung bermusuhan.
Di satu sisi, pemerintah telah meluncurkan program-program untuk memodernisasi madrasah dengan memasukkan mata pelajaran umum. Namun, program-program ini seringkali kekurangan komitmen finansial yang serius dan tidak dibangun di atas hubungan kepercayaan dengan elit agama.
Di sisi lain, di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Narendra Modi dan partai BJP, madrasah menghadapi ancaman eksistensial yang nyata. Partai oposisi Samajwadi Party menuduh pemerintah BJP berkonspirasi untuk membongkar semua institusi minoritas. Tuduhan ini mencakup penutupan madrasah, pemeriksaan catatan tanah, dan penggunaan buldoser terhadap properti madrasah .
Kasus paling konkrit terjadi di negara bagian Uttarakhand, yang dikuasai BJP. Pada bulan Agustus 2025, Majelis Uttarakhand mengesahkan Minority Educational Institutions Act 2025, yang akan membubarkan Dewan Madrasah yang ada dan menggantinya dengan otoritas pengawas baru di bawah kendali pemerintah.
Baca Juga: Metode Baca Al-Qur’an Standar Nasional Tingkatkan Mutu Pendidikan
Para kritikus, termasuk pemimpin Muslim dan anggota parlemen oposisi, melihatnya sebagai serangan terhadap identitas dan otonomi budaya madrasah.
Maulana Shahabuddin Razvi, pemimpin All India Muslim Jamaat, menuduh pemerintah negara bagian menerapkan agenda nasionalis Hindu, dengan mengutip undang-undang kontroversial sebelumnya seperti Uniform Civil Code.
Seorang pendidik madrasah dari Haridwar mengungkapkan kekhawatiran yang meluas, meskipun madrasahnya sudah mengikuti standar pendidikan negara, pengambilalihan pemerintah mengancam otonomi institusi. Seorang ayah dari Dehradun menyatakan ketakutannya bahwa kontrol pemerintah dapat mengarah pada pembatasan pengajaran Islam, termasuk Al-Quran.
Implikasi Masa Depan
Baca Juga: Sekolah Paradisa Cendekia Salurkan Donasi untuk RSIA Gaza
Madrasah di India hari ini adalah institusi yang kompleks, beragam, dan dinamis. Mereka bukanlah lembaga konservatisme yang resisten terhadap perubahan, melainkan lembaga yang secara aktif menegosiasikan tarik-menarik antara tradisi, religiusitas, dan modernitas.
Para ahli berargumen bahwa kebijakan yang bermakna untuk mengatasi keterbelakangan pendidikan Muslim harus didasarkan pada reformasi sistemik dan intervensi spesifik komunitas. Ironisnya, respons kebijakan saat ini justru menempatkan fokus berlebihan pada modernisasi madrasah atau pembubarannya, daripada membangun sekolah negeri berkualitas yang inklusif secara sekuler .
Seperti yang dikatakan seorang analis politik di Dehradun, tindakan pemerintah BJP mencerminkan strategi berkelanjutan yang selaras dengan ideologi Hindutva, yang secara sistematis meminggirkan komunitas Muslim. Pembubaran Dewan Madrasah Uttarakhand bukanlah insiden terisolasi, melainkan bagian dari pola yang lebih besar yang mencakup Uniform Civil Code dan undang-undang konversi agama yang lebih ketat.
Bagi lebih dari 200 juta Muslim India, dan bagi dunia yang peduli, ketika institusi pendidikan komunitas terancam, bukan hanya madrasah yang hilang. Namun juga ruang aman terakhir bagi jutaan anak Muslim untuk belajar, tumbuh, dan bermimpi membangun umat, Masyarakat dan bangsanya di kancah dunia internasional. []
Baca Juga: Kemdiktisaintek Buka Rekrutmen Guru dan PPDB SMA Unggul Garuda
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic