Oleh Heri Budianto, Dosen STISA-ABM Online Lampung Selatan
DALAM sejarah perkembangan lembaga pendidikan, selalu ada masa ketika sebuah institusi memasuki fase penting yang menentukan arah masa depannya. Bagi Sekolah Tinggi Ilmu Shuffah Al-Qur’an Abdullah bin Mas’ud (STISA-ABM) Online Lampung Selatan, fase itu kini berada di depan mata.
Jika semua berjalan sesuai rencana strategis, pada tahun 2027 STISA-ABM Online akan bertransformasi menjadi Institut Ilmu Al-Qur’an Abdullah bin Mas’ud (IIQ-ABM). Perubahan status ini bukan sekadar peningkatan administratif, melainkan bagian dari peta jalan besar (roadmap) pembangunan pendidikan berbasis Al-Qur’an yang telah dirancang sejak awal berdirinya lembaga ini.
Transformasi tersebut merupakan tahapan penting dalam Rencana Induk Pengembangan (RIP) 2017–2067, yang menempatkan STISA-ABM sebagai proyek jangka panjang pembangunan peradaban berbasis nilai-nilai Al-Qur’an.
Baca Juga: STAI Al-Fatah Bogor Tutup KKN di Balaraja dengan Malam Keakraban
Dalam kerangka RIP tersebut, perkembangan STISA-ABM dirancang melalui beberapa tahap strategis: Tahun 2017–2027 Fase konsolidasi sebagai Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an. 2027–2037 Transformasi menjadi Institut Ilmu Al-Qur’an unggul di Sumatera. Tahun 2037–2047 Pengembangan menuju Universitas Al-Qur’an unggul tingkat nasional dan regional. 2047–2067 Puncak visi besar: menjadi Universitas Al-Qur’an berkelas internasional (World Class University).
Dengan tahapan ini, perjalanan STISA-ABM bukan sekadar proyek pendidikan biasa, tetapi sebuah proyek peradaban yang dirancang untuk berlangsung selama setengah abad.
Fondasi Transformasi Sudah Terbangun
Sejumlah prasyarat akademik menuju perubahan bentuk kelembagaan sebenarnya telah mulai terpenuhi. Saat ini STISA-ABM Online telah memiliki empat program studi, yaitu: Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Ekonomi Syariah, Pendidikan Agama Islam, Hukum Keluarga Islam, Keempat prodi ini berada pada dua rumpun keilmuan yang berbeda, salah satu syarat utama perubahan status menjadi institut.
Baca Juga: Menavigasi Era Digital: Menjaga Fitrah Anak Melalui Cahaya Wahyu
Selain itu, penguatan akademik juga terlihat dari: meningkatnya publikasi ilmiah dosen,pengembangan jurnal terakreditasi,serta lahirnya alumni sarjana Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir melalui dua periode wisuda.
Dalam ekosistem pendidikan tinggi modern, indikator-indikator tersebut menjadi ukuran penting reputasi akademik dan kesiapan institusi menuju akreditasi unggul.
Warisan Gagasan Pendiri
Transformasi ini tidak bisa dilepaskan dari gagasan besar Hadratus Syaikh Imaam Muhyiddin Hamidi rahimahullah, penggagas berdirinya Shuffah Al-Qur’an Abdullah bin Mas’ud. Beliau mendirikan lembaga ini dengan satu kegelisahan besar, jangan sampai umat meninggalkan generasi yang lemah. Kelemahan yang dimaksud bukan hanya secara fisik, tetapi juga lemah akidah, lemah ilmu pengetahuan, lemah ibadah, dan lemah kemandirian ekonomi.
Baca Juga: Program Madrasah Layak Belajar BAZNAS Sasar 700 MIS dan MTsS
Karena itu, Shuffah Al-Qur’an dirancang sebagai pusat kaderisasi umat berbasis pendidikan tinggi yang memadukan keilmuan, spiritualitas, dan profesionalisme. Dalam salah satu pernyataannya beliau menegaskan “Shuffah Al-Qur’an itu wajib ada. Dari sinilah akan lahir berbagai fakultas ilmu yang dikembangkan ke seluruh dunia.”
Salah satu inspirasi utama lembaga ini adalah model pendidikan Al-Shuffah pada masa Nabi Muhammad SAW, yang dianggap sebagai pusat pendidikan Islam pertama dalam sejarah. Konsep ini kemudian dikembangkan menjadi model pendidikan tinggi dengan tiga pilar utama: pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengembangan ilmu, dan pengabdian kepada masyarakat.
Pola tersebut sejalan dengan Tridharma perguruan tinggi modern, sehingga nilai tradisi Islam dapat berpadu dengan sistem akademik kontemporer.
Pendidikan untuk Semua
Baca Juga: Ketika Pintar dan Gelar Tak Menjamin Kebijaksanaan
Dalam proses perintisan lembaga ini, sejumlah tokoh akademik turut memberikan masukan penting. Salah satunya adalah Dr. Abdul Halim dari Malaysia, yang menekankan agar perguruan tinggi ini tetap terbuka bagi masyarakat luas, khususnya kalangan dhuafa. Pesan ini mengingatkan pada nilai kesetaraan dalam QS. ‘Abasa, yang menegaskan bahwa kesungguhan mencari ilmu lebih berharga daripada status sosial.
Selain itu, kehadiran pakar pakar pendidikan tinggi seperti Prof. Dr. Ir. H. Arifin Bratawinata, M.Ag, Rektor Universitas Mulawarman Periode 2006 -2010, telah memberi warna arah Pendidikan tinggi STISA-ABM, yang kemudian mendapat penguatan ruhiyah dari Drs Yaksyallah Mansur, M.A pakar pendidikan berbasis pesantren dengan konsep Pendidikan Ahlus Shuffah.
Dengan dorongan dan dukungan para pakar pendidikan tersebut, STISA-ABM berupaya membangun sistem pendidikan yang inklusif dan berkeadilan, sehingga siapa pun yang memiliki semangat belajar dapat memperoleh akses pendidikan Al-Qur’an.
Transformasi STISA-ABM menjadi institut pada tahun 2027 sebenarnya hanyalah satu langkah awal dari perjalanan panjang SQBM. Harapan besar dari peta jalan ini adalah lahirnya generasi yang: memiliki kedalaman ilmu Al-Qur’an, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, memiliki akhlak yang kuat, serta mampu berperan dalam pembangunan peradaban global.
Baca Juga: Peneliti UIN Ar-Raniry Ungkap Transformasi Otoritas Keagamaan di Era Digital
Dalam jangka panjang, lembaga ini diharapkan melahirkan sarjana-sarjana muslim yang tidak hanya menjadi ahli agama, tetapi juga pemikir, peneliti, dan pemimpin masyarakat. Seperti para sahabat ahli Ahlus Shuffah pada masa Rasulullah yang kemudian menjadi tokoh besar dalam berbagai bidang.
Menuju 2037: Institut Ilmu Al-Qur’an Unggul
Jika peta jalan tersebut berjalan sesuai rencana, maka pada periode 2027–2037 Institut Ilmu Al-Qur’an Abdullah bin Mas’ud diharapkan berkembang dengan: enam program studi penguatan riset Al-Qur’an dan peradaban, serta pembukaan program pascasarjana.
Langkah ini akan menjadi fondasi menuju tahap berikutnya: pembentukan Universitas Al-Qur’an pada dekade berikutnya.
Baca Juga: Indonesia dan Mesir Perluas Kerja Sama Pendidikan, Beasiswa Hingga Riset
Pada akhirnya, perjalanan STISA-ABM menuju institut bukan hanya tentang perubahan nama atau status kelembagaan. Ia adalah bagian dari ikhtiar panjang membangun generasi Qur’ani yang mampu menjawab tantangan zaman.
Jika roadmap ini berhasil dijalankan secara konsisten, maka dalam beberapa dekade ke depan Shuffah Al-Qur’an bukan hanya menjadi lembaga pendidikan, tetapi juga pusat lahirnya pemikiran, riset, dan kepemimpinan umat berbasis Al-Qur’an.
Dan dari sanalah, harapan tentang generasi emas peradaban Islam mulai menemukan jalannya. Wallahu a’lam. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Mahasiswa KKN STAI Al-Fatah Gelar Talkshow Jurnalisme Santri di Tasikmalaya















Mina Indonesia
Mina Arabic