Makna Izin Bagi Orang Beriman

Oleh: Ali Farkhan Tsani, Redaktur Senior Kantor Berita MINA (Mi’raj News Agency)

Seorang aktivis Islam merasa terkagum dalam sebuah tabligh akbar Jama’ah Muslimin (Hizbullah). Saat asatidz berbicara di mimbar, setiap ada jamaah yang ada keperluan, ke belakang misalnya, selalu mengacungkan tangan tanda izin. Sang ustadz pun mengangguk memberi izin.

Tampaknya sepele. Bisa saja seseorang ngeloyor begitu saja, toh tidak diketahuinya.

Namun bagi orang beriman, soal izin ini bukanlah hal sepele. Tapi justru prinsip, dan itu tanda orang beriman.

Allah menyebutkan di dalam ayat:

إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَإِذَا ڪَانُواْ مَعَهُ ۥ عَلَىٰٓ أَمۡرٍ۬ جَامِعٍ۬ لَّمۡ يَذۡهَبُواْ حَتَّىٰ يَسۡتَـٔۡذِنُوهُ‌ۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسۡتَـٔۡذِنُونَكَ أُوْلَـٰٓٮِٕكَ ٱلَّذِينَ يُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ‌ۚ فَإِذَا ٱسۡتَـٔۡذَنُوكَ لِبَعۡضِ شَأۡنِهِمۡ فَأۡذَن لِّمَن شِئۡتَ مِنۡهُمۡ وَٱسۡتَغۡفِرۡ لَهُمُ ٱللَّهَ‌ۚ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ۬ رَّحِيمٌ۬

Artinya: “Sesungguhnya yang sebenar-benar orang mu’min ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan apabila mereka berada bersama-sama Rasulullah dalam sesuatu urusan yang memerlukan pertemuan, mereka tidak meninggalkan (Rasulullah) sebelum meminta izin kepadanya. Sesungguhnya orang-orang yang meminta izin kepadamu [Muhammad] mereka itulah orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya, maka apabila mereka meminta izin kepadamu karena sesuatu keperluan, berilah izin kepada siapa yang kamu kehendaki di antara mereka, dan mohonkanlah ampunan untuk mereka kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS An-Nuur [24]: 62).

Pada ayat ini Allah bahkan menyebut perihal izin ini merupakan sebagian dari ciri dari sebenar-benar orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.

Permohonan izin ini bukan untuk memberatkan Jama’ah. Akan tetapi justru agar asatidz atau pimpinan dapat mengiringinya dengan doa permohonan ampunan kepada Allah.

Mengizinkan atau tidak mengizinkan itu tentu saja menjadi hak dan kebijaksanaan pimpinan yang memberikan izin.

Apalagi dalam strategi perjuangan Islam yang lebih luas, menyangkut kepentingan umat. Maka permasalahan izin ini menjadi sangat penting, dan menjadi pembeda dengan kelompok lain yang tak beraturan tanpa memperhatikan masalah izin ini.

Contoh bagaimana Nabi Sulaiman hendak menghukum burung Hud-Hud yang tidak ada dalam barisan, karena pergi ke suatu tempat tanpa izin darinya.

Allah mengabadikannya di dalam Al-Quran:

وَتَفَقَّدَ ٱلطَّيۡرَ فَقَالَ مَا لِىَ لَآ أَرَى ٱلۡهُدۡهُدَ أَمۡ ڪَانَ مِنَ ٱلۡغَآٮِٕبِينَ (٢٠) لَأُعَذِّبَنَّهُ ۥ عَذَابً۬ا شَدِيدًا أَوۡ لَأَاْذۡبَحَنَّهُ ۥۤ أَوۡ لَيَأۡتِيَنِّى بِسُلۡطَـٰنٍ۬ مُّبِينٍ۬ (٢١) فَمَكَثَ غَيۡرَ بَعِيدٍ۬ فَقَالَ أَحَطتُ بِمَا لَمۡ تُحِطۡ بِهِۦ وَجِئۡتُكَ مِن سَبَإِۭ بِنَبَإٍ۬ يَقِينٍ (٢٢) إِنِّى وَجَدتُّ ٱمۡرَأَةً۬ تَمۡلِڪُهُمۡ وَأُوتِيَتۡ مِن ڪُلِّ شَىۡءٍ۬ وَلَهَا عَرۡشٌ عَظِيمٌ۬ (٢٣)

Artinya: “Dan dia (Nabi Sulaiman) memeriksa burung-burung lalu berkata: “Mengapa aku tidak melihat hud-hud, apakah dia termasuk yang tidak hadir. (20) Sungguh aku benar-benar akan mengazabnya dengan azab yang keras, atau benar-benar menyembelihnya kecuali jika benar-benar dia datang kepadaku dengan alasan yang terang”. (21) Maka tidak lama kemudian [datanglah hud-hud], lalu ia berkata: “Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari negeri Saba, suatu berita penting yang diyakini, (22) Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar”. (23). (QS  An-Naml [27]: 20-23).

Begitulah, sangat jelas dikatakan kepada kita orang-orang beriman, mengenai gambaran pentingnya sebuah perizinan ketika meninggalkan suatu majelis, apalagi dalam sebuah Jama’ah.

Misalnya ketika akan meninggalkan sebuah tempat ke wilayah lain, agar pimpinan dapat memberikan alternatif pemberian amanah misalnya. Dan, permohonan izin dilakukan sebelum agenda keluar dijalankan. Jangan sampai setelah sampai tujuan, baru minta izin, itu namanya pemberitahuan saja. Bagaimana jika pimpinan tidak memberikan izin, sementara yang bersangkutan sudah tidak ada di tempat. Sementara akan ada amanah penugasan.

Di sinilah letak pentingnya taat, tertib dan disiplin dalam perjuangan yang teratur, dalam mengharap ridha-Nya, semata. Kita mulai hidupkan kembali dari masalah izin di suatu majelis. Karena ini merupakan bagian dari perjuangan Al-Jama’ah, dalam memperkokoh persatuan dan kesatuan umat Islam. (A/RS2/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)