MEE: Israel Gunakan Dokter sebagai Perisai Manusia Saat di RS Al-Syifa

Ilustrasi: aktivitas di RS Indonesia di Gaza Utara sebelum diserbu pasukan Israel. (Foto: MER-C)

London, MINA – Para di Jalur Gaza mengatakan dalam sebuah laporan bahwa mereka ditahan, diinterogasi dan digunakan sebagai “” selama serangan kekerasan Israel terhadap rumah sakit dan fasilitas medis di wilayah yang diblokade.

Beberapa dokter dan ahli bedah dikutip dalam sebuah laporan oleh situs berita Middle East Eye (MEE) yang berbasis di Inggris pada hari Jumat (1/12) bahwa pasukan rezim pendudukan menggunakan mereka sebagai “sandera”, ketika pasukan menyerbu Rumah Sakit al-Syifa dalam pengepungan dan pengeboman Israel selama berpekan-pekan di kompleks rumah sakit terbesar di Gaza tersebut.

Para dokter mengatakan, pasukan Israel menahan Mohammed Abu Silmiya, Kepala Rumah Sakit al-Syifa, bersama lebih dari 20 personel medis lainnya dari Gaza.

Silmiya dilaporkan telah ditahan dan diinterogasi dua kali oleh petugas Israel di dalam Rumah Sakit al-Syifa.

Marwan Abu Saada, Kepala Departemen Bedah di Rumah Sakit al-Syifa, mengatakan, “Selama beberapa hari, pesawat Israel terus mengebom berbagai gedung dan departemen rumah sakit. Quadcopter menembak langsung ke arah orang-orang, termasuk pasien dan pengungsi. Banyak orang terbunuh di dalam rumah sakit.”

“Mereka mengepung rumah sakit selama lima hari sebelum menyerbu departemennya. Mereka menahan kami [di area tertentu] dan mengancam kami [dengan menjadi sasaran]. Ketika mereka menyerbu gudang di darat, mereka menggunakan kami [dokter] sebagai tameng manusia untuk masuk dan menggeledah. Mereka menemukan karyawan pemeliharaan teknis di sana dan menginterogasinya, sebelum mereka ditahan.

Dia menambahkan bahwa pasukan Israel membawa beberapa dokter saat berpindah dari satu departemen ke departemen lain dan menggeledah berbagai kantor dan ruangan di Rumah Sakit al-Syifa.

“Kami merasa bahwa kami adalah sandera, digunakan untuk [melindungi] tentara Israel. Mereka membawa saya dan Dr. Abu Silmiya dan menginterogasi kami. Mereka tidak menggunakan kekerasan terhadap saya atau Dr. Abu Silmiya. Namun mereka menginterogasi Dr. Abu Silmiya dua kali,” lanjut Abu Saada.

Dokter mengatakan, pasukan Israel menanyai dia dan Abu Silmiya tentang keberadaan anggota gerakan perlawanan Hamas atau sandera di kantor rumah sakit atau apakah ada aktivitas yang dilakukan Hamas di al-Syifa.

“Kami mengatakan tidak, karena kami belum pernah melihat anggota Hamas di sana. Mereka mengepung kami di rumah sakit selama lima hari, dan pada malam gencatan senjata, saya kembali ke rumah, dan pasien serta beberapa anggota staf medis dievakuasi ke selatan,” kata Abu Saada.

Fadel Naim, seorang dokter yang menyaksikan serangan Israel, dikutip oleh Middle East Eye mengatakan, pasukan Israel menginterogasi para dokter tersebut untuk mendapatkan informasi tentang kelompok perlawanan Palestina.

“Banyak dokter dan profesional kesehatan telah diinterogasi dan ditahan,” kata Naim. “Setiap orang Palestina bisa ditahan, tapi mereka menahan dokter terutama karena mereka berpikir bahwa mereka akan mendapatkan informasi yang bisa membuktikan tuduhan mereka tentang perlawanan. Mereka menginterogasi dokter tersebut untuk mendapatkan informasi dan rincian tentang orang lain.”

Naim menambahkan, sejak awal serangan Israel di Gaza, ia telah menyaksikan atau mendengar banyak dokter terbunuh atau terluka.

“Rekan-rekan kami banyak yang langsung dibunuh. Setiap hari kami mendengar nama dokter lain yang terbunuh. Banyak dokter yang pernah menjadi mahasiswa kami juga dibunuh atau ditahan,” ujarnya. (T/RI-1/P1)

 

Mi’raj News Agency (MINA)