Oleh T. Lembong Misbah, Dosen Prodi Pengembangan Masyarakat Islam, Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry, Banda Aceh.
BULAN Ramadhan tahun 1446 H atau 2025 M sudah beberapa hari berlalu. Umat Islam di seluruh dunia merayakan Idul Fitri dengan penuh suka cita. Di balik kegembiraan tersebut, tidak hanya terdapat rasa lega karena akhirnya bisa kembali menikmati hidangan seperti biasa setelah berpuasa sebulan penuh, tetapi ada makna yang jauh lebih dalam, dimana Idul Fitri, sesungguhnya adalah perayaan pembebasan dari dosa dan pengembalian manusia kepada fitrah atau keadaan asal, seperti saat pertama kali dilahirkan.
Secara bahasa, “fitrah” dalam Islam berarti keadaan asli atau bersih. Ini adalah kondisi ketika manusia pertama kali diciptakan oleh Allah tanpa dosa. Fitrah ini adalah anugerah Allah yang murni, namun kerap ternodai oleh sikap dan perlilaku manusia sendiri. Pada hari Idul Fitri ini, umat Islam diyakini kembali kepada keadaan fitrahnya setelah menjalani ibadah puasa dan amal-amal baik selama bulan Ramadhan. Dengan berpuasa, seorang Muslim berusaha membersihkan dirinya dari dosa-dosa yang telah diperbuat sepanjang tahun. Ramadhan adalah bulan yang penuh rahmat dan pengampunan dari Allah, di mana setiap amal baik akan dilipatgandakan pahalanya. Allah juga berjanji akan mengampuni dosa hamba-Nya yang dengan tulus berusaha beribadah selama bulan tersebut.
Kefitrahan yang telah diraih pascaramadhan sejatinya dijaga agar tidak ternodai. Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang berpuasa dengan iman dan mengharap pahala, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Baca Juga: 10 Sebab Kenapa Amerika Sering Bantu Israel
Banyak ahli tafsir dan ulama yang mengaitkan konsep fitrah ini dengan makna kebersihan hati dan jiwa. Dalam pandangan mereka, puasa tidak hanya dimaksudkan untuk menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga untuk membersihkan diri dari sifat-sifat buruk yang menodai fitrah manusia. Misalnya, Rasulullah SAW mengatakan, “Puasa itu adalah perisai, selama seseorang tidak mencela dan tidak berbuat keji, maka puasa itu tidak akan ternodai.” (HR. Bukhari). Ini dapat dipahami bahwa puasa adalah sarana untuk menyucikan diri dari segala bentuk dosa, baik itu dosa lahir maupun batin. Karenanya, menjaga kebersihan hati, pikiran, dan perbuatan setelah bulan Ramadhan adalah hal yang sangat urgen.
Ada analogi menarik dalam konteks menjaga kefitrahan setelah Idul Fitri. Bayangkan seseorang yang setelah mandi dengan air bersih dan mengenakan pakaian yang suci, lalu ia menceburkan dirinya ke dalam air got yang kotor dan berbau. Tentu saja, pakaian yang bersih dan tubuh yang baru dibersihkan itu akan kembali ternoda dan kotor. Begitu juga dengan keadaan hati manusia setelah bulan Ramadhan. Jika setelah kembali kepada fitrah, seseorang kembali melakukan dosa dan maksiat, maka seolah-olah ia telah menodai kesucian dirinya yang telah diperoleh selama bulan suci Ramadhan.
Imam al-Ghazali, dalam kitabnya Ihya’ Ulum al-Din, menyatakan bahwa kesucian hati dan jiwa tidak hanya didapatkan dengan ibadah ritual semata, tetapi juga dengan menjaga hubungan yang baik dengan sesama manusia. Ramadhan mengajarkan umat Islam untuk lebih peka terhadap kebutuhan orang lain, berbagi rezeki, dan menjaga hubungan sosial yang harmonis. Karenanya, perayaan Idul Fitri seharusnya menjadi momentum untuk mempererat tali silaturahmi dan memperbaiki hubungan baik dengan orang lain. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Tidak sempurna iman seseorang hingga ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini mengingatkan umat Islam untuk tidak hanya memperhatikan dirinya sendiri, tetapi juga orang lain, menjaga kedamaian dan persatuan dalam masyarakat.
Maka dari itu, menjaga kebersihan hati, jiwa dan hubungan baik dengan sesame pasca Idul Fitri menjadi kunci utama untuk mempertahankan kemuliaan yang diperoleh selama bulan Ramadhan. Setiap amal baik yang dilakukan selama Ramadhan seharusnya menjadi modal berharga untuk menghadapi bulan-bulan selanjutnya dengan lebih baik. Jangan ada kesan selesai Ramadhan sudah bebas melakukan apa saja.
Baca Juga: Masjid Agung Jawa Tengah, Perpaduan Arsitektur Jawa, Arab, dan Eropa
Semoga dengan menjaga fitrah yang ada dalam genggaman, kita bisa terus menjalani hidup sesuai dengan tuntunan agama, memperbaiki diri, dan semakin dekat kepada Allah. Seperti yang telah dijanjikan dalam Al-Qur’an, “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS. At-Tin: 4). Inilah janji Allah yang seharusnya kita syukuri dengan menjaga kesucian diri dari segala dosa, agar kita tetap berada dalam keadaan fitrah dan mulia.
Karena itu, Idul Fitri eloknya bukan sekadar perayaan kemenangan atas tuntasnya ibadah puasa, tetapi lebih dari itu, ia adalah saat yang tepat untuk kembali kepada keadaan fitrah sebagai makhluk Allah yang suci dan bersih. Jadi, marilah kita menjaga diri, hati dan perbuatan kita, agar kegembiraan Idul Fitri tetap terasa sepanjang hidup, dengan berkomitmen untuk terus beramal baik, menjaga hubungan dengan sesama, dan selalu bertakwa kepada Allah. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: 12 Faktor, Fakta dan Data Kehancuran Israel