Mengenal Abu Bakar Ash-Shiddiq RA (2 habis)

Oleh Bahron Ansori, wartawan MINA

Berikut ini adalah lanjutan dari profil Khalifah Abu Bakar ra. Seorang sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang selalu menyertainya dalam suka duka. Dialah salah satu teladan manusia terbaik setelah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Keenam, imán dan keyakinannya yang kuat. Diriwayatkan dari Abdullah Ibnu Umar dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa menjulurkan pakaiannya (di bawah mata kaki) karena kesombongan maka Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat.”

Maka Abu Bakar berkata, “Sesungguhnya salah satu sisi dari bajuku selalu melorot ke bawah, kecuali jika aku selalu mengetatkarmya, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya engkau tidak termasuk orang yang menjulurkan pakaiannya karena kesombongan.”

Ketujuh, kemauannya yang tinggi. Diriwayatkan dari Abu Hurairah berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa menginfakkan sesuatu dari dua yang dimilikinya di jalan Allah, niscaya akan diseru dari pintu-pintu surga, “Wahai Hamba Allah inilah kebaikan. Maka siapa termasuk ahli shalat  akan dipanggil dari pintu shalat, siapa termasuk golongan yang suka berjihad maka akan dipanggil dari pintu jihad, dan siapa yang suka bersedekah maka akan dipanggil dari pintu sedekah, siapa yang suka berpuasa maka akan dipanggil dari pintu puasa dan dari pintu Ar Rayyan.

Maka Abu Bakar berkata, ‘Bagaimana jika seseorang harus dipanggil dari setiap pintu, dan apakah mungkin seseorang dipangil dari setiap pintu wahai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam?’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ya, dan aku berharap agar engkau wahai Abu Bakar termasuk salah seorang dari mereka’.”

Kedelapan, keberkahan Abu Bakar ash-Shiddiq ra. dan keluarganya. Diriwayatkan dari ‘Aisyah ra. dia berkata, “Kami keluar bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sebuah perjalanan, ketika kami sampai di suatu tempat yang bernama al-Baida -atau di Dzatul Jaisy- terputuslah kalung yang kupakai, maka  Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyuruh rombongan berhenti untuk  mencarinya dan orang-orang pun berhenti bersama beliau, sementara mereka tidak mendapati air dan tidak mempunyai air.

Lalu orang-orang mendatangi Abu Bakar dan berkata, ‘Tidakkah engkau melihat apa yang telah diperbuat oleh Aisyah? Dia telah membuat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berhenti dan manusia pun berhenti bersamanya, sementara mereka tidak mendapatkan air dan tidak memilikinya.’

Maka datanglah Abu Bakar ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berbaring meletakkan kepalanya di atas pahaku sedang tertidur. Abu Bakar mendatangiku dan berkata, ‘Engkau telah menahan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan  manusia sementara mereka tidak memiliki air dan tidak pula mendapatkannya’.”

‘Aisyah ra. berkata, “Maka ayahku mencelaku habis-habisan sambil menusuk-nusuk pinggangku dengan tangannya, tidak ada yang menghalangiku untuk bergerak kecuali takut Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam terganggu tidurnya, sementara  Rasululullah masih tetap tidur hingga pagi datang dan mereka tidak memiliki air, maka Allah turunkan waktu itu ayat mengenai tayammum,’Maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci).'(Qs. An-Nisa’: 43). Usa’id bin Hudhair berkata, “Bukanlah ini awal dari keberkahan kalian wahai keluarga Abu Bakar.”

Maka ‘Aisyah ra. berkata, “Kemudian kami membangkitkan hewan tungganganku dan ternyata kalung tersebut berada di bawahnya.”

Kesembilan, berita gembira untuknya sebagai penghuni Surga. Diriwayatkan dari Sa’id bin Musayyab dia berkata, “Telah berkata kepadaku Abu Musa al-Asy’ari bahwa suatu hari dia berwudhu’ di rumahnya kemudian berangkat keluar dan berkata, “Aku harus mengiringi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam hari ini.”

Beliau berangkat ke masjid dan bertanya di mana Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, maka dijawab bahwa beliau keluar untuk suatu hajat. Aku segera pergi berusaha menyusulnya sambil bertanya-tanya, hingga akhirnya beliau masuk ke kebun yang di dalamnya terdapat sebuah sumur bernama Aris, maka aku duduk di pintu dan ketika itu pintunya terbuat dari pelepah kurma hingga beliau menyelesaikan buang hajat dan setelah itu berwudhu.

Maka akupun berdiri berjalan ke arahnya ternyata beliau sedang duduk-duduk di atas sumur tersebut sambil menyingkap kedua betisnya dan menjulur-julurkan kakinya ke dalam sumur, maka aku datang memberi salam kepadanya, kemudian kembali ke pintu sambil berkata dalam hatiku, “Hari ini aku harus menjadi penjaga pintu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Tak lama kemudian datanglah Abu Bakar ingin membuka pintu, maka kutanyakan, “Siapa itu?” Dia menjawab, “Abu Bakar!” Maka kukatakan padanya, “Tunggu sebentar!” Aku segera datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan bertanya padanya, “Wahai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, ada Abu Bakar datang dan minta izin masuk!” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Suruhlah dia masuk dan beritahukan padanya bahwa dia adalah penghuni surga.”

Maka aku berangkat menujunya dan berkata, “Masuklah sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memberitakan padamu kabar gembira bahwa engkau adalah penghuni surga.” Abu Bakar masuk dan duduk di sebelah kanan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sambil menjulurkan kakinya ke sumur sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan dia menyingkap kedua betisnya…hingga akhir kisah.” Diriwayatkan dari Qatadah dari Anas bin

Kesepuluh, sepak terjangnya dalam membela RasuIullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Diriwayatkan dari Urwah bin az-Zubair dia berkata, “Aku pernah bertanya kepada Abdullah bin Amru tentang perbuatan kaum musyrikin yang paling menyakitkan RasuIullah, maka dia berkata, “Aku pernah melihat Utbah bin Abi Mu’ith mendatangi Nabi yang sedang shalat.

Lalu tiba-tiba Uqbah melilit leher Nabi dengan sorban miliknya dan mencekiknya sekeras-kerasnya, kemudian datanglah Abu Bakar membelanya dan melepaskan ikatan tersebut sambil berkata, “Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena ia menyatakan, ‘Rabbku ialah Allah’ padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Rabbmu.” (Qs. Al-Mukmin: 28).

Jasa-jasa Abu Bakar ra

Setelah menjadi khalifah, maka beliaulah yang bertugas dan bertanggung jawab terhadap seluruh negeri Islam dan wilayah kekhalifahannya sepeninggal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, maka tercatat sejumlah reputasi Abu Bakar yang gemilang di antaranya sebagai berikut.

Pertama, menginstruksikan agar jenazah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam diurus hingga dikebumikan.

Kedua, melanjutkan misi pasukan yang dipimpin Usamah yang sebelumnya telah dipersiapkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sebelum wafat.

Ketiga, kebijakannya menyatukan persepsi seluruh sahabat untuk memerangi kaum murtad dengan segala persiapan ke arah itu, kemudian instruksinya untuk memerangi seluruh kelompok yang murtad di wilayah masing-masing.

Keempat, kodifikasi al-Qur’an. Ibnu Katsir berkata, “Pada tahun 12 H Abu Bakar ash-Shiddiq ra. memerintahkan Zaid bin Tsabit agar mengkumpulkan al-Qur’an dari berbagai tempat penulisan, baik yang ditulis di kulit-kulit, dedaunan, maupun yang dihafal dalam dada kaum muslimin. Peristiwa itu terjadi setelah para Qari’ penghafal al-Qur’an banyak yang terbunuh dalam peperangan Yamamah, sebagaimana yang disebutkan dalam kitab Shahih al-Bukhari.

Imam al-Bukhari berkata, Bab Pengumpulan al-Qur’an kemudian dia mulai menyebutkan sanadnya hingga sampai kepada Ibnu Syihab dari Ubaid bin as-Sabbaq, bahwa Zaid bin Tsabit pernah berkata, “Abu Bakar ash-Shiddiq ra. mengirim kepadaku surat tentang orang-orang yang terbunuh di perang Yamamah, ketika aku mendatanginya, kudapati Umar bin al-Khaththab berada di sampingnya.

Abu Bakar berkata, “Umar mendatangiku dan berkata, “Sesungguhnya banyak para Qurra’ penghafal al-Qur’an yang telah gugur dalam peperangan Yamamah. Aku takut jika para Qari’ yang masih hidüp kelak terbunuh dalam peperangan, akan mengakibatkan hilangnya sebagian besar dari ayat al-Qur’an, menurut pendapatku, engkau harus menginstruksikan agar segera mengumpulkan dan membukukan al-Qur’an.”

Aku bertanya kepada Umar, “Bagaimana aku melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam?” Umar menjawab, “Demi Allah, ini adalah kebaikan!” Dan Umar terus menuntutku hingga Allah  melapangkan dadaku untuk segera melaksanakannya, akhirnya akupun setuju dengan pendapat Umar.

Zaid bin Tsabit berkata, “Kemudian Abu Bakar berkata padaku, “Engkau adalah seorang pemuda yang jenius, berakal dan penuh amanah, dan engkau telah  terbiasa menulis wahyu untuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, maka carilah seluruh ayat al-Qur’an yang berserakan dan kumpulkanlah.”

Berkata Zaid, “Demi Allah jika mereka memerintahkan aku untuk memikul gunung tentulah lebih ringan bagiku daripada melaksanakan instruksi Abu Bakar agar aku mengumpulkan al-Qur’an.”

Kelima, pengiriman pasukan (dai) untuk menyebarkan agama Allah kepada bangsa-bangsa yang bertetangga dengan kaum muslimin, baik kepada penduduk Persia maupun penduduk Syam, dalam rangka merealisasikan firman Allah SWT, “Hai orang-orang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan dari padamu, dan ketahuilah, bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa.” (Qs. At-Taubah: 123).

Demikianlah profil singkat Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq yang disarikan dari kitab Bidayah Wan Nihayah. Semoga kita bisa meneladani Abu Bakar ra dengan keteladanan yang mulia, wallahua’lam. (A/RS3/P1)

Sumber: Bidayah Wan Nihayah

 

Mi’raj News Agency (MINA)