Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menguatkan Adab dan Etika di Tengah Gempuran Dunia Digital

Bahron Ansori Editor : Widi Kusnadi - Senin, 26 Januari 2026 - 22:36 WIB

Senin, 26 Januari 2026 - 22:36 WIB

7 Views ㅤ

Ilustrasi: seorang muslimah sedang mendengarkan musik lewat ponsel. (Gambar: Dreamina)

Hari ini kita hidup di zaman yang aneh sekaligus menakjubkan. Dalam satu genggaman, manusia bisa mengakses ilmu dari belahan dunia mana pun. Jari-jari kita lincah menari di layar, berpindah dari satu aplikasi ke aplikasi lain, dari satu pendapat ke pendapat lain. Kita bangga menyebut diri melek digital, update teknologi, paham tren, dan selalu “tahu duluan.”  Namun di balik kecanggihan itu, ada satu ironi yang kian terasa: semakin cerdas urusan digital, justru semakin miskin dalam urusan adab.

Tak sulit menemukan contohnya. Di ruang maya, kata-kata kasar meluncur begitu saja, seolah tidak punya alamat. Hinaan dibungkus candaan, fitnah disamarkan opini, kebencian diberi label kebebasan berekspresi. Banyak orang berani berkata apa pun karena merasa aman di balik layar. Padahal, keberanian yang lahir dari anonimitas sering kali bukan keberanian sejati, melainkan ketiadaan adab.

Ironisnya, pelakunya bukan orang yang “tidak sekolah”. Banyak di antara mereka bergelar, berwawasan luas, fasih berbicara tentang logika, data, dan analisis. Namun ketika berinteraksi dengan sesama, akhlak seolah tertinggal. Sopan santun dianggap kuno, empati dipandang lemah, dan menghargai orang lain dinilai tidak relevan. Yang penting menang argumen, viral, dan diakui pintar.

Di dunia nyata pun gejalanya serupa. Orang sibuk dengan gawainya, tapi lupa menyapa. Pandai berbicara di forum, tapi kaku meminta maaf. Ahli menyusun strategi bisnis, namun gagap menjaga lisan. Kita menguasai banyak hal, kecuali satu yang paling mendasar: cara menjadi manusia yang beradab.

Baca Juga: Hikmah Al-Qur’an: Strategi Menjaga Organisasi dari Keterpurukan

Padahal, adab bukan aksesori tambahan dalam hidup. Ia adalah fondasi. Tanpa adab, kecerdasan berubah menjadi alat yang dingin, bahkan berbahaya. Pengetahuan tanpa etika ibarat pisau tajam di tangan anak kecil: bisa melukai siapa saja, termasuk pemiliknya sendiri. Kita mungkin tampak hebat di mata dunia, tetapi rapuh dalam nilai-nilai kemanusiaan.

Yang lebih menyedihkan, sebagian dari kita merasa baik-baik saja dengan kondisi ini. Kita terbiasa menertawakan kejatuhan orang lain, terbiasa menyebar kabar tanpa memastikan kebenarannya, terbiasa menghakimi tanpa mau memahami. Lama-lama, nurani pun tumpul. Bukan karena tidak tahu mana yang benar, tetapi karena terlalu sering mengabaikannya.

Artikel ini tidak sedang menunjuk hidung siapa pun. Bisa jadi, saya dan Anda pun pernah terjebak di dalamnya. Pernah merasa lebih pintar dari orang lain, lalu merendahkannya. Pernah lebih sibuk membenarkan diri sendiri daripada mendengarkan. Pernah lupa bahwa di balik setiap akun ada manusia, dengan perasaan, luka, dan harapan.

Mungkin yang kita butuhkan bukan teknologi yang lebih canggih, tetapi hati yang lebih lapang. Bukan kecerdasan buatan, melainkan kecerdasan batin. Kembali belajar hal-hal sederhana: menyapa dengan ramah, berbeda pendapat tanpa merendahkan, mengkritik tanpa melukai, dan diam ketika kata-kata hanya akan memperkeruh suasana.

Baca Juga: Mushalla di Tempat Wisata: Kunci Kenyamanan Wisata Ramah Muslim

Menjadi cerdas digital itu penting. Dunia memang menuntut kita untuk adaptif dan melek teknologi. Namun menjadi manusia beradab jauh lebih penting. Karena pada akhirnya, yang membuat hidup ini layak dijalani bukan seberapa cepat kita menguasai gawai, tetapi seberapa baik kita memperlakukan sesama.

Barangkali, inilah tantangan zaman kita: menyeimbangkan antara otak yang tajam dan hati yang lembut. Antara kemampuan berpikir dan kemampuan berempati. Sebab kecerdasan sejati bukan hanya soal tahu banyak hal, tetapi tahu bagaimana bersikap. Dan adab, setua apa pun usianya, tak pernah benar-benar usang.

Jika hari ini kita merasa dunia semakin bising, mungkin bukan karena terlalu banyak suara, tetapi karena terlalu sedikit adab yang tersisa.[]

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: 7 Etos Kerja Seorang Muslim, Jalan Keberkahan Menuju Ridha Allah

Rekomendasi untuk Anda