HARI ini, umat Islam menghadapi sebuah medan yang tidak terlihat, tetapi dampaknya nyata. Medan itu ada di dalam genggaman tangan: sebuah layar kecil bernama smartphone. Satu layar bisa menjadi pintu ilmu, dakwah, silaturahmi, dan kebaikan.
Tetapi layar yang sama juga dapat menjadi pintu masuk fitnah, pornografi, hoaks, ujaran kebencian, perjudian, penipuan, gaya hidup berlebihan, bahkan kerusakan akhlak. Karena itu, kalimat “Satu Layar, Seribu Fitnah” bukan sekadar ungkapan yang dramatis, melainkan gambaran serius tentang tantangan umat Islam hari ini.
Besarnya tantangan itu terlihat dari data. DataReportal mencatat bahwa pada Oktober 2025 Indonesia memiliki sekitar 230 juta pengguna internet dan sekitar 180 juta identitas pengguna aktif media sosial. Artinya, ruang digital bukan lagi dunia tambahan bagi masyarakat Indonesia. Ia telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.(DataReportal – Global Digital Insights)
Masalahnya, tidak semua yang masuk melalui layar membawa kebenaran. Kementerian Komunikasi dan Digital mencatat 1.923 konten hoaks sepanjang 2024 yang berhasil diidentifikasi. Setahun sebelumnya, pemerintah menangani 1.615 konten isu hoaks. Angka tersebut menunjukkan bahwa arus informasi palsu bukan fenomena kecil yang bisa dianggap sepele. (Kementerian Komunikasi dan Digital)
Baca Juga: Misteri Tiga Pulau di Kawasan Krakatau: Sertung, Rakata, dan Panjang
Bayangkan seorang anak membuka ponsel untuk mencari video pendidikan. Beberapa menit kemudian algoritma menawarkan hiburan. Dari hiburan berpindah ke konten sensasional. Dari konten sensasional menuju sesuatu yang lebih vulgar. Lama-kelamaan, sesuatu yang dahulu dianggap dosa dan memalukan justru terlihat biasa karena terus-menerus dipertontonkan.
Inilah salah satu bahaya terbesar dunia digital: fitnah tidak selalu datang dalam bentuk sesuatu yang langsung terlihat jahat. Ia sering datang sebagai hiburan, tren, meme, tantangan, gosip, berita yang belum diverifikasi, atau video pendek yang hanya membutuhkan beberapa detik untuk ditonton. Sekali dilihat mungkin terasa ringan. Tetapi ribuan paparan dapat perlahan mengubah selera, cara berpikir, standar moral, bahkan cara seseorang memandang dosa.
Yang lebih mengkhawatirkan adalah anak-anak. UNICEF Indonesia dalam kajian mengenai kebiasaan daring anak menemukan bahwa sebagian besar anak menggunakan internet setiap hari dan menghadapi berbagai risiko, termasuk paparan konten tidak pantas, perundungan siber, serta eksploitasi dan kekerasan seksual daring. Bahkan 42 persen anak dalam studi tersebut pernah merasa tidak nyaman atau takut akibat pengalaman daring.
Ini bukan sekadar persoalan teknologi. Ini persoalan kaderisasi generasi. Jika anak-anak Muslim tumbuh dengan layar sebagai guru utama, influencer sebagai panutan, algoritma sebagai penentu perhatian, dan viralitas sebagai ukuran kebenaran, maka jangan heran jika karakter mereka dibentuk oleh dunia yang tidak pernah kita desain.
Baca Juga: Perang Trump di Teluk, Warga Amerika yang Menanggung Harga dan Inflasi
Lebih mengerikan lagi, dunia digital dapat membuat maksiat kehilangan rasa malu. Dahulu seseorang harus pergi mencari kemaksiatan. Sekarang kemaksiatan dapat datang sendiri ke kamar, bahkan ke tempat tidur, melalui notifikasi. Dahulu orang harus membuka pintu untuk menerima pengaruh buruk. Sekarang cukup membuka layar.
Namun kita tidak boleh menyimpulkan bahwa teknologi adalah musuh. Layar hanyalah alat. Manusialah yang menentukan ke mana alat itu diarahkan. Smartphone yang sama dapat digunakan untuk membaca Al-Qur’an atau menonton kemaksiatan; mendengar kajian atau mendengar fitnah; belajar ilmu atau menghabiskan berjam-jam tanpa tujuan; berdakwah atau menyebarkan kebencian.
Karena itu, persoalan umat bukan sekadar bagaimana memiliki teknologi, tetapi bagaimana memiliki iman dan kecakapan digital. Anak-anak harus diajari bahwa tidak semua yang viral layak dipercaya. Tidak semua yang lucu layak dibagikan. Tidak semua yang menarik layak ditonton. Dan tidak semua yang dilakukan banyak orang otomatis menjadi benar.
Allah telah mengingatkan, “Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isra: 36). Ayat ini terasa semakin relevan di zaman ketika mata hampir tidak pernah lepas dari layar. Apa yang kita lihat bukan sesuatu yang hilang begitu saja; ia meninggalkan jejak dalam pikiran, hati, dan perilaku.
Baca Juga: Arab Saudi di Antara Dua Selat: Hormuz, Bab Al-Mandab, dan Masa Depan Pakta Makkah
Maka keluarga Muslim harus kembali mengambil peran. Ayah dan ibu tidak cukup hanya membeli smartphone untuk anak, lalu menyerahkan pendidikan digital kepada algoritma. Orang tua harus mengetahui apa yang ditonton anak, siapa yang diikuti, bagaimana mereka menggunakan media sosial, dan nilai-nilai apa yang sedang masuk ke dalam pikirannya.
Sekolah, pesantren, masjid, dan lembaga dakwah juga tidak boleh hanya mengajarkan generasi muda bagaimana menjadi pengguna teknologi. Mereka harus membentuk generasi yang mampu menjadi pengendali teknologi, bukan budaknya. Generasi yang bisa memegang smartphone tanpa kehilangan kendali atas hati.
Sebab ancaman terbesar bukan ketika seorang anak memiliki smartphone. Ancaman terbesar adalah ketika smartphone memiliki dirinya.
Hari ini kita sedang menyaksikan pertarungan memperebutkan perhatian manusia. Siapa yang menguasai perhatian generasi muda, sangat mungkin ikut menentukan arah masa depan mereka. Karena itu, umat Islam tidak boleh terlambat.
Baca Juga: Asa Kemabruran: Refleksi Hari Khidmat Haji dan Umrah
Satu layar memang bisa menghadirkan seribu fitnah. Tetapi satu layar juga bisa menjadi jalan lahirnya seribu kebaikan. Pertanyaannya bukan lagi, “Apakah anak kita memiliki smartphone?” Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: “Apa yang sedang smartphone tanamkan ke dalam hati mereka?”
Sebab pada akhirnya, yang harus kita selamatkan bukan sekadar mata dari tontonan buruk, tetapi generasi dari kehilangan arah.[]
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Hikmah Al-Qur’an: Strategi Menjaga Organisasi dari Keterpurukan
















Mina Indonesia
Mina Arabic