Oleh Iwan Abdurrahman, Alumnnus STISA Abdullah bin Masud Lampung
PERKEMBANGAN teknologi informasi memudahkan siapa pun mengakses dan menyebarkan informasi dalam hitungan detik. Namun, kemudahan ini juga menghadirkan tantangan serius. Hoaks, fitnah, ujaran kebencian, manipulasi informasi, hingga konten palsu berbasis kecerdasan buatan (AI) semakin sulit dihindari.
Persoalannya bukan hanya banyaknya informasi yang beredar, tetapi juga kemampuan kita memeriksa kebenarannya. Tidak sedikit konflik dalam keluarga, masyarakat, bahkan organisasi yang bermula dari informasi yang diterima tanpa verifikasi.
Seseorang bisa dengan mudah menilai, menghakimi, bahkan memutus hubungan hanya berdasarkan potongan video, tangkapan layar, atau narasi sepihak.
Baca Juga: Sesama Muslim Bersaudara: Merawat Ukhuwah, Membela yang Tertindas
Situasi ini kian kompleks karena algoritma media sosial menyajikan konten sesuai minat dan perilaku pengguna. Akibatnya, kita berpotensi terus-menerus terpapar informasi yang sejalan dengan pandangan sendiri. Prasangka menguat, dan ruang untuk memahami sudut pandang yang berbeda menyempit.
Penelitian Vosoughi, Roy, dan Aral dalam jurnal Science (2018) menunjukkan bahwa berita palsu menyebar lebih cepat dan lebih luas daripada berita benar. Sementara itu, penelitian Pennycook dan Rand dalam Nature Communications (2022) menemukan bahwa mengingatkan orang untuk memeriksa kebenaran informasi sebelum membagikannya dapat mengurangi penyebaran berita keliru.
Temuan ini menegaskan pentingnya membangun kebiasaan memeriksa sebelum mempercayai dan menyebarkan. Dalam Islam, prinsip ini telah lama diajarkan melalui konsep tabayun.
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hujurat ayat 6: yang artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.”
Baca Juga: Bersyukur Tak Bertapi, Bersabar Tak Bertepi
Mengapa Fakta Bisa Kalah oleh Kecepatan
Ayat ini memberi pedoman bahwa setiap informasi perlu diteliti sebelum dijadikan dasar bersikap atau bertindak. Perhatikan urutan peringatannya: kecerobohan lebih dulu, penyesalan kemudian.
Al-Qur’an seolah mengingatkan bahwa kerusakan jarang lahir dari niat jahat semata. Sering kali ia lahir dari kemalasan berpikir yang dibungkus semangat membela.
Banyak penyebar hoaks tidak merasa sedang berbohong. Mereka merasa sedang “memperingatkan”, “membela”, atau “berbagi kepedulian”.
Di sinilah letak jebakan era digital. Dahulu, menyebarkan kabar membutuhkan usaha: berjalan, berbicara, mengirim surat. Kini cukup satu sentuhan jari.
Baca Juga: Membaca Ulang Resolusi Jihad dan Makna Hari Santri Nasional
Ketika biaya menyebarkan nyaris nol, pertimbangan sebelum menyebarkan pun ikut menguap. Padahal dampaknya bisa sangat mahal: nama baik yang hancur, keluarga yang retak, bahkan kerusuhan yang memakan korban.
Tabayun Itu Sikap, Bukan Sekadar Teknik
Dalam konteks digital, tabayun dapat diwujudkan dengan memeriksa sumber berita, membandingkan informasi dari berbagai sumber tepercaya, memahami konteks, serta menahan diri untuk tidak menyebarkan sesuatu yang belum terverifikasi.
Beberapa pertanyaan sederhana bisa menjadi pagar pertama: siapa yang pertama kali menyampaikan kabar ini? Kapan dan di mana kejadiannya? Adakah media kredibel yang melaporkan hal serupa? Apakah gambar atau video ini asli, atau hasil suntingan dan rekayasa AI?
Namun tabayun lebih dari sekadar daftar periksa. Ia adalah sikap batin: kerendahan hati untuk mengakui bahwa kita bisa keliru. Orang yang bertabayun berkata kepada dirinya sendiri, “Aku belum tahu cukup untuk menyimpulkan.” Kalimat sederhana ini justru menjadi tanda kedewasaan berpikir.
Baca Juga: Alhamdulillah di Ufuk Pagi: Mensyukuri Terbukanya Mata
Tabayun juga menuntut kejujuran intelektual. Kita tidak cukup hanya memeriksa informasi yang bertentangan dengan keyakinan sendiri, tetapi harus kritis pula terhadap informasi yang mendukung pandangan atau kelompok yang kita bela.
Sebab, yang viral belum tentu benar, dan yang sesuai dengan keyakinan kita belum tentu terbukti kebenarannya. Standar yang adil berlaku untuk lawan maupun kawan.
Tabayun Bukan Hanya untuk Berita
Menariknya, semangat tabayun tidak berhenti pada urusan berita. Ia juga berlaku dalam hubungan sehari-hari. Pesan singkat yang terkesan ketus, status yang dianggap menyindir, atau kabar bahwa seorang sahabat menjelekkan kita di belakang, semuanya patut dikonfirmasi sebelum kita menjatuhkan vonis. Tak sedikit persahabatan puluhan tahun runtuh hanya karena satu tangkapan layar yang tidak pernah diklarifikasi.
Di sisi lain, tabayun adalah bentuk keadilan. Dalam tradisi Islam, setiap orang dianggap tidak bersalah sampai terbukti sebaliknya, dan setiap tuduhan memerlukan bukti. Prinsip ini melindungi kehormatan manusia, yang dalam ajaran Islam sangat dijaga. Menyebarkan kabar yang belum jelas sama dengan menyerahkan nasib orang lain kepada asumsi kita.
Baca Juga: Ketika Kemarau Panjang Melanda: Saatnya Mengetuk Pintu Langit dengan Shalat Istisqa
Tanggung Jawab yang Tidak Bisa Dialihdayakan
Tabayun juga bukan sekadar ajaran agama untuk kehidupan pribadi, melainkan fondasi etika dalam membangun ruang digital yang sehat. Setiap orang memikul tanggung jawab agar tidak menjadi bagian dari rantai penyebaran fitnah dan disinformasi.
Alasan “saya hanya meneruskan” tidak cukup, karena rantai hoaks tidak akan pernah panjang tanpa mata rantai yang bersedia meneruskan.
Lebih jauh, kita perlu menyadari bahwa setiap jejak digital adalah amal yang tercatat. Satu unggahan yang menyebarkan kebaikan bisa menjadi pahala yang mengalir, sedangkan satu unggahan yang menyebarkan fitnah bisa menjadi dosa yang terus berlipat selama ia dibagikan orang lain. Maka menahan jempol bukan sikap pasif. Ia adalah amal yang aktif.
Berhenti Sejenak, Menyelamatkan Banyak
Di tengah derasnya arus informasi, kita perlu membiasakan diri berhenti sejenak sebelum menekan tombol bagikan. Periksa kebenarannya, pahami konteksnya, dan pertimbangkan dampaknya.
Baca Juga: Rizky Ridho Selebrasi dengan Sujud Syukur, Ini Maknanya dalam Islam
Jeda beberapa menit itu mungkin terasa sepele, tetapi bisa menyelamatkan nama baik seseorang, keharmonisan keluarga, bahkan kedamaian sebuah komunitas.
Menjaga kebenaran tidak selalu dimulai dengan berbicara, tetapi bisa dimulai dengan menahan diri untuk tidak menyebarkan sesuatu yang belum pasti. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: 2 Oktober 1187: Ketika Panglima Shalahuddin Membebaskan Masjid Al-Aqsa
















Mina Indonesia
Mina Arabic