Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menjaga Hati dari Dengki di Bulan Ramadhan

sajadi Editor : Arif R - 22 jam yang lalu

22 jam yang lalu

12 Views

Religious muslim man praying inside the mosque

BULAN Ramadhan adalah madrasah agung bagi setiap muslim. Di dalamnya, kita tidak hanya dilatih untuk menahan lapar dan dahaga, tetapi juga ditempa untuk menjadi pribadi yang lebih baik, lebih bertakwa dan lebih bersih. Kebersihan yang dimaksud bukan hanya fisik, tetapi lebih dalam lagi, yaitu kebersihan hati.

Takwa yang menjadi tujuan utama puasa tidak akan pernah bisa diraih jika hati masih dipenuhi dengan noda-noda penyakit, salah satunya adalah penyakit dengki atau hasad. Di bulan yang penuh berkah ini, sudah selayaknya kita menjadikan momentum Ramadhan sebagai sarana untuk membersihkan hati dari perasaan iri dan dengki yang dapat merusak pahala ibadah kita.

Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda, “Janganlah kalian saling hasad (dengki), janganlah saling menipu, janganlah saling membenci, janganlah saling membelakangi dan janganlah sebagian kalian menjual atas jualan sebagian yang lain. Jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (HR. Muslim).

Dengki adalah api yang membakar kebaikan. Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam mengumpamakan hasad sebagaimana api memakan kayu bakar. Artinya, segala amal kebaikan yang telah kita susah payah lakukan, bisa ludes terbakar habis hanya karena api dengki yang berkobar di dalam hati. Betapa ruginya kita, jika di bulan yang penuh dengan peluang pahala berlipat ganda ini, semua amalan kita sirna sia-sia hanya karena kita membiarkan hati ini dihinggapi rasa iri terhadap nikmat yang Allah berikan kepada orang lain.

Baca Juga: Syukur yang Menyelamatkan, Pergaulan yang Menentukan

Orang yang dengki adalah orang yang paling tidak ridha dengan takdir dan pembagian Allah. Ia merasa tidak puas dengan apa yang ia miliki, dan matanya selalu tertuju pada apa yang ada di tangan orang lain. Padahal, hakikat puasa adalah menahan diri (imsak), termasuk menahan hati dari perasaan negatif seperti ini.

Bulan Ramadhan adalah bulan latihan terbaik untuk menumbuhkan keikhlasan. Saat kita berpuasa, kita menahan lapar dan dahaga semata-mata karena Allah, bukan untuk pujian manusia. Rasa lapar yang sama dirasakan oleh jutaan umat Islam di seluruh dunia, tanpa memandang status sosial. Ini mengajarkan kita tentang persaudaraan dan kesetaraan.

Dari sinilah kita belajar untuk mulai mengikis rasa dengki. Bagaimana caranya?

Pertama, perbanyak syukur, bukan melihat ke atas. Kunci utama melawan dengki adalah syukur. Fokuslah pada nikmat yang telah Allah berikan kepada kita, bukan pada nikmat orang lain. Dengan bersyukur, hati akan merasa cukup (qana’ah) dan lapang. Jika kita tidak bisa bersyukur, maka selamanya kita akan menjadi hamba yang paling miskin, meski memiliki harta berlimpah. Latihlah hati untuk selalu melihat ke bawah dalam urusan dunia, agar kita tidak meremehkan nikmat Allah.

Baca Juga: Memaknai Nuzulul Qur’an sebagai Pedoman Kehidupan

Kedua, memperkuat tali ukhuwah. Ramadhan adalah bulan silaturahmi. Perbanyaklah interaksi positif dengan sesama. Jika ada rasa tidak enak hati kepada saudara, segera selesaikan. Maafkanlah kesalahan orang lain, sebagaimana kita ingin diampuni oleh Allah. Dengan hati yang bersih, ibadah kita akan terasa lebih ringan dan khusyuk.

Ketiga, mendoakan jebaikan untuk sesama. Ini adalah obat mujarab untuk membersihkan hati. Jika kita merasa iri melihat kebaikan orang lain, segera doakan mereka agar mendapat keberkahan. Doa seorang muslim untuk saudaranya tanpa sepengetahuannya adalah doa yang mustajab. Dengan mendoakan kebaikan untuk mereka, secara otomatis kita sedang melatih hati kita untuk ikut bahagia dengan kebahagiaan orang lain.

Keempat, mengingat Bahaya Dengki di Akhirat. Ingatlah bahwa dengki tidak akan merugikan orang yang kita dengki, tetapi justru merugikan diri kita sendiri. Di akhirat nanti, orang-orang yang saling mendengki akan ditinggalkan oleh Allah. Amalan mereka akan hangus, dan mereka akan berada dalam kerugian yang nyata.

Kesuksesan Ramadhan tidak diukur dari seberapa banyak kita makan saat berbuka atau seberapa lama kita tidur di siang harinya. Kesuksesan Ramadhan yang hakiki adalah ketika kita mampu meraih predikat takwa. Dan salah satu ciri orang bertakwa adalah ia memiliki hati yang selamat (qalbun salim), hati yang bersih dari segala penyakit, termasuk dengki.

Baca Juga: Rahasia Amal Diterima: Hati yang Merasa Amalnya Belum Seberapa

Mari kita jadikan sisa hari-hari Ramadhan ini sebagai momentum untuk introspeksi. Tanyakan pada hati kita masing-masing, “Adakah rasa tidak suka ketika melihat saudara saya bahagia? Adakah rasa iri ketika melihat rezeki orang lain melimpah?” Jika ada, segera bersihkan. Mohonlah ampunan kepada Allah dan perbanyaklah istighfar.

Jangan biarkan puasa kita hanya menghasilkan lapar dan dahaga semata, karena kita lalai menjaga hati. Raihlah kemenangan sejati di hari Idul Fitri nanti, tidak hanya dengan kembali kepada kesucian fitrah, tetapi juga dengan hati yang bersih, lapang, dan terbebas dari belenggu dengki. Semoga Allah menerima amal ibadah kita dan menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang bertakwa. Aamiin.[]

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Tatacara Shalat Gerhana

Rekomendasi untuk Anda

Ramadhan 1447 H
Ramadhan 1447 H
Tausiyah
Tausiyah
Khadijah