IMAM An-Nawawi dalam kitab syarahnya “Nashoihul Ibad” – nasihat untuk para hamba – menuliskan ungkapan yang penuh hikmah,
كُفْرَانُ النِّعْمَةِ لُؤْمٌ وَصُحَبَةُ الْأَحْمَقِ شُؤْمٌ
“Kufur nikmat itu merupakan kehinaan dan berteman dengan orang yang bodoh itu adalah merupakan bentuk kesialan.”
Ungkapan ini bukan sekadar nasihat moral yang berdiri sendiri. Ia adalah cermin tajam bagi watak manusia, bagaimana kita memperlakukan nikmat dan bagaimana kita memilih lingkungan pergaulan.
Baca Juga: Boleh Bersedih, Tapi Jangan Larut dalam Kesedihan
Kufur nikmat dalam konteks ini tidak semata-mata berarti mengingkari Allah secara teologis. Ia bisa hadir dalam bentuk yang lebih halus dan sering kali tidak kita sadari.
Ketika seseorang terus-menerus merasa kurang, gemar mengeluh, menutup mata terhadap kebaikan yang telah ia terima, atau menggunakan nikmat untuk hal yang keliru, di situlah benih kehinaan tumbuh.
Kehinaan (lu’m) bukan pertama-tama soal status sosial, melainkan kualitas jiwa. Ia adalah kemerosotan batin yang membuat seseorang kehilangan rasa hormat terhadap dirinya sendiri.
Dalam kehidupan modern yang sarat kompetisi dan perbandingan sosial, kufur nikmat sering terselubung dalam budaya konsumtif dan obsesi pengakuan.
Baca Juga: Komunitas Sebagai Fondasi Umat dan Benteng Generasi
Media sosial, misalnya, membentuk standar kebahagiaan yang semu. Orang lebih mudah melihat apa yang belum dimiliki daripada mensyukuri apa yang sudah ada.
Padahal, syukur bukan hanya ucapan, melainkan kesadaran etis bahwa setiap nikmat mengandung tanggung jawab. Dari sanalah martabat tumbuh.
Bagian kedua dari ungkapan tersebut tak kalah penting, yakni berteman dengan orang bodoh adalah kesialan (syu’m).
“Bodoh” di sini bukan sekadar kurang pendidikan atau minim wawasan. Yang dimaksud adalah kebodohan sikap, tidak bijak, gegabah, tidak mampu menimbang akibat, dan enggan belajar dari kesalahan. Dalam pergaulan, karakter seperti ini dapat menyeret siapa pun pada keputusan yang keliru.
Baca Juga: Kejahatan Yahudi Membuat Hatinya Keras Membatu
Kesialan yang dimaksud bukan takdir yang turun dari langit, melainkan konsekuensi sosial yang nyata. Lingkungan membentuk cara berpikir. Pergaulan memengaruhi standar moral. Reputasi pun sering kali ditentukan oleh dengan siapa seseorang berteman.
Seorang yang cerdas dan berakhlak pun dapat tercoreng bila terus-menerus berada dalam lingkaran yang tidak sehat. Dalam jangka panjang, ia bukan hanya kehilangan arah, tetapi juga kehilangan kepercayaan publik.
Menariknya, dua bagian ungkapan ini saling berkaitan. Kufur nikmat merusak hubungan vertikal manusia dengan Tuhannya, sementara salah memilih teman merusak relasi horizontal dengan sesama.
Keduanya sama-sama menggerogoti kehormatan diri. Seseorang bisa saja tampak berhasil secara materi, tetapi bila ia tidak pandai bersyukur dan tidak selektif dalam bergaul, fondasi moralnya rapuh.
Baca Juga: Ustaz Amri Fatmi: Hidup Mewah Berdampak Luas pada Kerusakan Alam
Di titik inilah refleksi menjadi penting. Kita perlu bertanya pada diri sendiri: apakah kita sudah memuliakan nikmat dengan syukur yang aktif?
Apakah lingkungan pergaulan kita membantu bertumbuh atau justru menyeret ke arah yang merugikan?
Pertanyaan-pertanyaan ini tidak untuk menghakimi orang lain, melainkan untuk mengoreksi diri.
Pada akhirnya, kemuliaan bukan ditentukan oleh seberapa banyak yang kita miliki, tetapi oleh bagaimana kita menghargai pemberian dan bagaimana kita menjaga pilihan.
Baca Juga: Kehidupan Berbangsa dalam Perspektif Al-Qur’an
Syukur menjaga kehormatan jiwa. Pergaulan yang baik menjaga arah langkah. Tanpa keduanya, kehinaan dan kesialan bukan lagi sekadar peringatan, melainkan risiko nyata yang kita ciptakan sendiri. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Perang Gaza dan Perubahan Persepsi Publik Amerika terhadap Palestina
















Mina Indonesia
Mina Arabic