Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mereka yang Mengeroyok Gaza, Ini yang Perlu Kalian Tahu!

Redaksi Editor : Arif R - Selasa, 17 Februari 2026 - 21:04 WIB

Selasa, 17 Februari 2026 - 21:04 WIB

59 Views

Tentara Israel tewas dievakuasi. (Quds Press)

RIBUAN warga negara Barat ikut serta dalam perang Israel di Gaza: Apa yang perlu diketahui? Ternyata mereka telah berperan dengan sengaja bergabung dengan militer Israel melakukan genosida yang menewaskan lebih dari 72.000 warga Palestina.

Kejahatan Israel di Gaza tidak hanya melibatkan pasukan domestik. Data terbaru mengungkap fakta penting: puluhan ribu tentara asing—terutama dari negara-negara Barat, ikut bertempur di bawah bendera militer Israel, sebuah realitas yang memunculkan pertanyaan serius tentang tanggung jawab hukum internasional atas dugaan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Palestina.

Laporan terbaru Yashraj Sharma, seorang jurnalis independen asal India yang meliput hak asasi manusia, masyarakat, dan teknologi yang laporannya diterbitkan Al Jazeera, mengungkap informasi data yang diperoleh LSM Israel Hatzlacha melalui Undang-Undang Kebebasan Informasi. Data tersebut kemudian dibagikan kepada media internasional, termasuk Al Jazeera. Hasilnya menunjukkan bahwa lebih dari 50.000 personel militer Israel memiliki kewarganegaraan ganda atau bahkan lebih, dengan dominasi paspor Amerika Serikat dan negara-negara Eropa.

Uraian analisis dan suguhan data pada tulisan ini merupakan reportase jurnalistik yang dilakukan Yashraj Sharma. Ia melaporkan, sejak 7 Oktober 2023, agresi militer Israel di Gaza telah menewaskan sedikitnya 72.061 orang, sebuah angka yang oleh berbagai organisasi hak asasi manusia disebut sebagai bukti kuat terjadinya kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Baca Juga: Jangan Sampai Konflik AS-Israel dan Iran Alihkan Perhatian terhadap Palestina

Amerika Serikat dan Eropa Mendominasi

Dalam daftar negara asal tentara asing di militer Israel, Amerika Serikat menempati posisi teratas. Sedikitnya 12.135 tentara tercatat memiliki paspor AS. Angka ini jauh melampaui negara lain, menandakan keterlibatan warga Amerika yang sangat signifikan dalam konflik tersebut.

Di posisi berikutnya, Prancis menyumbang 6.127 tentara, disusul Rusia dengan 5.067 personel, kemudian Ukraina (3.901), dan Jerman (1.668). Data ini mencerminkan besarnya partisipasi warga Eropa Timur dan Barat dalam struktur militer Israel.

Militer Israel sendiri mengakui bahwa data ini bersifat tumpang tindih, karena prajurit dengan kewarganegaraan ganda dihitung lebih dari satu kali. Meski begitu, angka-angka tersebut tetap memberikan gambaran kuat tentang skala keterlibatan internasional.

Baca Juga: Siapa Berduka atas Wafatnya Khamenei? Apa Artinya bagi Dunia Islam

Selain itu, tercatat 1.686 tentara berkewarganegaraan ganda Inggris–Israel, serta 383 tentara lain yang memiliki paspor tambahan di luar Inggris dan Israel.

Menariknya, Afrika Selatan—negara yang secara resmi mengajukan gugatan genosida terhadap Israel di Mahkamah Internasional (ICJ), juga memiliki 589 warganya yang tercatat bertugas di militer Israel.

Dari kawasan Amerika Latin, data menunjukkan negara Brasil: 1.686 tentara, Argentina: 609 tentara, Kanada: 505 tentara, Meksiko: 181 tentara, Kolombia: 112 tentara. Seluruhnya bertugas dengan tetap memegang kewarganegaraan Israel selain paspor negara asal mereka.

Secara keseluruhan, militer Israel saat ini terdiri dari sekitar 169.000 personel aktif dan 465.000 pasukan cadangan. Dari jumlah tersebut, lebih dari delapan persen merupakan tentara dengan kewarganegaraan ganda atau multiple, sebuah proporsi yang tidak kecil dalam konteks konflik bersenjata.

Baca Juga: Dampak Serangan ke Iran terhadap Gerakan Perlawanan Palestina

Kondisi ini membuka ruang perdebatan serius di tingkat global. Organisasi hak asasi manusia internasional kini tengah berupaya mengidentifikasi dan menuntut warga negara asing yang terlibat langsung dalam dugaan kejahatan perang, terlebih karena sebagian dari mereka secara terbuka mengunggah aksi kekerasan di media sosial.

Pada akhirnya, data-data ini meruntuhkan satu topeng besar yang selama ini dipertontonkan ke dunia. Negara-negara yang paling lantang berbicara tentang demokrasi, hak asasi manusia, dan nilai-nilai kemanusiaan universal, ternyata tidak sekadar menjadi penonton.

Mereka hadir di medan genosida itu, dengan seragam, senjata, dan paspor mereka sendiri. Simpati yang disuarakan di mimbar-mimbar diplomasi berubah menjadi ironi pahit ketika ribuan warga negaranya justru menjadi bagian dari mesin pembunuh di Gaza.

Inilah paradoks zaman modern: “air mata kemanusiaan diucapkan dengan satu tangan, sementara tangan lainnya memegang senapan.” Dunia diajak bersedih, namun pada saat yang sama ikut mengeroyok. Maka pertanyaannya bukan lagi siapa yang paling pandai berpidato tentang HAM, melainkan siapa yang benar-benar berdiri di sisi kemanusiaan ketika nyawa manusia diperlakukan sebagai angka statistik.

Baca Juga: Saatnya Tinggalkan Trump, Perancang Perdamaian, Tapi Jadi Penyulut Peperangan

Bagi siapa pun yang masih mengaku peduli pada nilai kemanusiaan, renungkanlah ini dengan jujur: “Siapa sesungguhnya penjahat dalam tragedi ini?

Gaza, dengan segala keterbatasannya, masih berdiri, bertahan di tengah kepungan senjata, propaganda, dan kemunafikan global. Dan mungkin justru dari reruntuhan itulah dunia suatu hari akan belajar bahwa kekuatan sejati bukan milik mereka yang datang beramai-ramai mengeroyok untuk menghancurkan, melainkan milik mereka yang tetap hidup, melawan, dan menjaga martabat manusia di tengah genosida. []

Mi’raj News Agency (MINA)

 

Baca Juga: Berikut 9 Kandidat Terkuat Pengganti Khamenei

Rekomendasi untuk Anda