Modernisasi Pertanian Jadi Senjata Kementan Hadapi MEA

Jakarta, MINA – Kementerian Pertanian (Kementan) melihat pentingnya penerapan alsintan (alat dan mesin pertanian) modern agar petani lebih berdaya saing menghadapi pasar bebas MEA (Masyarakat Ekonomi Asean).

“Melalui modernisasi pertanian terbukti bisa meningkatkan produktivitas pangan sehingga proses produksi beras bisa lebih efisien. Modernisasi pertanian yang tepat guna dan efisien akan mampu menangkal dampak buruk globalisasi dan menjadi salah satu kunci sukses menghadapinya,” kata Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian Kementan, Pending Dadih Permana. 

Tahun 2010-2014 jumlah bantuan alsintan yang dibagikan hanya kurang dari 50.000 unit dan pada tahun 2015–2017 jumlah bantuan alsitan yangdibagikan kepada petani lebih dari 321.000 unit atau naik lebih dari 600%.

Menurut data Kementan, produksi Gabah Kering Giling (GKG) tahun 2015 mencapai 75,55 juta ton, setelah petani menggalakkan penggunaan alsintan, meningkat 4,66% dibandingkan tahun sebelumnya 70,85 juta ton dan pada 2016 lalu mencapai  79 juta ton GKG.

Tahun 2017 ini produksi GKG 85,5 juta ton atau setara 55,5 juta ton beras, sedangkan konsumsi sebesar 32,7 juta ton beras sehingga terdapat surplus konsumsi yang diharapkan bisa diekspor. Adapun target produksi jagung adalah 30,5 juta ton serta kedelai target produksinya 1,2 juta ton.

Menurut hitungan sederhana, katanya, penggunaan alsintan dari mulai olah sawah, penanaman, pembersihan gulma, pemupukan sampai pemanenan menggunakan combine harvester, dapat meningkatkan efisiensi biaya antara 30%-40%.

“Apabila 1 Ha biaya produksi padi secara manual adalah Rp 6.500.000 per musim maka dengan alsintan ini dapat menghemat sampai 40% yaitu sekitar Rp 2.600.000 juta per Ha per musim sehingga biaya produksi hanya Rp 3.600.000 juta per Ha,” ujarnya.

Dari tahun 2015 sampai dengan 2017, Kementan telah membagikan lebih dari 321.000 unit Alsintan dari berbagai jenis seperti traktor roda 2 dan roda 4, transplanter, combine harvester, pompa air, dryer, power thresher, dan corn sheller.

“Diperlukan pendampingan dan pengawalan dalam pemanfaatannya agar bantuan alsintan tepat arah, sasaran dan tujuan. Jika pemanfaatan bantuan alsintan dapat optimal, diharapkan akan mampu mengungkit atau mengangkat produksi padi, jagung dan kedelai,” tambahnya.

Pending menyebutkan,  untuk mendukung pengembangan mekanisasi pertanian di Indonesia diperlukan dukungan kebijakan lintas sektor terutama dengan Kementerian Perindustrian, sangat dibutuhkan dukungan dalam pengembangan bengkel alsintan dan industri spare part oleh industri UKM.

“Selain itu juga diperlukan dukungan kemudahan untuk investasi di bidang industri alsintan, yaitu seluruh sektor terkait alsintan disinergikan menuju kemandirian Indonesia dalam memproduksi atau bahkan sebagai ekportir alsintan,” pungkasnya. (L/R06/RS1)

Mi’raj News Agency (MINA)