Dubes Iran: Hari Al-Quds Momentum Persatuan dan Solidaritas untuk Palestina

Poster Quds Day (Istimewa)

Jakarta, MINA – Hari Al-Quds Sedunia atau International Al-Quds Day merupakan sebuah kegiatan tahunan yang diselenggarakan pada hari Jumat terakhir di setiap bulan Ramadhan. Kegiatan itu berupa aksi turun ke jalan untuk menunjukkan dukungan pada bangsa Palestina.

Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia yang juga merangkap Timor Leste dan ASEAN, Valiollah Mohammadi menyerukan kepada masyarakat internasional untuk bangkit dan bersatu membebasakan Palestina dari penjajahan.

“Kita harus lebih aktif, turun ke jalan suarakan dukungan untuk Palestina, jika presiden mendukung, pemerintah mendukung, tentu masyarakat juga akan ikut,” kata Valiollah saat wawancara eksklusif dengan wartawan MINA, Rana Setiawan dan Sajadi, Selasa (21/5).

Valiollah menjelaskan, Hari Al-Quds pertama kali dicetuskan oleh seorang alim ulama dari Iran, Ayatullah Khomeini. Khomeini menyatakan, salah satu tujuan revolusi Iran adalah membebaskan Palestina dari penjajahan dan tidak mengakui upaya pendudukan Israel atas Palestina.

“Setelah revolusi, Imam Khomeini mengatakan kita harus mengumumkan satu hari di mana semua umat Islam di dunia dan non-Muslim yang cinta Palestina, bisa menyuarakan dukungannya,” kata Valiollah.

Dengan dimulainya babak baru penyerangan Israel terhadap Lebanon Selatan, Khomeini pada 13 Ramadhan 1399 H atau tanggal 7 Agustus 1979 mengeluarkan pernyataan resmi bahwa hari Jumat terakhir pada bulan Ramadhan ditetapkan sebagai Hari Al-Quds Internasional.

“Kita bisa bayangkan dalam satu hari semua Muslim di berbagai negara menyuarakan dukungan untuk Palestina, khusunya di bulan Ramadhan, di mana bulan tersebut kita menjadi tamu Allah, dan hari Jumat di bulan Ramadhan berbeda dengan hari-hari biasanya,” tambahnya.

Meskipun waktu puasa di Iran terbilang panjang dan panas, tetapi saat perhelatan Hari Al-Quds nanti, Valiollah mengatakan, masyarakat Iran akan antusias turun kejalan menyuarakan dukungannya untuk Palestina.

Ia membandingkan lebih beratnya perjuangan bangsa Palestina yang bahkan setiap hari Jumat berjuang di tembok-tembok perbatasan untuk menuntut hak tanah mereka.

Menurutnya, keputusan Amerika Serikat (AS) untuk memindahkan kedutaan besarnya ke Yerusalem dan mengakui Dataran Golan sebagai milik Israel adalah kesalahan besar yang merusak semua persetujuan dan pembicaraan.

Bahkan ia mengatakan, Israel dan AS tidak akan pernah menerima solusi dua negara yang selama ini disuarakan internasional, terbukti dengan pendudukan dan aneksasi yang terus dilakukan.

Dulunya Iran mempunyai hubungan yang erat dengan Israel, namun setelah revolusi Islam, Iran memutuskan hubungan diplomatik dengan Israel dan kemudian kedutaannya diberikan untuk Palestina.

“Di saat yang sama kita memutuskan hubungan dengan Israel, kami percaya Israel adalah negara sama (apartheid, rasis), lihat bangsa Palestina, mereka (Israel) datang kemudian membangun pemerintahan di sana, setelah menguasai tanah, rumah, mereka menyerang bangsa Palestina, itu sudah tidak sesuai dengan ajaran Islam,” kata Valiollah.

Setelah 40 tahun dikumandangkan, Hari Al-Quds kini sudah membudaya dan menjadi tradisi. Hingga tahun lalu, diperkirakan lebih dari 80 negara turut memperingatinya.

Pada tahun 2018 lalu, Al-Quds diperingati di negara-negara seperti Malaysia, India, Singapura, Indonesia, Turki, Amerika Serikat, Kanada, Norwegia, Azerbaijan, Sudan, Inggris, Bahrain, Bosnia, Tunisia, Pakistan, Australia, Jerman, Rumania, Kuwait, Spanyol, Afrika Selatan, Swedia, Venezuela, Albania, Yaman dan Yunani.

Sementara itu, Hari Al-Quds tahun ini diperkirakan jatuh pada Jumat, 31 Mei 2019 mendatang. Para aktivis memperkirakan jumlah massa di peringatan tahun ini akan lebih besar dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Valiollah juga mengapresiasi terhadap pemerintah Indonesia dan Menlu RI yang terus menyuarakan dukungan untuk Palestina di Dewan Keamanan PBB ataupun di forum-forum internasional lainnya.

Terakhir, Valiollah menyerukan umat muslim untuk bersatu, berdialog, menggelar pertemuan, karena satu-satunya untuk menyelesaikan masalah saat ini tidak dengan militer atau apapun kecuali persatuan melawan negara-negara penjajah. (L/Sj/RI-1)

Mi’raj News Agency (MINA)

Comments are closed.