Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Muhammad bin Sirin, Ulama Tabi’in Penjaga Integritas di Era Bani Umayah

Redaksi Editor : Arif R - Kamis, 12 Februari 2026 - 09:22 WIB

Kamis, 12 Februari 2026 - 09:22 WIB

34 Views

Ilustrasi (Dreamina AI)

MUHAMMAD bin Sirin merupakan salah satu tokoh besar dalam sejarah Islam yang dikenal karena ketakwaan, kecerdasan, dan keteguhannya dalam memegang prinsip agama di tengah dinamika politik kekhalifahan. Sebagai ulama tabi’in yang hidup pada masa Bani Umayah, ia tampil bukan hanya sebagai ahli ilmu, tetapi juga sebagai figur moral yang berani menjaga integritas di hadapan penguasa.

Kisah hidup Muhammad bin Sirin tidak sekadar menjadi bagian dari sejarah Islam klasik, melainkan juga cermin nilai humanisme, kejujuran, dan kesabaran yang tetap relevan hingga kini. Berasal dari keluarga sederhana, ia tumbuh menjadi ulama tersohor yang dihormati masyarakat luas, baik oleh kalangan awam maupun para pemimpin pada masanya.

Kisah ini bermula dari ayahnya, Sirin, yang dahulu merupakan seorang tawanan perang. Ia kemudian dibebaskan oleh Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu. Setelah merdeka dan berhasil dalam pekerjaannya sebagai pengrajin periuk, Sirin berkeinginan menyempurnakan agamanya dengan menikah.

Pilihan hatinya jatuh kepada Shafiyah, seorang budak perempuan milik Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Shafiyah dikenal sebagai wanita yang cerdas, lembut, dan memiliki akhlak mulia. Ia begitu dihormati di Madinah, bahkan para istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, terutama Aisyah radhiyallahu ‘anha, menyayanginya.

Baca Juga: Anas bin Malik, Pelayan Rasulullah hingga Menjadi Guru dan Sahabat Terakhir yang Wafat

Abu Bakar sebagai wali Shafiyah tidak serta-merta menerima lamaran tersebut. Ia meneliti dengan saksama agama dan akhlak Sirin. Setelah mendapat rekomendasi langsung dari Anas bin Malik tentang kebaikan agama dan kehormatan Sirin, pernikahan pun dilangsungkan dengan penuh kemuliaan. Bahkan, walimahnya dihadiri sejumlah sahabat besar, termasuk para pejuang Perang Badar.
Dari pernikahan penuh berkah inilah lahir Muhammad bin Sirin, dua tahun sebelum wafatnya Khalifah Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu.

Dalam Buku Mereka adalah Para Tabi’in, karya Dr. Abdurrahman Ra’at Basya, disebutkan bahwa sejak kecil, Muhammad bin Sirin tumbuh dalam rumah yang sarat dengan nilai takwa dan wara’. Saat remaja, ia menyaksikan Masjid Nabawi dipenuhi para sahabat besar seperti Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas, Abu Hurairah, dan lainnya. Kesempatan ini tidak ia sia-siakan.
Dengan semangat luar biasa, ia menimba ilmu Al-Qur’an, hadis, dan fikih dari para sahabat. Ketajaman akalnya semakin terasah, sementara jiwanya semakin matang dengan hidayah dan kebijaksanaan.

Ketika keluarganya pindah ke Basrah, kota itu menjadi babak baru dalam perjalanan hidupnya. Basrah kala itu merupakan pusat ilmu dan dakwah, sekaligus basis peradaban Islam yang berkembang pesat. Di kota inilah nama Muhammad bin Sirin kelak bersinar.
Salah satu sisi menarik dari kisah inspiratif Muhammad bin Sirin adalah kemampuannya menjaga keseimbangan antara dunia dan akhirat. Di pagi hari, ia berada di masjid untuk mengajar dan belajar. Siang hari, ia berdagang di pasar. Malamnya, ia tenggelam dalam ibadah hingga menangis karena takut kepada Allah.

Tangisannya di malam hari sering membuat keluarga dan tetangganya terharu. Namun di siang hari, ia tampil sebagai pedagang yang jujur dan penasehat yang bijak di pasar Basrah.

Baca Juga: Kisah Tatang Asy’ari dari Lorong ke Lorong Istiqamah di Jalan Dakwah

Di tengah hiruk pikuk perdagangan, Muhammad bin Sirin kerap mengingatkan para pedagang tentang kehidupan akhirat. Ia melerai perselisihan, memberikan nasihat lembut, dan sesekali menghibur dengan cerita yang menenangkan hati tanpa mengurangi wibawanya.

Keberadaannya di pasar bahkan menjadi pengingat spiritual bagi banyak orang. Mereka yang lalai akan segera teringat kepada Allah ketika melihatnya.

Ketegasan Muhammad bin Sirin dalam membedakan halal dan haram menjadi ciri khasnya. Ia tidak pernah menggadaikan prinsip agama demi keuntungan materi.

Suatu ketika, seseorang menuduhnya berutang dua dirham. Ibnu Sirin bersumpah bahwa ia tidak berutang. Orang-orang heran, karena sebelumnya ia pernah merelakan harta 40.000 dirham yang diragukan kehalalannya tanpa protes. Ia menjelaskan bahwa sumpah itu ia lakukan agar orang tersebut tidak memakan harta yang haram.

Baca Juga: Abu Hurairah Sang Penjaga Hadits, Ahli Ibadah, dan Teladan Ramadhan

Dalam peristiwa lain, ia membeli minyak seharga 40.000 dirham secara tempo. Setelah diperiksa, ditemukan bangkai tikus di dalamnya. Ia menyadari seluruh minyak dalam bejana itu telah tercemar. Jika dikembalikan, kemungkinan akan dijual lagi kepada orang lain. Maka ia memilih membuang seluruh minyak tersebut, meski harus menanggung kerugian besar.

Akibatnya, ia terlilit utang dan dipenjara karena belum mampu melunasinya. Namun di dalam penjara pun, keteguhan prinsipnya tetap terjaga.

Keteguhan di Dalam Penjara
Selama dipenjara, penjaga merasa iba melihat ketakwaannya. Ia bahkan ditawari izin pulang pada malam hari untuk bertemu keluarga dengan syarat kembali ke penjara di pagi hari. Namun Muhammad bin Sirin menolak.

Ia berkata, “Aku tidak ingin membantumu berkhianat kepada pemerintah.”

Baca Juga: Kisah Uwais al-Qarni, Tabi’in Terbaik yang Dipuji Rasulullah

Sikap ini menunjukkan betapa tinggi integritasnya. Baginya, ketaatan pada aturan dan amanah lebih utama daripada kenyamanan pribadi.

Ketika Anas bin Malik menjelang wafat, beliau berwasiat agar Muhammad bin Sirin yang memandikan dan menyalatkannya. Saat itu Ibnu Sirin masih dipenjara. Ia hanya bersedia keluar jika mendapat izin dari orang yang ia utangi, sebab penahanannya terkait hak tersebut.

Setelah mendapatkan izin, ia melaksanakan wasiat Anas dengan penuh hormat. Selesai tugasnya, ia langsung kembali ke penjara tanpa mampir ke rumahnya terlebih dahulu.

Di hadapan penguasa Bani Umayah, Muhammad bin Sirin dikenal berani berkata benar. Ketika Gubernur Umar bin Hubairah mempertanyakan sikapnya terhadap kezaliman yang terjadi, ia menjawab dengan tegas, mengutip firman Allah tentang larangan menyembunyikan kebenaran.

Baca Juga: Sa‘id bin al-Musayyab, Sosok yang Memiliki Keteguhan Ilmu di Generasi Tabi‘in

Meski dihormati dan bahkan diberi hadiah 3000 dirham dari kas negara, ia menolak menerimanya. Alasannya sederhana namun dalam: jika ia benar orang baik, maka tidak pantas mengambilnya; jika tidak, maka lebih tidak pantas lagi. Ini adalah bentuk keteladanan ulama salaf yang menjunjung tinggi independensi dan kehormatan diri.

Majelis Muhammad bin Sirin dipenuhi nasihat dan kebijaksanaan. Ia tidak suka membicarakan keburukan orang lain. Ketika mendengar seseorang mencela Hajjaj bin Yusuf setelah wafatnya, ia menegur dengan lembut.

Ia mengingatkan bahwa setiap manusia akan mempertanggungjawabkan dirinya sendiri. Allah akan mengadili setiap kezhaliman secara adil. Karena itu, mencela orang yang telah wafat bukanlah sikap yang bijak.

Nasihatnya kepada para pedagang pun penuh hikmah: carilah rezeki yang halal, karena apa pun yang dicari dengan cara haram tidak akan melebihi takdir yang telah ditentukan Allah.

Baca Juga: Utsman bin Affan, Sibuk Ibadah Kala Ramadhan, Wafat Saat Berpuasa

Muhammad bin Sirin wafat pada usia 77 tahun. Ia meninggalkan dunia dalam keadaan ringan dari beban materi, namun kaya akan amal saleh.

Dalam sebuah riwayat mimpi yang diceritakan oleh Hafshah binti Rasyid, disebutkan bahwa Muhammad bin Sirin termasuk golongan yang diangkat derajatnya di surga bersama para ulama besar seperti Hasan al-Bashri.

Kisah hidup Muhammad bin Sirin adalah gambaran nyata tentang sosok tabi’in yang sabar, jujur, dan berprinsip. Ia bukan hanya ahli ilmu, tetapi juga teladan dalam akhlak, keberanian moral, dan kepedulian sosial.

Di tengah dunia modern yang sarat kompromi nilai, keteladanan Muhammad bin Sirin menjadi inspirasi abadi tentang bagaimana menjalani kehidupan dengan integritas, keseimbangan, dan keikhlasan. []

Baca Juga: Kemesrasaan Ali bin Abi Thalib bersama Bulan Ramadhan

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda