MUI Imbau Beli Produk Muslim

Bogor, MINA – Gerakan Buy Muslim First di Malaysia saat ini sedang marak diperbincangkan di media sosial, gerakan ini berhasil meningkatkan perekonomian pengusaha Muslim.

Gerakan tersebut merupakan upaya rakyat Malaysia khususnya Muslim dan Melayu melawan monopoli perdagangan oleh pengusaha Cina di Malaysia.

Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Didin Hafidhuddin yang menyerukan penguatan ekonomi umat merespon positif gerakan mengutamakan membeli produk Muslim tersebut.

“Sebagai Muslim, kita harus selalu berusaha memakan produk yang bersih dan halal, dan itu harus diproduksi dengan cara yang halal dan bersih oleh orang-orang yang bersih, tentunya orang-orang yang beriman,” kata Didin di Bogor, Ahad (15/9).

Dan dari aspek ekonomi, kata Didin, gerakan jual beli produk halal sesama Muslim ini akan menguatkan ekonomi umat.

“Lalu kenapa ekonomi kita sekarang ini kurang kuat, karena sebagian kita masih belum peduli bagaimana perjalanan konsumsi itu, sebagian dari kita tidak peduli dari siapapun produknya,” kata.

Padahal menurutnya, harus punya kesadaran bersama bahwa kita hanya mau mengonsumsi dari produk-produk muslim.

Ketua Umum Badan Kerjasama Pondok Pesantren Indonesia (BKsPPI) itu menjelaskan dengan mengutip sebuah hadis Nabi Muhammad SAW yang berbunyi “Kami adalah kaum yang tidak pernah mengonsumsi kecuali dari makanan orang-orang yang bertakwa.”

Terkait gerakan Buy Muslim First di Malaysia, menurut Didin, gerakan tersebut dilandasi akan kesadaran agama.

“Jadi di Malaysia kesadaran agamanya luar biasa walaupun di sana tidak terlalu banyak regulasi, tetapi dengan kesadaran dan ini dampaknya luar biasa. Membuat kelabakan mereka-mereka yang tidak memperhatikan produksi makanan halal,” ungkapnya.

Sementara itu di Indonesia, Didin menyoroti tentang beredarnya kabar bolehnya daging impor yang masuk tanpa sertifikasi halal, hal tersebut akibat kekalahan pemerintah dari tuntutan Brazil dalam sidang Badan Penyelesaian Sengketa Organisasi Perdagangan Dunia (DSB WTO).

“Kita khawatir nanti segala macam itu boleh masuk, makanya gerakan masyarakat untuk menolak yang tidak halal perlu dilakukan,” tambahnya. (L/R03/RI-1)

Mi’raj News Agency (MINA)